Abdurrahman bin Auf dan Kisah Kurma Busuk

by August 8, 2020

Salah satu sahabat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam (SAW) yang terkenal kaya adalah Abdurrahman bin Auf. Sahabat Nabi yang lahir 10 tahun setelah Tahun Gajah itu tambah tajir ketika Negeri Yaman diserang wabah penyakit.

Abdurrahman bin Auf sangat dermawan. Sahabat yang sebelum memeluk Islam, bernama asli Abdul Ka’bah atau Abd Amr ini pernah mengeluarkan 200 uqiyah emas (1 uqiyah setara 31,7475 gram) demi memenuhi kebutuhan logistik selama Perang Tabuk. Saat Nabi Muhammad SAW menyeru kepada umat Islam untuk berinfak di jalan Allah, Abdurrahman pun tanpa pikir panjang langsung menyumbangkan separuh hartanya.

Dalam hadis sahih disebutkan bahwa Nabi pernah berdoa, “Ya Allah, hidupkanlah aku dalam keadaan miskin, dan matikanlah aku dalam keadaan miskin, dan kumpulkanlah aku (pada hari kiamat) dalam rombongan orang-orang miskin”

Begitu mendengar Rasulullah bersabda bahwa orang kaya akan lebih lama menjalani perhitungan amal dibanding orang yang miskin, membuat Abdurrahman bin Auf gundah. Dia bercita-cita ingin menjadi miskin.

Tapi ia cemas karena harta kekayaannya justru semakin berlipat ganda. Ia sering berjalan mondar mandir karena gamang dan gusar. “Bagaimana caranya agar harta benda yang saya miliki habis dan tidak tersisa?” tanyanya dalam hati.

Kisah Kurma Busuk

Sesudah perang Tabuk, tumbuhan kurma siap panen yang ditinggalkan para sahabat menjadi busuk dan harganya anjlok. Kabar ini menyebar ke seantero Kota Madinah dan sampai ke telinga Abdurrahman bin Auf.

Mendengar kabar tersebut, sahabat Nabi ini melego semua harta bendanya kemudian membuat pengumuman yang isinya, “Semua penduduk kota Madinah yang buah kurmanya busuk akan dibeli sesuai dengan harga buah kurma yang normal”. Sejurus kemudian warga kota Madinah berbondong-bondong menjual kurma busuk ke tempat Abdurrahman bin Auf.

Semua kurma busuk dibeli oleh Abdurrahman bin Auf. Hartanya pun ludes tanpa sisa. Ia miskin dan hanya punya tumpukan kurma busuk. ”Alhamdulillah, doaku dikabulkan oleh Allah SWT,” pikir Abdurrahman beryukur. Para sahabat Nabi juga bersyukur. Kurma yang dikhawatirkan tidak laku, tiba-tiba laku keras! Diborong semuanya oleh Abdurrahman bin Auf.

Namun kemiskinan rupanya enggan berhinggap Abdurrahman bin Auf. Sehari kemudian, datang utusan dari negeri Yaman ke kota Madinah. Mereka menyampaikan berita tentang berjangkitnya wabah penyakit di Yaman. menurut dokter, wabah aneh tersebut akan cepat sembuh jika diobati dengan buah kurma busuk.

Utusan ini menyebar pengumuman bahwa sedang mencari buah kurma busuk yang akan digunakan sebagai obat dan akan dibeli dengan harga 10 kali lipat dari harga buah kurma di pasaran.

Warga penduduk kota Madinah yang membaca edaran pengumuman, memberitahu utusan agar lekas pergi ke rumah Abdurrahman bin Auf. “Di sanalah tempatnya buah kurma yang busuk,” kata seorang warga.

Tanpa pikir panjang, utusan raja tersebut mendatangi rumah Abdurrahman bin Auf. Mereka membeli semua kurma busuk miliknya dengan harga 10 kali lipat dari harga kurma biasa.
Abdurrahman bin Auf semakin kaya raya, karena kurma yang seharusnya tidak laku malah terjual dengan nominal yang fantastis.

Saudagar yang Dermawan

Setelah Rasulullah wafat, Abdurrahman bin Auf bertugas menjaga kesejahteraan dan keselamatan Ummahatul Mukminin (para istri Rasulullah). Dia bertanggung jawab memenuhi segala kebutuhan mereka dan mengadakan pengawalan bagi ibu-ibu mulia itu bila mereka bepergian.

Suatu ketika Abdurrahman bin Auf membeli sebidang tanah dan membagi-bagikannya kepada Bani Zuhrah, dan kepada Ummahatul Mukminin. Ketika jatah Aisyah ra disampaikan kepadanya, ia bertanya, “Siapa yang menghadiahkan tanah itu buatku?”
“Abdurrahman bin Auf,” jawab si petugas.

Aisyah berkata, “Rasulullah pernah bersabda, ‘Tidak ada orang yang kasihan kepada kalian sepeninggalku kecuali orang-orang yang sabar.”

Begitulah, doa Rasulullah bagi Abdurrahman bin Auf terkabulkan. Allah senantiasa melimpahkan berkah-Nya, sehingga ia menjadi orang terkaya di antara para sahabat. Bisnisnya terus berkembang dan maju. Semakin banyak keuntungan yang ia peroleh semakin besar pula kedermawanannya. Hartanya dinafkahkan di jalan Allah, baik secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan. Walau termasuk konglomerat besar pada masanya, namun itu tidak memengaruhi jiwanya yang dipenuhi iman dan takwa.

*Disarikan dari berbagai sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *