Ahli Bid’ah

by August 3, 2020

Pengajian songsong Ramadhan di sebuah Masjid dekat Bandara Adi Sumarmo Solo. Saya kurang familiar dengan panitia dan Jamaahnya. Namun dari suasana yang saya tangkap. Panitia dan sebagian jamaahnya tidak biasa melakukan “Bid’ah”. Sebelumnya panitia request nanti ada sesi tanya jawab setelah ceramah, saya menyanggupi sesuai kemampuan.

Ketika tanya jawab dibuka ada sekitar lima orang yang unjuk jari. Saya mempersilahkan seorang bapak muda yang kebetulan duduknya persis di depanku, beliau bertanya tentang pengertian bid’ah. Saya balik bertanya dengan halus: “Maaf, menurut yang bapak ketahui bid’ah itu apa?”

Si Bapak:”Setahu saya Tad! (aku geer dipanggil Ustad) Bid’ah adalah sesuatu yang Nabi SAW tidak memberi contoh dan itu tidak ada dalilnya”.

Sayapun membenarkan jawaban itu dan bertanya lagi: “Bagaimana hukumnya orang yang melakukan bid’ah?”

Sang bapak pun menjawab dengan tegas: “Setahu saya haram tad, masuk Neraka!”

Saya lantas bertanya kepada jamaah yang hadir: “Apakah pengajian songsong Ramadhan seperti ini ada contoh dari Rasulullah SAW dan apakah ada dalilnya?”

Karena tidak ada yang menjawab, saya komentar sendiri:”Berarti yang hadir semua ini masuk neraka!” Sebagian jamaah pada ketawa.

Kemudian saya bertanya lagi kepada Si Bapak: “Maaf, besok awal Ramadhan bapak ikut yang berdasar hisab atau ru’yah?

Jamaah sini ikut hisab Tad!” Menyesuaikan jaman dan tidak repot. Karena alat-alat sudah canggih bla bla bla”…

Kepada jamaah saya melanjutkan pertanyaan:”Maaf apakah Nabi SAW pernah menentukan awal Romadhon dengan dasar Hisab?” Tidak ada yang menjawab, saya jawab sendiri bahwa yang memakai dasar hisab akan masuk Neraka…

Lantas saya menambah penjelasan bahwa Sholat Tarawih berjamaah itu Nabi SAW tidak memberikan contoh dan tidak memerintahkan sholat Tarawih berjamaah baru ada pada masa khalifah Umar, besok yang sholat tarawih berjamaah di Masjid ini akan masuk neraka”. Jamaah yang ketawa semakin banyak

Karena nanggung agar jamaah betul-betul faham Bid’ah saya gajukan pertanyaan terakhir kepada Sang Bapak Muda yang malah kelihatan bingung…

Maaf, apakah Bapak suka mendatangi Majelis Taklim ?”

Si bapak menjawab agak nyaman:”Alhamdulillah Tad! Setiap Ahad saya ikut kajian tafsir Al-Quran di Masjid ini”.

Tidak sadar si bapak saya ajak guyon, langsung saya ngomong -Sebaiknya mulai besok ahad pagi, Bapak jangan datang, karena Rasulullah SAW tidak pernah memberi contoh dan memerintahkan ngaji tafsir setiap Ahad pagi, daripada malah masuk NERAKA!”.

Kali ini semua jamaah ikut tertawa…

Setelah itu saya persilahkan penanya berikutnya yang tadi unjuk jari ternyata semuanya diam tidak jadi bertanya. Lantas saya mengajak si bapak penanya tadi untuk berjabat tangan beserta jamaah yang duduk paling depan sekalian saya pamit meninggalkan majelis bid’ah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *