Akhlak Terpuji dan Akhlak Tercela

by September 25, 2020

Akhlaq adalah sebuah kata yang sering didengar dan sering disampaikan oleh para ahli agama. Kata ini biasa diartikan dengan tabiat, perangai, watak, atau sifat. Kata akhlak walaupun berasal dari bahasa arab, namun kata itu tidak ditemukan di dalam al-Quran. Yang ditemukan hanyalah bentuk tunggal kata tersebut, yaitu Khuluq. Seperti yang tercantum dalam al-Quran surat al Qalam ayat (68) : 4, yaitu :

وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيْمٍ ( اَلْقَلَمْ : ٦٨)

Sesungguhnya Engkau (Muhammad) berada di atas akhlak yang agung. (Qs. Al-Qalam (68) : 4)

Kata akhlak justeru banyak ditemukan di dalam hadis-hadis Nabi Muhammad Saw, dan salah satunya yang paling populer adalah sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Malik, yaitu :

ِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ ( رَوَاهُ مَالِكُ)

Aku hanya diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia. (HR. Malik)

Pertanyaannya kemudian, kira-kira apakah yang dimaksud dengan akhlak itu?, sehingga ia dianggap sebagai salah satu alasan paling kuat atas diutusnya Nabi Muhammad Saw?

Bila dilihat secara bahasa, kata akhlak berasal dari kata kholaqo, yakhluqu, khuluqon. Dan dari kata khuluqon muncul kata akhlaq. Artinya, kata akhlak berasal dari kata kholaqo, yang berarti ciptaan. Dari  kata kholaqo ini, kita menemukan dua bentuk masdarnya, yaitu kholqon dan khuluqon. Bila masdarnya kita baca kholqon, itu artinya adalah ciptaan secara badan-jasmani-fisik-material, tetapi bila pada masdarnya kita baca khuluqon atau akhlak, itu artinya ia mengandung makna ciptaan secara sukma-ruhani-non fisik-immaterial. Dengan kata lain pada setiap ciptaan Allah didalamnya sudah mengandung khuluq atau akhlak. Artinya bahwa pada diri setiap manusia pun, sudah ada akhlak masing-masing. Tinggal apakah potensi akhlak yang ada pada diri manusia ini, akan muncul akhlak terpujinya,  ataukan sebaliknya akhlak tercelanya?, semuanya dikembalikan pada manusia itu sendiri.

Menurut al-Quran, benih akhlak terpuji pada diri manusia lebih dahulu tumbuh dan berkembang dibanding benih akhlak tercela. Dalam surat al Maidah (5) ayat 27, Allah Swt. menginformasikan sejarah akhlak terpuji dan akhlaq tercela yang diperagakan oleh dua orang anak Nabi Adam As.

وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ ابْنَيْ آدَمَ بِالْحَقِّ إِذْ قَرَّبَا قُرْبَانًا فَتُقُبِّلَ مِنْ أَحَدِهِمَا وَلَمْ يُتَقَبَّلْ مِنَ الآخَرِ قَالَ لَأَقْتُلَنَّكَ قَالَ إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللهُ مِنَ الْمُتَّقِيْنَ ( المائدة : ۲۷)

Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putra Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkna korban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Qabil berkata : Aku pasti membunuhmu. Sedangkan (Habil) berkata : Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa. {QS. Al Maidah (5) : 27}

Firman Allah ini mengandung suatu penjelasan bahwa akhlaq terpuji, yaitu berkorban, lebih dahulu tumbuh dan berkembang dibanding akhlaq tercela, yaitu membunuh. Dengan demikian, kita dapat berpendapat bahwa akhlaq terpuji didalam diri setiap manusia, lebih dahulu ada dibanding akhlaq tercela. Atau kita juga dapat berpendapat bahwa didalam diri setiap manusia ada dua akhlaq berbeda yang siap tumbuh dan berkembang, yaitu akhlaq terpuji dan akhlaq tercela. Di dalam setiap diri manusia ada watak berkorban, juga watak membunuh. Ada watak jujur sekaligus watak pembohong. Ada sifat dipercaya sekaligus sifat berkhianat. Ada watak derma sekaligus watak korup. Ada watak mencintai sekaligus watak membenci. Ada sifat rela juga sifat terpaksa. Semua akhlaq terpuji dan akhlaq tercela tersebut berkumpul dalam satu titik di dalam diri manusia. Tetapi, secara naluriyah manusia lebih cenderung untuk memihak pada akhlaq terpuji.

Kecenderungan manusia pada akhlaq terpuji terbukti dari persamaan konsep-konsep pokok moral pada setiap peradaban dan zaman. Tidak ada peradaban mana pun di zaman kapan pun yang menganggap kebohongan, penipuan, keangkuhan, misalnya, sebagai akhlaq terpuji. Begitu pula tidak ada seorang manusia pun yang menganggap berbakti kepada dua orang tua, menghormati tamu, menghormati tetangga, menyantuni fakir  miskin, umpamanya, sebagai akhlaq tercela.

Bila pada setiap diri manusia terdapat akhlaq terpuji sekaligus akhlaq tercela yang masing-masing siap tumbuh dan berkembang, pertanyaan berikutnya adalah, bagaimanakah mengenali kedua akhlaq tersebut ?.

Nabi Muhammad SAW pernah memberikan nasehat yang begitu menarik untuk dijadikan pedoman dalam mengenali akhlaq terpuji dan akhlaq tercela. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Imam Ad Darimi dari sahabat Wabishoh bin Ma’bad, Rasulullah Saw pernah ditanya, dan beliau pun memberikan penjelasan :

جِئْتَ تَسْأَلُ عَنِ الْبِرِّ ؟ قُلْتُ نَعَمْ قَالَ : اِسْتَفْتِ قَلْبَكَ اَلْبِرُّ مَا اطْمَأَنَّتْ إِلَيْهِ النَّفْسُ وَاطْمَأَنَّ إِلَيْهِ الْقَلْبُ وَالْإِثْمُ مَا حَاكَ فِي النَّفْسِ وَتَرَدَّدَ فِي الصَّدْرِ وَإِنْ افْتَاكَ النَّاسُ وَافْتَوْكَ. (رَوَاهُ أَحْمَدُ وَالدَّارِمِيْ عَنْ وَابِصَةَ بْنِ مَعْبَدْ )

Engkau datang menanyakan kebaikan ? benar, wahai Rasul, jawab Wabishoh. Tanyailah hatimu !, kebajikan adalah sesuatu yang menenangkan jiwa, dan menentramkan hati. Sedangkan dosa adalah sesuatu yang mengacaukan hati, dan membingungkan dada, walaupun orang banyak telah memberi fatwa kepadamu.

Berdasarkan hadis ini, hati merupakan kata kunci dari akhlaq terpuji dan akhlaq tercela. Akhlaq terpuji adalah sesuatu yang dapat menenangkan jiwa dan menentramkan hati, sebaliknya akhlaq tercela adalah sesuatu yang membuat hati dan jiwa merasa resah dan gelisah. Dengan penjelasan sederhana ini terlihat bahwa hati adalah kata kunci atau titik sentral atas tumbuh kembangnya akhlak, baik terpuji ataupun tercela.

semoga kita semua dapat menumbuhkan benih akhlaq terpuji dan meminimalisir potensi akhlaq tercela. amin ya rabbal alamin.

Wallahu A’lam.

Penulis: Munawir Amin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *