Amar Makruf Nyambi Munkar

by August 1, 2020

Dalam sebuah Hadits Rasulullah SAW pernah bersabda: “Salah satu kebahagiaan seseorang adalah jika ia hidup di lingkungan orang-orang soleh (masyarakat yang kondusif)”. HR Ad-Dailamy.

Sebuah masyarakat yang kondusif tentu tidak hadir begitu saja, namun harus ada upaya untuk menghadirkannya yakni antara lain dengan amar makruf nahi mungkar (mengajak kebaikan dan mencezab kemungkaran) yang itu harus dilakukan secara terus menerus baik individual maupun kolegial.

Allah SWT telah menjanjikan dengan adanya amar makruf nabi mungkar sebuah kebahagiaan masyarakat yang kondusif akan terwujud. Ali-Imran 104 dan diberikannya kredit poin bahwa umat islam adalah khoiro ummatin. Umat terbaik yang pernah diciptakan-Nya. Ali Imran 110. Sebaliknya Rasulullah SAW telah memberi sinyal, bahwa jika amar makruf nahi mungkar sudah diabaikan, maka Allah akan turunkan azab siksaan yang merata dan orang berdoa tidak akan dikabulkan lagi. HR Attirmidzy.

Banyak sekali hadis tentang hal diatas yang tidak bisa semuanya ditulis di sini. Untuk selanjutnya, amar makruf nahi mungkar yang merupakan qothbul a’dhom fiddiin. Poros dan puncak tertinggi ajaran Agama itu disebut sebagai upaya dakwah atau ajakan, maka yang berkewajiban melakukannya adalah setiap individu mukmin sesuai dengan kemampuan dan kapasitas masing-masing. Dan dalam pengamalannya tentu tidak boleh ngawur asal-asalan tapi ada koridor dan etika yang harus menjadi acuan, antara lain harus dengan bil hikmah wal mau’idhotil hasanah. Dengan bijaksana nasihat yang baik disertai dialog yang santun. An-Nahl: 125.

Nabi Musa dan Harun diperintah oleh Allah SWT untuk berbicara dengan Fir’aun agar memakai kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan Fir’aun menjadi ingat dan takut. Thaha: 44. Perlu menjadi catatan, bahwa berdakwah itu tidak bisa memaksa kehendak. Tidak ada paksaan dalam agama. Al-Baqoroh 256

Dan berdakwah tidak bisa mentarget bahwa yang diajak harus nurut dan manut, Rasulullah SAW sendiri ibarat sebagai seorang aster kampiun dalam dakwah juga tidak berhasil mengajak orang yang sangat beliau cintai yakni pamannya sendiri Abu Thalib, sehingga hal ini tersurat dalam Surat Al-Qoshosh:56. Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah akan memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki Nya.

Dengan demikian, yang penting bagi pelaku dakwah ia sudah action, urusan berhasil atau tidak, itu adalah hak dari Allah SWT yang berkuasa atas segalanya. Selanjutnya tentang nahi mungkar, tidak cukup hanya berpegang pada hadis Nabi SAW: “Man roa minkum munkaron falyughoyyirhu biyadihi. Barangsiapa yang melihat kemungkaran maka rubahlah dengan tangannya dst. (HR Muslim), tapi ada beberapa persyaratan yang harus dimengerti bersama, yaitu antara lain:

Pertama: kemungkaran itu harus benar-benar masuk kategori mungkar menurut syariat yang jelas dan kredibel, bukan mungkar menurut pendapat pribadi dan golongan (dasar dalilnya jelas dan kuat).

Kedua: kemungkaran itu sudah dilakukan secara nyata, bukan atas praduga atau mencari-cari kesalahan (tajassus), misal: tidaklah benar mendobrak sebuah pintu yang tertutup hanya karena melihat di depan pintu ada sepasang sandal laki-laki dan perempuan. Ternyata yang di dalam adalah nenek-nenek ngerokin sang kakek yang lagi masuk angin.

Ketiga: sesuatu yang dianggap munkar itu adalah tanpa ikhtilaf atau perbedaan pendapat, sehingga tidaklah benar pengikut mazhab Hambali melarang pengikut mazhab Syafii dalam mengamalkan hasil ijtihadnya. Demikian pula dalam menjalankan amar makruf nahi mungkar ada tahapan yang harus dilalui yakni:

1. At-Ta’riif. Memberi pengertian, karena bisa jadi pelaku kemungkaran belum tahu bahwa yang ia lakukan adalah suatu kemungkaran.

2. An-Nahyu bil wa’dhi wattakhwiifu billah. Melarang dan mencegah dengan nasihat serta mengingatkan agar takut kepada Allah.

3. At-Ta’niif. Memberi teguran keras, disertai ancaman bila tahapan di atas tidak diindahkan.

4. At-Taghyiiru bil yadi. Mencegah dan melarang dengan tangan, power kekuatan, disinilah barangkali yang dimaksud dengan boleh “ngebom” tapi harus penuh perhitungan, selektif dan tepat sasaran.

Kemudian bagi setiap pelaku amar makruf nahi munkar sernestinya mempunyai syarat antara lain: berilmu, waro’, bisa menjaga diri, khusnul khuluqi, berperilaku baik dan ia sendiri bukan ahli maksiat. Sebab jika ada orang ahli maksiat kok melarang orang lain supaya tidak maksiat atau amar makruf nahi mungkar dengan cara yang tidak benar, itu namanya ber-amar makruf nyambi mungkar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *