Antara Meminta dan Memberi (maaf)

by July 27, 2020
مَنْ عَفَّ عِنْدَ الْقُدْرَةِ عَفَّ اللهُ عَنْهُ يَوْمَ الْعُسْرَةِ

Barangsiapa memaafkan saat dia mampu membalas maka Allah akan memberinya maaf pada hari kesulitan.

(HR. Ath-Thabrani)

Manusia sebagai makhluk sosial, selalu membutuhkan keberadaan makhluk lainnya dalam berinteraksi dalam kehidupannya. Zoon politicon, kata Aristoteles. Oleh karena interaksi manusia dilakukan setiap hari, maka sedikit banyak kemungkinan terjadi gesekan secara psikologis maupun emosional terjadi dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari jalan, di ruang kerja, tempat umum maupun di dalam lingkungan keluarga sekalipun dan tak sedikit pula diantaranya yang menyulut kemarahan maupun permusuhan. Entah dikarenakan hal yang sepele maupun hal yang besar sekalipun.

Maka ada baiknya, kita mencoba membuka lembaran catatan baru dan menutup rapat lembaran yang lalu untuk dapat melupakannya semua kesalahan yang pernah terjadi dan mencoba untuk memaafkan semuanya. Memang, kita akui lebih mudah mengucapkan daripada melakukannya. Keduanya –baik meminta ataupun memberi maaf adalah jenis pekerjaan yang sulit untuk dilakukan sehingga banyak diantara kita yang emoh melakukan pekerjaan yang satu ini. Meminta maaf membutuhkan keberanian, gengsi dan harga diri sedangkan memberi maaf memerlukan jiwa besar dan lapang dada.

Sulit rasanya mengakui kesalahan yang pernah kita perbuat kepada orang lain, malu dan gengsi bercampur-aduk ketika kita memutuskan untuk mengakui perbuatan buruk kita dihadapan orang lain. Meminta maaf berkaitan erat dengan gengsi dan harga diri. Mengakui kesalahan dan meminta maaf memberi kesan kita berada dalam posisi yang kalah dan otomatis harga diri kita juga ikut turun. Gengsi donk minta maaf sama dia!. Untuk menunjukkan kemenangan dan kebesaran diri sendiri, semua orang pasti mampu melakukannya, tapi mengakui kesalahan dan meminta maaf, tak semua orang mampu melakukannya. Apalagi bagi pelaku kejahatan –yang dianggap oleh sebagian besar kita sebagai dosa tak termaafkan, korupsi. Rasanya patut kita acungi jempol untuk mereka para pejabat yang sudah terlanjur memakan uang rakyat jika berani mengakui perbuatan yang mereka lakukan, tentunya bukan disebabkan karena karena korupsinya yang sudah diendus KPK akan tetapi juga kasus yang belum sempat diketahui oleh publik. Selama ini kasus yang terungkap hanya sebagian kecil dari banyak kasus yang belum terungkap, menunjukkan bahwa mental-mental korup telah menggerogoti Negara ini sekian lama sehingga kita hanya terbengong-bengong ketika mengetahui bahwa penyakit itu telah sedemikian akut, mungkin boleh kita katakan menghilangkannya sama dengan memusnahkan satu generasi.

Meminta maaf, walaupun sudah dilakukan, tidak serta merta dapat dihilangkan. Ia tetap saja meninggalkan bekas. Seperti ketika kita mencabut paku yang kita tancapkan di kayu, walaupun paku telah tercabut, tetap saja meninggalkan lubang. Sebanyak apapun kata maaf itu diberikan kepada kita, rasa salah tetap saja tidak akan bisa hilang begitu saja. Satu kesalahan kita kepada orang lain tidak bisa ditebus dengan kata maaf sebesar apapun. Hal ini seharusnya menjadi pelajaran untuk kita lebih menjaga sikap kita terhadap orang lain.           

Jika meminta maaf sudah sedemikian berat, memberi maaf justru lebih berat lagi. Tak mudah bagi seseorang untuk memberi pengampunan terhadap orang yang telah menyakitinya. Apalagi jika kesalahannya dianggapnya terlalu besar, maka sangat manusiawi ketika ia menginginkan orang yang dahulu menyakitinya juga ikut merasakan penderitaan yang pernah ia rasakan. Al-Qur’an sendiri mengisyaratkan bahwa kalau engkau dipukul tangannya maka balas pukul tangannya, akan tetapi jika engkau memaafkannya maka hal itu merupakan hal yang mulia (al-Baqarah:178). Hal ini menujukkan Islam sangat memperhatikan niali-nilai humanitas, merupakan hal yang manusiawi jika kejahatan dibalas dengan kejahatan. Akan tetapi tidak ada perbedaannya kita dengan mereka apabila mereka melakukan keburukan kita balas dengan keburukan juga, maka disini Islam mengajarkan bahwa memaafkannya adalah perbuatan yang mulia, dan ini nilai plusnya. Dalam sejarah, Nabi saw sendiri ketika berdakwah di daerah Thaif, beliau dilempari batu dan kotoran sehingga nabi berdarah, mendapat perlakukan seperti itu nabi tidak menaruh dendam, akan tetapi berdoa: “Ya Allah kasihanilah mereka, karena mereka tidak mengetahuinya”. Begitu juga terhadap penduduk Makkah yang dahulu mengusirnya dari kampung halaman sendiri, ketika peristiwa Fathu Makkah, Nabi saw datang dengan segala kebesarannya ke kota Makkah tidak untuk membalas dendam terhadap apa yang dahulu dilakukan penduduk Makkah terhadapnya, akan tetapi memberikan maaf dan perlindungan terhadap mereka. Kata-kata Beliau yang termasyhur: “Saudara-saudara Quraisy! Muhammad sekarang datang dengan kekuatan yang takkan dapat kamu lawan. Tetapi barangsiapa datang ke rumah Abu Sufyan orang itu selamat, barangsiapa menutup pintu rumahnya, orang itu selamat dan barangsiapa masuk ke dalam mesjid orang itu juga selamat!” Ini merupakan kisah penaklukan paling damai sepanjang sejarah manusia.    

Berdasarkan penelitian, sifat memaafkan ternyata memiliki kekuatan luar biasa yang dapat membantu proses penyembuhan suatu penyakit. Ini memang bukan hasil yang baru. sebelumnya, cara ini telah lama dilansir sistem pengobatan Timur, cuma tanpa tendensi ilmiah. Nah, penelitian ini akan kian menguatkan efektivitas itu.

Dalam penelitiannya, Herbert Benson, Presiden dari Harvard’s Mind and Body Medical Institute menemukan adanya tingkat depresi yang relatif rendah pada orang-orang yang memiliki sifat pemaaf. Pada mereka pula ditemukan rasa percaya diri tinggi dan daya tahan tubuh yang lebih kuat.

“Kemauan yang kuat untuk memaafkan kesalahan diri sendiri dan orang lain dapat mengurangi kegusaran dalam dada yang sekaligus bermanfaat untuk menghilangkan stres,” ujar Benson. Ia juga menambahkan, sifat memaafkan sangat membantu dalam upaya penyembuhan segala macam penyakit serius dalam diri kita sebesar 60 sampai 90 persen. Wah! Itulah sebabnya para dokter atau terapis selalu memberikan anjuran ‘memaafkan’ sebagai pengobatan dasar bagi para pasiennya.

Musuh dalam hidup kita, bukan terletak pada orang yang membenci kita akan tetapi terletak pada orang yang kita benci, selama masih ada orang yang kita benci maka dunia ini terasa sempit, dan kita merasa terpenjara olehnya. Untuk mencapai kebahagiaan, berikanlah maaf kepada orang lain. Hentikan kebiasaan menyalahkan orang lain. Ingatlah, kesempurnaan manusia justru terletak pada ketidaksempurnaannya. Hanya Allah-lah yang Maha Suci dan Maha Sempurna. Gerald G Jampolsky dalam bukunya Forgiveness; the Greatest Healer of All menyatakan “rela memaafkan adalah jalan terpendek menuju Tuhan”.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *