Belajar Mendengar

by August 3, 2020

Semua orang punya kemampuan untuk berbicara. Sekalipun pengetahuan terbatas tapi kalau ada kesempatan berbicara mungkin bisa sampai di luar batas. Panjang kali lebar kali tinggi kali-kali mumpung ada waktu dan kesempatan, begitu kira2 soal berbicara.

Soal berbicara ada hal yang menarik, ketika orang saling bermarahan kenapa selalu teriak?. Menurut orang bijak sejatinya orang yang sedang marah hatinya menjauh meskipun yang diajak bicara ada di hadapannya atau di sampingnya. Tetapi sebaliknya orang yang sedang jatuh cinta berbicara pasti lembut dan enak didengar, karena hati mereka saling berdekatan. Sebab itu maka berbicara dengan hati Insya Allah akan diterima dengan hati dan masuk ke dalam hati.

Pendengar yang Baik

Namun tak kalah pentingnya dari sekedar berbicara baik, adalah menjadi pendengar yang baik. Banyak yang mengatakan berbicara baik itu mudah, tapi mendengarkan dengan baik itu sulit. Nasehat itu mudah, tapi menerima nasehat itu yang sulit. Sebagaimana Imam Ghozali mengatakan dalam kitab Ayyuhal Walad “Annashiichah Sahlah, wa al-Musykilu Qobuuluhaa”. Bisa menerima nasehat berarti menjadi pendengar yang baik dengan mengalahkan ego dan hawa nafsunya.

Kita diberi karunia satu mulut dan dua telinga, agar lebih banyak mendengar daripada berbicara. Belajar mendengar lebih sulit daripada berbicara. Kita seringkali lebih suka menimpali omongan orang lain, tanpa terlebih dulu selesai mendengarkan. Kita lebih sering ngerumpi di saat guru, dosen, penceramah bicara di depan kita. Kita lebih suka meremehkan apa yang mereka katakan dan mengganggap itu kecil.

Belajar mendengarkan ialah bagian dari komunikasi karena komunikasi tidak melulu soal bicara. Belajarlah mendengarkan karena manusia juga memiliki kebutuhan dasar untuk didengarkan.

Cara Menjadi Pendengar

Khususnya dalam sebuah hubungan. Entah itu hubungan suami istri, hubungan pertemanan, dan pergaulan. Mendengar ternyata bisa menjadi pupuk yang mempererat hubungan. Seseorang akan merasa lebih dekat dengan kita, jika kita bisa menjadi pendengar yang baik. Lalu bagaimana caranya?

1. Dengarkan orang lain untuk mengumpulkan informasi. Belajarlah untuk mendengar dulu sebelum menolak dan berdebat dengan orang lain. Semakin banyak kita diam dan mendengar, semakin kita bisa mengenal seseorang itu.

2. Mendengarlah agar orang lain tahu kita menghargainya. Tidak ada hadiah yang lebih besar yang bisa kita berikan pada seseorang selain membuatnya merasa berharga karena kita mendengarkan apa yang disampaikannya. Ia akan merasa lebih berarti dan dimengerti. Ketika kita mendengar, maka rasa empati juga tumbuh. Saat mendengar, kita juga bisa belajar menilai mengapa ada perbedaan pendapat antarsatu dengan lainnya. Sehingga kita juga bisa menghargai perbedaan cara pandang itu.

3. Mendengarlah untuk membangun sebuah hubungan. Saat kita mendengar, kita belajar untuk membuka hati kita pada orang lain. Jangan mendengar untuk mendapat sesuatu, tetapi mendengarlah untuk bisa terus bersama dengan orang yang kita kasihi. Semakin kita bisa mendengar, semakin terbuka orang di sekitar kita.

4. Mendengarlah untuk bertumbuh bersama. Ketika kita belajar mendengar, bukan berarti kita berada pada posisi yang kalah. Mendengar justru membuat kita belajar bagaimana caranya untuk berbicara pada orang lain.

Belajar dari Khatib Jum’at

Menjadi pendengar yang baik juga sebenarnya kita bisa belajar dari sholat Jum’at saat Khotib naik mimbar. Ada “tanbih” peringatan dari Bilal sebelum Khotib berkhutbah, asal sholat Jum’at tidak terlambat. Perhatikan apa yang diucapkan Bilal, kurang lebih ada 3 point yaitu:

Pertama, “Anshituu” kalau bahasa jawanya “ningkelingake” artinya diam dan memperhatikan. Ketika ada orang yang berbicara untuk menjadi pendengar yang baik harus diam penuh perhatian.

Kedua, “Isma’uu” namun di masjid pondok pesantren Krapyak Yogyakarta yang digunakan lafadh “istami’uu”. Untuk kata pertama “dengarkanlah!” sedang makna yang kedua ada penekanan “Mohon Dengarkahlah!” Untuk menjadi pendengar yang baik sembari diam penuh perhatian juga harus mendengarkan dengan seksama.

Ketiga, “Athi’uu” artinya “Taatilah”, sebagaimana khutbah pada umumnya adalah isinya wasiat takwa dan nasehat2 ilmu. Tentunya khutbah yang berisi nasehat yang baik-baik bukan berisi ujuran kebencian, fitnah dan provokatif. Untuk menjadi pendengar yang baik tentunya mau menaati apa yang disampaikan. Bukan yang “Sami’na wa ‘Ashainaa” kami mendengarkan dan kami abaikan. Wal’iyaadzu Billah.

Saking pentingnya hal ini Bilal sampai mengulang tiga kali sembari mendoakan “Rahimakumullah..” Semoga Allah Merahmati Kalian. Sembari berharap “La’allakum Turchamuun” Semoga Kalian -termasuk- orang-orang yang dirahmati. Aamiin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *