Berhala Dalam Diri Kita

by July 25, 2020

Hari raya Idul Qurban atau Idul Adha segera tiba. Talbiyah dikumandangkan, disaat para tamu Allah menunaikan ibadah haji di Baitullah Makkah, sebagian kita yang belum diberikan izin untuk menyambangi Haramain merayakan idul adha yang ditandai dengan penyembelihan hewan qurban, yang merupakan tradisi yang telah lama kita lakukan sejak dahulu. 

Napak tilas nabi Ibrahim dengan Nabi Ismail secara rutin kita lakukan. Ada yang menyembelih kambing, kalangan menengah ada pula yang menyembelih sapi, mungkin bagi sebegian besar rakyat kecil, hanya cukup hanya menjadi penerima kurban saja. Agenda rutin setahun sekali ini tidak hanya sekedar menjadi momentum untuk memberi sekerat daging saja, akan tetapi diharapkan mampu mempererat tali silaturahmi dan persaudaraan antar umat Islam. Sekerat daging bisa menjadi pelipur lara sementara bagi rakyat kecil yang saat ini sedang mengalami pengurangan penghasilan ataupun efek dari pandemi. Selain itu pula, qurban harus juga dikelola dengan baik agar tidak terjadi overlap dalam pendistribusiannya, sehingga seluruh golongan yang berhak menerima qurban tersampaikan.

Mungkin alangkah lebih baiknya apabila tidak hanya sekerat daging yang diberikan akan tetapi juga bahan makanan, yang mungkin lebih tepat guna dibandingkan sekerat daging. Yang dipikirkan oleh rakyat sekarang ini adalah bagaimana bisa menyekolahkan anaknya dan bisa makan sehari-hari, tidak lebih. Mereka tidak perlu sedan mewah, tunjangan jabatan, bahkan lapangan golf. Mereka hanya ingin rasa aman dalam menjalankan kehidupan di tengah bangsa yang katanya bangsa ramah ini.

Idealnya, ritual penyembelihan qurban tidak hanya menjadi agenda rutin yang makin lama makin menjauh dari nilai subtantifnya. Qurban harus dimaknai sebagai pendekatan diri kepada Allah, sesuai dengan asal katanya (berasal dari kata qaraba yang artinya dekat), bukan sebagai lahan untuk menaikkan status social maupun politik. Awalnya Nabi Ibrahim tidak pernah diperintahkan menyembelih anaknya karena pada awalnya beliau tidak memiliki seorang putra pun untuk melanjutkan perjuangannya sebagai Nabi, oleh karena itu beliau memohon kepada Allah dengan berdoa: “rabbi habli minasssalihin” (ya Allah anugerahkananlah kepadaku seorang anak yang sholeh), al-Qur’an menyebutnya dengan istilah ‘gulamun halim’ (as-shaffat: 101) seorang anak yang sabar. Nabi Ibrahim bukan kepalang gembiranya mendapat seorang putra yang telah lama diidam-idamkannya, sehingga tak sadar rasa cintanya kepada Ismail berlebihan, melebihi cintanya kepada Allah. Bagi seorang Nabi, itu bisa berarti ‘menduakanNya’, maka Allah memerintahkan menyembelih Ismail sebagai mandat yang harus dilakukan seorang Nabi Ibrahim, sebuah perintah yang amat mustahil dilakukan oleh orang tua yang baik. Dalam sejarah, penyembelihan itu tidak terjadi. Kesungguhan untuk melaksanakan perintah Allah,  sudah cukup untuk menjadi ujian bagi ibrahim atas kecintaannya kepada Allah.

Dari kisah ini kita dapat melihat betapa besar pengorbanan Ibrahim dan Ismail. Keikhlasan berkorban sang putra, Ismail, yang dengan ketulusan luar biasa menyerahkan nyawanya demi Sang Kekasih yang sama. Dua hamba Allah telah membuktikan cinta mereka yang agung dengan pengorbanan yang agung. Anak, belahan jiwa, dan nyawa sendiri! Allahu Akbar!

Pengorbanan juga ditempuh Musa. Sekitar tahun 1.250 SM, ia bersama kabilahnya terjepit di ujung Laut Merah. Jalan lari dari Mesir ke Yerusalem melalui Sinai telah diblokade. Ramses II, sang Fir’aun, tinggal beberapa saat lagi dapat menangkap dan membunuhnya. Baru pada saat seperti itu Allah menyelamatkan mereka dan menenggelamkan Fir’aun dan pasukannya melalui fenomena gelombang Tsunami. Pengorbanan Isa putra Maryam sekitar 2.000 tahun silam tak kalah berat. Isa menggerakkan revolusi moral untuk meluruskan sikap para pemuka agama Allah.

Saat itu, mereka banyak menyelewengkan institusi agama untuk kepentingan diri sendiri. Untuk memotong gerakan moral itu, mereka berkonspirasi buat membunuh Nabi Isa. Nabi Muhammad, 14 abad silam, membalik peradaban dengan cara berkorban. Bertahun-tahun ia dimaki, diolok-olok, bahkan dilontari kotoran unta. Tiga tahun penuh ia dan pengikutnya dikucilkan di bukit berbatu di luar Makkah dan makan rumput kering.

Ia juga dikepung di rumahnya untuk dibunuh. Dalam perang Uhud, pipinya robek dan sejumlah gigi tanggal tertembus lempeng baja pelindung kepala. Para Rasul itu telah memberi teladan. Sekarang Idul Adha pun tiba. Tidakkah kita tergerak untuk bertanya apakah kita telah berkurban seperti mereka? Menyembelih kambing dan menunaikan ibadah haji hanyalah bentuk fisik dan simbolik dalam berkurban. Bukan darah dan daging kambing itu, dan bukan pula status ‘haji’, yang akan mengantarkan martabat kita ke jenjang yang layak untuk bersimpuh di haribaan Sang Khalik.

Cinta kepada Allah berada diatas segalanya. Apabila kita melakukan segala sesuatu atas dasar cinta kepada Allah maka segala sesuatunya akan bermuara pada cinta-Nya. Seorang pejabat akan mencintai rakyatnya, karena itu dapat mendekatnya kepada cintaNya, seorang atasan akan mencintai bawahannya karena hal itu akan mendekatkannya kepada cinta kepadaNya. sehingga siapapun dan apapun kedudukannya, apabila ia melakukan atas dasar cinta kepada Allah, maka segala perbuatan merupakan sarana untuk menggapai cintanya. Ia tak akan menyakiti, memfitnah, menindas, bahkan membunuh orang lain, karena hal itu menjauh dirinya dari cintaNya. Alangkah indahnya dunia ini apabila setiap orang dapat melakukan hal ini.

Akan tetapi kebanyakan kita justru terjadi sebaliknya, kita sering menduakanNya. Kita lebih mencintai hal lain ketimbang mencintai Allah. Mencintai sesuatu secara berlebihan selain kepada Allah, bisa disebut berhala. Berhala kita berbentuk uang, jabatan, nafsu, kemalasan, penipuan dan berhala-berhala lainnya yang berada dalam diri kita. Yang semakin lama menggerogoti kita, sampai kita sendiri tak ingat mana kebaikan mana keburukan, mana yang halal mana yang haram, mana yang pahala mana yang dosa, karena mata hati kita tertutup oleh berhala-berhala yang kita sembah sendiri.

Tak ada kata terlambat untuk menyadari diri sendiri, instrospeksi, maupun muhasabah. Apalagi saat momentum hari raya ini, mari kita mulai lembaran baru untuk mencoba mendekatkan diri kita, mencintaiNya dengan tanpa menduakanNya. Kita harus menyembelih berhala itu layaknya kita menyembelih hewan kurban. Allahu Akbar!!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *