Biografi KH Ali Maksum – Bagian 2

by December 11, 2016

Berguru ke Tanah Haram Makkah.

Sepulangnya ke Lasem pada tahun 1935, KH Ali Maksum membantu ayahnya mengajar di pesantren Al-Hidayah, terutama dalam disiplin ilmu bahasa arab dan Tafsir Al-Qur’an yang menjadi kegemaran dan spesialisasinya selama belajar di pesantren Tremas. Selain mengajar, KH Ali Maksum juga membenahi sistem pendidikan dan pengajaran pesantren.

Semangat pembaharuan mulai beliau tiupkan, dan ternyata mendapatkan dukungan dari berbagai pihak, karena pembaharuan yang diterapkannya sama sekali tidak mengancam keberadaan pesantren berikut segala pranatanya, melainkan justru menguatkan-nya.

Pembaharuan yang beliau lakukan tetap berpedoman pada prinsip: Al-Muhafazhatu ‘alal qadimis shalih, wal akhdzu bil jadidil ashlah, yaitu mempertahankan tradisi lama yang masih baik (layak) dan mengambil tradisi baru yang lebih baik.

Pada tahun 1938, KH Ali Maksum menikahi Rr. Hasyimah putri KHM Munawwir. Beberapa hari setelah pernikahannya, seseorang bernama H. Junaid dari Kauman Yogyakarta melalui KH Maksum menawarkan tiket gratis kepada KH Ali Maksum untuk beribadah haji.

Sebulan kemudian, KH Ali Maksum bertolak menuju Makkah lewat pelabuhan Semarang, dan kesempatan tawaran beribadah ini sekaligus digunakan untuk thalabul ilmi, mengaji kepada beberapa ulama’ besar di Makkah, diantaranya berguru kepada Sayyid Alwi Abbas Al-Maliki (ayah Sayyid DR. Muhammad Alwi Abbas Al-Maliki) untuk mengaji kitab Al-Luma’ dan lain-lain, juga berguru kepada  Syaikh Umar Hamdan untuk mengaji kitab Shahih Bukhari dan kitab hadis lainnya, serta memperluas wawasan dengan mengkaji kitab-kitab kaum modernis seperti karya Muhammad Abduh, M. Rasyid Ridha, Jalaluddin Al-Afghani, dan lain-lain.

Selama dua tahun tinggal di Makkah, berarti dua kali pula Ali Maksum menunaikan ibadah Haji. Selama itu pula, Ali Maksum berhubungan dengan para masyayikh, sesama para pelajar dan jamaah haji Indonesia. Kepada jamaah haji yang dikenalnya, ia menitipkan kitab-kitabnya untuk dibawa ke Lasem, terutama kitab-kitab baru tulisan para ulama’ pembaharu, disamping kitab-kitab yang ia tumpuk untuk dibawa sendiri pada tahun 1940.

Menjadi Pengasuh Pondok Pesantren

Sepeninggal K.H.M. Munawwir, sesuai dengan wasiat dan kesepakatan kekuarga, kepemimpinan pesantren kemudian diambil alih oleh kakak beradik, K.H.R. Abdullah Afandi Munawwir dan K.H.R. Abdul Qodir Munawwir. K.H.R. Abdullah Afandi Munawwir bertugas sebagai penanggung jawab dalam urusan sarana prasarana pesantren dan hubungan dengan luar pesantren, dan K.H.R. Abdul Qodir Munawwir bertugas sebagai penanggung jawab dalam urusan pengajaran Al-Qur’an.

Namun satu persatu santri pulang meninggalkan pesantren, dan belum genap 100 hari wafatnya, jumlah santri tinggal puluhan orang. Bersamaan dengan itu, masuknya penjajah Jepang ke Indonesia semakin memperparah kondisi pesantren, sehingga santri tinggal beberapa orang, padahal jumlah santri saat wafatnya K.H.M. Munawwir mencapai 200-an lebih. Walaupun demikian, aktifitas kepesantrenan (pengajian Al-Qur’an) tetap berjalan seperti masa-masa sebelumnya dengan jumlah santri apa adanya.

Dari fenomena ini sementara dapat disimpulkan bahwa kewibawaan dan kekharismaan K.H.M. Munawwir merupakan faktor penyebab kebesaran pesantren, dan hal ini ternyata tidak mampu diatasi oleh penggantinya selaku turunan langsung yang secara tradisional mewarisi kepemimpinan dan kharisma dari ayahnya. Kondisi ini membuat keluarga besar K.H.M. Munawwir merasa resah dan khawatir terhadap kelestarian pesantren ke depan.

Maka pada tahun 1943, musyawarah keluarga Bani Munawwir memutus-kan untuk mengirim delegasi menemui Kiai Ali (menantu K.H.M. Munawwir), yang saat itu telah berhasil membenahi sistem pendidikan pesantren ayahnya di Lasem dan mampu mendongkrak jumlah santri, agar bersedia diajak ”hijrah” ke Krapyak untuk mengatasi krisis tersebut. Namun ajakan ini ditolak tegas oleh Kiai Ali Maksum.

Beberapa bulan kemudian, datang lagi utusan ke Lasem. Kali ini yang datang adalah Nyai Sukis sendiri (isteri K.H.M. Munawwir, ibu mertua Kiai Ali) dengan didampingi K.H.R. Abdullah Afandi Munawwir, yang mengharap dengan sangat agar Kiai Ali bersedia diboyong ke Krapyak. Akhirnya kekerasan hati Kiai Ali luluh dan menerima ajakan itu. Sejak kepindahan Kiai Ali ke Krapyak ini (1943), pesantren Al-Munawwir di bawah kepemimpinan ”tiga serangkai” dengan pembagian tugas sebagai berikut :

1). K.H.R. Abdullah Affandi (putra, wafat 1968), dengan tugas sebagai pimpinan umum, menangani urusan sarana-prasarana dan hubungan dengan dunia luar pesantren

2). K.H.R. Abdul Qadir (putra, wafat 1961)), dengan tugas sebagai pengasuh Tahfizh Al-Qur’an dan urusan intern pesantren

3). K.H. Ali Maksum (menantu), sebagai penanggung jawab urusan pengajaran kitab-kitab kuning dan pembenahan sistem pendidikannya.

Dari ketiga pemimpin tersebut, Kiai Ali merupakan orang yang memiliki kelebihan. Disamping keahlian, kedalaman dan keluasan wawasan di bidang keilmuan, juga dipandang lebih mumpuni, lebih dewasa, lebih berpengalaman dan lebih siap memimpin pesantren.

Dengan bermodalkan pengalaman dan potensi yang dimiliki selama menjadi santri di pesantren  Tremas dan membenahi pesantren ayahnya di Lasem, serta tugas berat ”amanah” yang dibebankan kepadanya tersebut, Kiai Ali mulai mencurahkan segala tenaga dan pikirannya untuk mencari titik-titik lemah yang menjadi sumber kemunduran beserta jalan keluarnya, kemudian menetapkan beberapa langkah strategis, diantaranya:

1) Perlunya kaderisasi ulama / tenaga pengajar inti dari dalam pesantren.

2) Perlunya pengembangan sistem pendidikan-pengajaran dan kurikulum pesantren.

Selama dua tahun pertama (antara tahun 1943 – 1944), aktifitas  secara intensif difokuskan pada usaha kaderisasi ulama, tenaga pengajar dan pengelola dari lingkungan keluarga pesantren, dengan melibatkan seluruh putra dan menantu K.H.M. Munawwir, serta tetangga. Sedangkan aktifitas kepesantrenan (pengajaran Al-Qur’an) dan penerimaan santri dari luar untuk sementara dibekukan.

Peserta yang mengikuti pengkaderan terdiri dari : KHR Abdul Qodir Munawwir (pengasuh), KH Zaini Munawwir,  KH Zainal Abidin Munawwir, KH Ahmad Munawwir,  KH Dalhar Munawwir, KH A. Warson Munawwir, KH Nawawi Abdul Aziz (menantu), KH Mufid Mas’ud (menantu), KH Habib Dimyati (Tremas), H. Wardan Junaid (Kauman Yogyakarta), Abdul Hamid (tetangga, Krapyak), dan KH. Zuhdi Dahlan (tetangga, Jogokaryan).

Murid-murid pertama ini tidak mengecewakan dan tidak satupun diantara mereka yang “melorot” (kendur) semangatnya, padahal mereka harus mengikuti pengajian berbagai macam kitab kuning dengan sistem halaqah/weton dan sorogan, sejak sehabis sholat subuh sampai pukul 21.00 secara nonstop, kecuali sekedar waktu untuk shalat dan makan, dan disiplin yang diterapkan betul-betul sangat ketat, terutama yang diterapkan kepada peserta ahlul bait (keluarga pesantren).

Hasilnya, seluruh peserta kaderisasi memiliki kesiapan dalam segala hal untuk bersama-sama mengelola, memajukan dan mengembangkan pesantren. Mereka menjalankan tugas, wewenang, dan aktifitas sesuai dengan bidang keahliannya masing-masing. Maka dalam jangka waktu yang relatif singkat, pesantren Al-Munawwir selama dalam kepengasuhan Kiai Ali mengalami perkembangan pesat setahap demi setahap. Hal ini ditandai dengan :

  1. A) Berkembangnya sistem pendidikan yang tidak lagi dipusatkan pada pengajaran Al-Qur’an, akan tetapi juga pada kajian kitab kuning, yang keduanya dapat berjalan secara seimbang, sehingga menjadi aktifitas utama sekaligus menjadi ciri khas pesantren.
  2. B) Berdirinya lembaga-lembaga pendidikan formal/klasikal dalam bentuk madrasah, meliputi :
  • 1) Madrasah Ibtidaiyah putra 4 tahun (1946);
  • 2) Madrasah Tsanawiyah Putra 3 tahun (1947) dan SMP Eksakta Alam  (1951-1954);
  • 3) Madrasah Banat (1951);
  • 4) Madrasah Aliyah Salafiyah putra 3 tahun (1955);
  • 5)  Madrasatul Huffazh (1955);
  • 6) TK (1957);
  • 7)  Madrasah Diniyah (1960);
  • 8) Tsanawiyah 6 tahun (1962-1986);
  • 9) MTs dan Aliyah 3 tahun (1987);
  1. C) semakin bervariasi (santri takhassus, santri kalong, sekolah didalam dan diluar pesantren) dan meningkatnya jumlah santri yang tertarik belajar di pesantren Krapyak;
  2. D) semakin terkenalnya nama pesantren di tingkat Nasional dan dunia internasional, terutama di negara-negara Timur Tengah, apalagi semenjak Kiai Ali menjadi Rois ’Am (1981-1984) dan menjadi tuan rumah Muktamar NU ke-28 (1989), kepopuleran dan peran pesantren Al-Munawwir diperhitungkan oleh berbagai pihak.

Disebabkan oleh perannya yang begitu besar sebagai motivator, dinamisator, katalisator, inspirator (penggagas) kaderisasi ulama dalam kepemimpinan pesantren, dan sebagai power bagi komunitas yang dipimpinnya, serta sebagai sumber pengetahuan, maka dari sudut ini, Kiai Ali dapat dipandang sebagai sesepuh Krapyak, sekaligus sebagai pembangun pesantren yang sebelumnya telah dirintis dan didirikan oleh K.H.M. Munawwir.

Pengabdiannya di Jam’iyyah NU

Di sela-sela kesibukannya sebagai pengajar dan pengasuh pesantren Al-Munawwir Krapyak, Kiai Ali sejak masa-masa awal sudah simpatik terhadap jam’iyyah NU. Terutama sekitar tahun 1950-an ketika suhu politik memanas akibat semakin nyaringnya suara kaum nahdhiyyin untuk keluar dari Masyumi, dan terealisir ketika Muktamar di Palembang tahun 1952 yang memutuskan NU keluar dari Masyumi dan mendirikan partai “NU” sendiri.

Untuk menghadapi Pemilu pertama tahun 1955, Kiai Ali mulai aktif berkampanye untuk partai NU dengan cara tidak langsung turun ke lapangan sebagai jurkam, melainkan lewat pendidikan kader kepada para santri Krapyak dan melalui pembicaraan non formal dengan para tamu yang sowan ke rumahnya. Hasilnya, Partai NU memperoleh suara terbanyak rangking ketiga setelah PNI dan PKI. Dari Pemilu tersebut, Kiai Ali akhirnya terpilih menjadi anggota konstituante yang mewakili NU Yogyakarta.

Pada tahun 1960-an, tatkala PKI tengah gencar memusuhi kaum muslimin dan mengancam para kiai, Kiai Ali justru diminta menjadi Rois Syuriyah PWNU propinsi D.I.Yogyakarta secara terus menerus sampai beliau dikukuhkan sebagai Rois ‘Am PBNU menggantikan posisi KH Bisri Syansuri yang wafat, melalui Munas Alim Ulama NU di Kaliurang Sleman Yogyakarta, 30 Agustus – 2 September 1981.

Kiai Ali sebenarnya kurang tertarik dengan dunia politik praktis dan menolak keras ketika dicalonkan sebagai Rois ‘Am. Berulang kali Kiyai Ali mengatakan, “Demi Allah, jangan dipilih”, mengingat dorongan yang sangat kuat dari banyak kiyai, terutama pendapat KH Ahmad Shiddiq di forum Munas:

“Saya tidak melihat seorang pun yang lebih cocok untuk menjadi Rois Am daripada KH Ali Maksum”, dan ternyata kemudian disetujui oleh farum Munas secara aklamasi, maka dengan rasa berat Kiai Ali mau menerimanya dengan syarat hanya satu kali periode kepengurusan sampai diadakannya Muktamar ke-27 tahun 1984.

Sambil menangis, dan juga diikuti tangisan haru para kiai, Kiai Ali memberikan kata sambutan dengan bahasa arab yang fasih, yang intinya menyatakan bahwa beliau bukanlah orang yang terbaik, bila selama memimpin terlihat bengkok agar diluruskan bahkan beliau siap dicampakkan atau dipecat.

Setelah Muktamar ke-27 di Situbondo, Kiyai Ali ditempatkan sebagai salah satu anggota Mustasyar PBNU bersama-sama dengan KHR As’ad Syamsul Arifin, KH DR. Idham Cholid, KH Mahrus Ali, dll.

Sifat Kepribadian KH Ali Maksum

Banyak sifat-sifat kepribadian Kiai Ali yang dapat dijadikan sebagai suri teladan terutama bagi para santri, dan sekaligus mempengaruhi tipologi kepemimpinannya di PP Al-Munawwir, diantaranya adalah istiqomah mengajarkan kitab kuning. Sekalipun kesibukan beliau bertumpuk-tumpuk, seperti sebagai seorang muballigh, dosen di IAIN dan pengurus NU (Rois ‘Am) yang sering keluar kota,  beliau jarang sekali meninggalkan pengajian dan sorogan yang menjadi rutinitasnya sehari-hari, kecuali dalam kondisi yang sangat mendesak, terutama di akhir hayatnya yang sering sakit-sakitan.

Kiai Ali berpola hidup sederhana, zuhud, tidak terkesan hidup mewah, dan tampil apa adanya. Hal ini ditunjukkan oleh kondisi pakaiannya, tempat tinggal, kendaraan dan makanannya yang sangat sederhana, tidak terkesan mewah, bahkan bisa dikatakan tidak layak untuk ukuran dan statusnya sebagai seorang Kiai besar.

Keseriusan usahanya dalam pengembangan pesantren seperti pembiayaan pembelian tanah untuk perluasan lokasi pesantren, pengadaan bangunan, fasilitas pesantren dan kegiatan-kegiatan keagamaan (konsumsi majlis taklim, dll), baik dengan dana pribadi maupun dana sumbangan dari berbagai pihak, semua itu menunjukkan sikap kezuhudannya.

Pembawaan Kiai Ali yang tenang, santun dan mengesankan, wataknya yang arif dan bijaksana, serta sifatnya yang lemah lembut, grapyak (mudah menyapa, mudah bergaul) dengan siapa saja yang ditemui, tutur katanya yang manis, serta raut wajahnya yang selalu ceria dan semringah dengan hiasan senyuman yang khas,  menyebabkan beliau disukai oleh siapa saja. Demikian pula sikap beliau yang tawadhu’, tidak suka dihormati secara berlebihan apalagi dikultuskan, suka memaafkan kesalahan orang,, serta jauh dari sifat pendendam dan dengki, menyebabkan beliau selalu dihormati dan disegani.

Pergaulan KH Ali dengan para santri

Kiai Ali sangat dekat hubungannya dengan para santri, dan begitu pula sebaliknya. Kiai Ali hampir hapal semua nama santri, tempat tinggalnya di lokasi pesantren, nama orang tuanya dan asal usul daerahnya. Di hadapan para santri, Kiai Ali bukanlah sosok yang menakutkan. Pada umumnya, para santri merasa takut dan lari atau bersembunyi ketika bertemu dengan kiai, akan tetapi tidak demikian terhadap Kiai Ali.

Hubungan Kiai Ali dengan santri seperti layaknya hubungan bapak dengan anak. Kedekatan hubungan ini ditunjukkan oleh kesukaannya bercanda dan bergurau dengan para santrinya, baik secara individu maupun secara jamaah di pengajian. Kalaupun ada santri yang lari atau takut ketika berhadapan Kiai Ali, mereka justru akan dipanggil, baik secara langsung maupun lewat microphone untuk sekedar diajak ngobrol sambil mendengarkan lagu-lagu kesayangannya atau menonton TV, diajak jalan-jalan keliling pondok sambil mengambili sampah-sampah kering (kertas, plastik dan dedaunan), disuruh memijatnya,  disuruh menyapu atau membersihkan kamar pribadinya atau halaman rumahnya, dan lain-lain, sehingga mereka tidak lagi merasa takut dan terasa begitu dekat dengan Kiai Ali.

Kiai Ali sangat rajin mendatangi kamar-kamar santri dan membangunkan mereka untuk diajak shalat subuh berjamaah. Terhadap santri yang dipandang malas dan bandel berjamaah tarawih setiap datangnya bulan Ramadhan, Kiai Ali mengadakan “Tarawih Panggilan” di kediamannya dan diimami sendiri. Ini bukan berarti memberi kesempatan atau peluang untuk bandel, akan tetapi mendidik mereka bahwa dengan sering dipanggilnya mereka, maka lama kelamaan mereka akan sadar dan malu dengan sendirinya.

Demikian pula kedekatan Kiai Ali terhadap para alumninya, yang ditunjukkan oleh seringnya beliau menitipkan salam kepada alumni lewat para tamu, wali santri, atau santri yang kebetulan kenal dan dekat tempat tinggalnya dengan alumni tersebut. Bahkan Kiai Ali sering mampir ke rumah alumni di tengah perjalanannya ke luar kota. Terutama setiap ada event Haul KH Munawwir, para alumni selalu dikirimi undangan untuk menghadiri haul tersebut.  Dari sini dapat dikatakan bahwa kedekatan hubungan santri dengan Kiai tetap berlanjut sampai menjadi alumni.

Kiai Ali sangat peduli terhadap kebersihan lingkungan pondok. Beliau sering berjalan-jalan sambil mengelilingi pondok. Begitu melihat lingkungan yang kotor dengan berbagai jenis sampah, langsung saja memanggil santri yang ada di situ, terutama para santri yang tidak ikut sorogan untuk diperintah mengambili sampah-sampah tersebut dengan tangannya, karena beliau memang sangat “titen” (ingat, dan teliti) pada santri yang ikut dan yang tidak ikut sorogan. Bahkan terkadang beliau sendiri yang mengambilinya. Selain itu, beliau juga sangat peduli dengan kondisi suatu bangunan yang rusak, kumuh, atau yang tidak layak huni, langsung saja beliau mengerahkan, memimpin dan mengawasi para santri untuk kerja bakti.

Kiai Ali merupakan tipe seorang Kiai yang memiliki semangat autodidak yang tinggi. Bagi Kiai Ali, pameo “Belajar sendiri tanpa guru (misalnya mengkaji sendiri kitab yang belum pernah dingaji-kan), maka gurunya adalah syetan” dipandangnya salah kaprah dan tidak berlaku lagi. Pameo itu sebenarnya hanya berlaku khusus pada murid thariqat yang sangat membutuhkan bimbingan spiritual seorang mursyid dalam mendalami ilmu-ilmu haqiqat.

Sebab, jika ilmu hakekat didalami sendiri tanpa bimbingan guru terkadang justru dapat menyesatkannya. Berbeda kondisinya dengan para santri yang mendalami ilmu-ilmu syari’at, bahwa kitab-kitab yang dikaji tersebut justru dipandang sebagai guru yang terbaik. tidak pernah berbohong, paling sabar dan tidak pernah marah. Artinya, kitab-kitab tersebut berbicara dengan bahasa tulis apa adanya, terbuka untuk dikoreksi dan dikritik. Berbeda dengan guru manusia yang suka menutupi kekurangannya dan menonjolkan kelebihannya.

Pandangan inilah yang melandasi Kiai Ali memiliki semangat otodidak tinggi, berwawasan luas dan dalam, serta berpandangan moderat. Bahkan pandangannya ini sering kali dilontarkan kepada para santri di tengah memberikan pengajian, sehingga mampu mendorong para santri untuk memiliki semangat otodidak yang tinggi seperti yang dimiliki oleh Kiai Ali.

Kiai-Kiai yang seangkatan dengan beliau atau yang lebih sepuh lagi, dan juga kalangan intelektual muda mengakui keluasan ilmunya. Beliau adalah ulama ahli tafsir, hadis, fiqih, bahasa Arab beserta ilmu alatnya, dan berbagai disiplin ilmu lainnya, serta menguasai berbagai macam kitab, baik yang menjadi rujukan ulama tradisional maupun ulama modernis. Bahkan penguasaannya terhadap kitab-kitab rujukan ulama modernis tersebut (seperti karya Ibnu Taimiyah, Ibnu Qayyim, Sayyid Quthub, Hassan Al-Bana, Muhammad Abduh dan lain-lain) justru melebihi dari para ulama kelompok modernis itu sendiri. Julukan “Munjid Berjalan” oleh masyarakat untuk Kiai Ali Maksum menujukkan keluasan bidang keilmuan yang dikuasainya.

Di kalangan inetelektual muslim dan dunia kampus, Kiai Ali adalah seorang dosen dan guru besar ilmu tafsir di IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang benar-benar ahli di bidangnya dan berpandangan luas. Karena keahliannya itu pada tahun 1962, Kiai Ali bersama-sama dengan Prof. KH Anwar Musyaddad, Prof. DR. Muhtar Yahya, Prof. Hasbi Assiddiqi dan lain-lain ditunjuk oleh Menteri Agama RI sebagai anggota tim Lembaga Penyelenggara Penterjemahan Kitab Suci Al-Qur’an yang diketuai oleh Prof. R.H.A. Sunaryo, SH (Rektor IAIN Sunan Kalijaga ketika itu).

Meskipun dekat dengan kalangan akademisi dan intelektual, KH Ali tetap istiqomah mengajarkan kitab kuning kepada para santri Krapyak, dan hampir  tidak ada waktu jeda untuk memberikan pengajian umum/ceramah agama kepada masyarakat, baik di pedesaan, didalam kota maupun luar kota Yogyakarta.

Kiai Ali dikenal luas sebagai tokoh modernis NU, yang menjadi motor penggerak terjadinya perubahan dan pembaharuan di tubuh NU melalui sepak terjang generasi muda NU pasca Muktamar Situbondo. Kiai Ali memandang perlu agar kaum muda terutama yang memiliki pemikiran progresif dan semangat pembaharuan diberi kesempatan untuk memimpin NU ke depan.

Persinggungannya dengan kaum modernis nampak terlihat antara lain dari cara Kiai Ali mengupas berbagai masalah keagamaan dalam setiap pengajiannya, yang sering diperbandingkan dengan pandangan ulama pembaharu. Jiwa pembaharuan, keluasan ilmunya dan pandangannya yang moderat tidak lepas dari pengalaman masa lalunya di pesantren Tremas yang sangat gemar mengkaji berbagai jenis kitab karangan para ulama salaf dan ulama’ pembaharu, ide-idenya yang segar demi kemajuan pesantren mampu mendorong terjadinya pembaharuan sistem pendidikan di Tremas.

Bahkan dalam banyak hal pandangan Kiai Ali sejalan dengan pandangan kaum pembaharu, diantaranya seperti masalah mencari ilmu yang harus diperoleh melalui belajar (Innamal ‘ilmu bit-ta’allum) dan didukung dengan makanan yang bergizi untuk meningkatkan kecerdasan, bukan dengan mengandalkan semangat pencarian melalui laku spiritual (laduni), wirid, perilaku ngrowot dan lelakon nyeleneh lainnya. Oleh karena itu Kiai Ali hampir tidak pernah mengajak santrinya hidup prihatin atau tirakat dengan menjauhi makanan tidak bergizi, selain ibadah puasa sunnah yang disyari’atkan.

Latar belakang kehidupan keilmuan Kiai Ali yang dinamis, berwawasan yang sangat luas, dalam dan moderat, dengan dukungan referensi yang multidisipliner, serta memiliki semangat otodidak yang tinggi tersebut, sedikit banyak tentu mempengaruhi pendidikan dan pengajaran yang diberikannya kepada para santri.

Para santri alumni didikan Kiyai Ali antara lain: Prof.DR.KH A Mukti Ali (Guru Besar Fak Usuluddin IAIN Yogya, mantan Menteri Agama RI), KH A. Mustofa Bisri (Rembang), KHM Cholil Bisri (Rembang), KH Maksum Ahmad (tanggulangin Sidoarjo : Pengasuh pesantren dan muballigh), KH A. Masduqi Mahfudh (Malang, mantan Rois Syuriyah PWNU Jatim) KH Abdul Aziz Masyhuri (Jombang: Pengasuh pesantren), KH A. Asrori Usman Al-Ishaqi (PP Al-Fithroh Sby, Mursyid Thoriqat Qadiriyah-Naqsyabandiyah), KH Abdurrahman Ar-Roisi (Jakarta: penulis dan muballigh), KH Masdar Farid Mas’udi, Drs. H. Slamet Efendi Yusuf,  Prof.DR. KH Said Agiel Siroj, MA, KH Drs. Muhd. Hasbullah SH, KH Drs. Masyhuri AU, Prof. DR. Yudian Wahyudi, KH Zainal Abdin Munawwir (Pengasuh pesantren), KH Ahmad Warson Munawwir (Pengasuh pesantren, penulis Kamus Al-Munawwir), KH Drs, Asyhari Abta, M.Pd.I, KH Munawwir AF, KH Drs. Henry Sutopo,  KH Drs, Asyahri Marzuki, Lc., KH DR. Malik Madani, MA.,  Drs. H. As’ad Said Ali (mantan Waka BIN, Waketum PBNU), dan lain-lain.

Wafatnya KH Ali Maksum

Ketika dilangsungkan Muktamar NU ke-28 di pesantren Al-Munawwir Krapyak, sebenarnya beliau sudah sakit sejak beberapa saat sebelumnya. Meskipun demikian, sebagai tuan rumah yang bertanggung jawab atas sukses dan tidaknya Muktamar, beliau masih sempat mengkomando panitia pelaksana yang sebagian besar adalah santrinya lewat mick speaker dari kamarnya.

Ketika Presiden Soeharto dan beberapa menteri serta para kiai peserta muktamar menjenguknya, Kiai Ali juga masih sempat menerima mereka dengan berbaring di kamarnya.

Walhasil, Muktamar dapat berjalan dengan sukses, dengan mengantarkan kembali KH Ahmad Shiddiq sebagai Rois ‘Am dan KH Abdurahman Wahid sebagai Ketua Umum PBNU untuk periode yang kedua kalinya. Seminggu setelah Muktamar, KH Ali Maksum jatuh sakit dan dirawat di RS DR Sardjito selama seminggu, kemudian wafat ketika adzan Maghrib berkumandang pada pukul 17,55 WIB di hari Kamis malam Jum’at, tanggal 7 Desember / 15 Jumadil Awwal 1989 dalam usia 74 tahun.

Jenazahnya dilepas dari Masjid Pesantren Krapyak setelah shalat Jum’at dan dikebumikan berdampingan dengan makam KHM Munawwir di dusun Senggotan (Dongkelan) Tirtonirmolo Kasihan Bantul Yogyakarta.
Makam KH Ali Maksum di Dongkelan Yogya, tanpa batu nisan

Beliau wafat dengan meninggalkan seorang isteri, Nyai Hj. Rr. Hasyimah Munawwir dan 8 orang putra-putri :

1) Adib (wft masih kecil),
2) KH Atabik Ali,
3) H. Jirjis Ali,
4) Nyai Hj. Siti Hanifah Ali,
5) Nyai Hj. Durroh Nafisah Ali,
6) Nafi’ah (wafat masih kecil),
7) M. Rifqi Ali (Gus Kelik)

6 Comments

Rosenheck

I tried copying your new code into the function and the pagination control disappeared completely. Primarily what the problem is with the existing pagination function is that it increments the paged=x in the url but never redirects to that page.

Reply
Voxana

Can you please provide further support around implementing the wp-pagination plugin?

Thank you.

Reply
Rosenheck

Hey I think there’s a little error in there.

$showitems = ($range * 2)+1;
should be
$showitems = $range +1;

I might be wrong, but this is what worked for me.

Very nice post tho!

Thanks a lot!

Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *