Bu Tejo dan Tradisi Tilik

by August 25, 2020

Bu Tejo dan tradisi Tilik menjadi trending topik di media massa, media sosial, dan kehidupan sehari-hari. Film pendek berdurasi 32 menit mampu membawa penonton tertawa dan menikmati setiap dialog yang ada. Meski menggunakan bahasa Jawa, penonton masih bisa menikmati terjemahan dalam bahasa Indonesia yang ditulis dengan jelas.

Arti Kata Tilik

Tilik adalah tradisi yang sudah ada sejak zaman dulu. Arti kata tilik adalah bertandang, melihat atau menjenguk. Maksudnya menengok orang yang sedang sakit secara beramai-ramai. Biasanya warga desa rombongan mengunjungi orang yang sakit.

Setiap desa di Bantul, mengenal tradisi ini. Mungkin di daerah lain juga ada. Di Bantul, sudah lazim tilik menggunakan kendaraan truk atau kendaraan bak terbuka. Kalau di desaku, Kwatangan, zaman aku remaja dulu, menggunakan sepeda onthel. Kami saling boncengan atau naik sendiri.

Lokasi desaku yang tidak jauh dari Kota Bantul, membuat masyarakat desaku memilih menggunakan sepeda onthel. Kalau sekarang, menggunakan sepeda motor atau mobil, khusus yang sudah tua atau tidak punya sepeda motor.

Filosofi Tilik

Tilik mengajarkan rasa empati kepada orang yang sakit atau tertimpa musibah. Di desa, hal seperti ini lumrah adanya. Warga desa dengan cepat akan mengumpulkan uang untuk iuran tilik. Begitu juga dengan ongkos yang digunakan untuk tilik. Kisaran iurannya pun sangat ringan. Nominal iuran biasanya berdasarkan kesepakatan rapat RT atau RW.

Di desa, kegiatan tilik ini sangat dinanti karena bisa jalan-jalan ke kota melihat perubahan pembangunan Kota Yogyakarta. Pulang dari tilik, biasanya mampir ke pasar atau pusat perbelanjaan. Namun, ada juga yang langsung pulang, kalau tiliknya hanya di wilayah Bantul. Maklum, Bantul kan tidak ada mal seperti di Kota Yogyakarta.

Pelajaran dari Film Tilik

Lakon yang dibawakan oleh Bu Tejo memang apik. Dalam film itu terlihat banget, ajang tilik bisa menjadi ghibah massal. Apalagi ada yang menjadi pusat dari pembicaraan (Bu Tejo). Perempuan itu mampu membuat semua penumpang truk fokus kepadanya.

Pelajaran yang bisa diambil dari film Tilik adalah

Kebersamaan

Semua orang bersama-sama naik truk. Susah dan senang dinikmati. Termasuk obrolan dan mabuk. Sebagian orang memang memilih truk atau kendaraan terbuka karena takut muntah. Harap dimaklumi banyak warga yang tidak memiliki kendaraan bermotor. Bu Tejo dan tradisi tilik tidak bisa dipisahkan.

Empati Kepada yang Sakit

Kepedulian terhadap orang lain adalah ciri khas masyarakat desa. Tanpa disuruh, warga dengan cepat berkumpul dan menengok yang sakit. Bahkan ketika tidak punya uang untuk iuran. Warga akan tetap berangkat menjenguk yang sakit.

Selalu Cek Kebenaran Berita

Film ini dibuat saat berita tidak benar sedang beredar luas. Muatan ini terlihat dalam obrolan di truk. Mengecek berita yang beredar memang harus terus dilakukan agar tidak terjebak oleh opini yang salah. Bu Tejo memang menggunakan gawai untuk mengecek berita. Namun, tetap harus disaring dan tidak langsung dibagikan kepada masyarakat.

Cek berita ini juga sesuai dengan ajaran Al-Qur’an surat Al-Hujurat ayat 6 yang memerintahkan untuk tabayyun terhadap sebuah berita yang datang.

Perempuan itu Kuat, Tangguh, dan Luar Biasa

Sosok perempuan kuat memang terlihat di film ini. Semua pemain film adalah perempuan, kecuali Gotrek sang sopir. Mereka mau naik truk dan menempuh perjalanan jauh ke kota demi memengok bu lurah. Lagi-lagi, yang disebut adalah perempuan.

Secara kebetulan, penulis, sutradara, dan produser memiliki ibu yang sudah menjadi janda sehingga wajar jika film ini mengangkat sisi perempuan banget. Terlepas dari dialog dari Bu Tejo yang julid dan nyinyir, single parent memang topik yang laris manis untuk dijadikan bahan gosip.

Jadilah Perempuan yang Solutif

Ketika bu lurah tidak bisa ditengok, Bu Tejo langsung mengambil solusi untuk pergi ke Pasar Gede (Pasar Beringharjo) agar para ibu bisa belanja sekalian cuci mata. Jadi, ketika satu masalah mentok, jangan putus asa. Pasti ada jalan bagi yang mau.

Tradisi Tilik harus terus dilestarikan. Kebersamaan antar warga yang tidak tertulis, tetapi mempunyai dampak yang luar biasa. Bagi yang sakit merasa dimanusiakan dan disayang oleh semua warga desa. Penjenguk juga senang karena bisa membantu yang sakit dengan doa dan bantuan ala kadarnya.

Menjenguk orang sakit juga termasuk mengamalkan hadis Nabi Muhammmad Saw.. Jadi, mau ikut tilik? Monggo!

Tags: , , ,

5 posts

Alumni Krapyak; penulis Restu, Melodi Cinta, Diary of Umrah, For Aceh with Love, dan 154 antologi. Buku yang best seller adalah Dalam Dekapan Mukjizat Al-Qur’an, Jejak Cinta, dan The Most Bleoved Man. Perempuan penyuka travelling ini juga menjadi content writer, Kepala Divisi Buku Ibu-ibu Doyan Nulis (IIDN), Pengasuh #SabtuPUEBI IIDN, trainer menulis, mentor Speechnotes, mentor puisi, editor, dan blogger. Founder Nderes Literasi dan Sehari Satu Paragraf

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *