Cinta Berbalut Taqwa

by December 15, 2019

Ada yang berbeda dari hari ini, dibandingkan hari-hari kemarin. Terutama bagi Angga, dan beberapa murid di kelas sebelas empat. Angga yang biasanya datang ke sekolah menjelang bel berbunyi, kini datang lebih pagi. Bukan karena hari ini pelajaran Bu Kapang, Guru Biologi yang galaknya terkenal sampai seantero sekolah ini. Dari penjaga sekolah sampai tukang mie ayam, tahu benar siapa beliau. Beliau yang tahun kemarin mendapat predikat the most killing teacher versi Yadi dan kawan-kawannya. Yadi memang suka melakukan penelitian rutin. Tahun kemarin, dia membuat penelitian siapa guru terkiller di sekolah ini. Tahun sekarang dia berencana membuat penelitian siapa murid yang paling berpengaruh di sekolah ini. Ikut-ikutan Michael Hart, yang menulis buku 100 orang yang paling berpengaruh di dunia. Hanya bedanya, kalau Michael Hart adalah penelitiannya berdasarkan data yang valid, sedangkan Yadi and the friend melakukan penelitian dengan metodologi ngawur research alias asal-asalan. Dia memang konyol, sekonyol kelakuannya.

Bu Kapang sendiri terkenal gara-gara Yadi, beliau tidak ada hubungan apapun dengan salah satu nama kota di Indonesia, tidak juga ada kaitannya dengan spesies hewan tertentu. Yadi yang pertama kali mempopulerkan istilah Kapang, untuk guru setengah baya itu. Nama lengkapnya Eka Pangestu, disingkat Kapang. Supaya lebih akrab, katanya. Bukannya keakraban yang Yadi dapatkan, justru ia mendapat hadiah jeweran di kuping sebelah kanan, yang membuat kupingnya seperti elf, makhluk dalam film Lord of the Ring. Hal ini terjadi setelah Bu Eka tahu, dialah yang menjadi biang keladi sebutan barunya itu. Walaupun sudah mendapat hukuman jewer dan tugas merangkum fisika berlembar-lembar, toh tetap saja julukan itu sudah menyebar ke seluruh sekolah.

Pagi ini, Angga berangkat pagi-pagi. Biasanya tidak pernah ia sarapan di rumah, bukan karena Ibunya tidak membuatkan sarapan, akan tetapi, ia selalu bangun kesiangan. Angga tidak sempat mencicipi nasi goreng special buatan ibunya, mungkin juga jatah nasi gorengnya telah berpindah ke perut adiknya, Aldo. Adik laki-lakinya yang suka memanfaatkan barang-barang sisa yang masih bernilai guna, termasuk nasi gorengnya, hehe. Khusus hari ini, nasi goreng made in mommy, ia dapatkan setelah berjuang melawan rasa kantuknya. Berebutan ngantri mandi dengan Aldo. Dan tentu saja, semuanya ia lakukan supaya dapat datang ke sekolah pagi-pagi.

Lima belas menit sebelum bel, Angga sudah sampai di sekolah. Baru kali ia dapat berdamai dengan penjaga gerbang sekolah. Hari-hari sebelumnya, ia biasa berdebat dengan Pak Pandi. Bahan perdebatannya selalu sama, Angga selalu berpendapat bahwa jarum jam  tangan Pak Pandi terlalu cepat, dan Pak Pandi tidak setuju kalau jarum jamnya selalu dianggap terlalu cepat oleh Angga. Keyakinan Pak Pandilah yang membuat Angga selalu menunggu pintu gerbang dibuka sebelum ia dapat masuk kelas. Itu pun setelah Angga menceritakan kronologi mengapa ia bisa terlambat, supaya Pak Pandi membukakan pintu gerbang untuknya.

“Hari ini macet, kemaren mobilnya mogok, besok alasan apa lagi?”. Tanya Pak Pandi suatu hari, sambil menahan geram, kesal melihat Angga lagi, Angga lagi, yang selalu telat sampai ke sekolah. Tapi hari ini, Angga bisa memasang senyum di depan Pak Pandi sambil melangkah kaki lebar-lebar.

Setelah ia masuk kelas, ia baru menyadari bahwa ia kalah cepat sepersekian detik. Salwa Hidayatul Chasanah, murid yang baru tiga hari pindah ke sekolah ini terlihat sedang duduk di kursi favoritnya sambil membaca buku. Pemandangan pagi ini sebenarnya cukup indah, andai saja tidak ada Yadi yang berusaha mencari keakraban dengan Salwa. Yadi menenteng buku tebal, novel sepertinya. Mencoba memberi anggapan kepada Salwa bahwa ia pun suka membaca buku, seperti Salwa.

“Suka baca buku juga ya?, sama dong kayak aku”. Ujar Yadi sambil menunjukkan buku ke hadapan Salwa. Buku beratus-ratus halaman ia pegang, cukup tebal, setebal pedenya pagi itu.

Salwa melirik Yadi, tersenyum tanpa berkata-kata. Senyum sederhana yang membuat Yadi terbang ke angkasa, seandainya ruangan kelas ini tidak memiliki atap.

“Buku ini bagus. Aku sudah selesai membacanya. Kisahnya romantis loh”.

“Oh ya? Setahuku novel Da Vinci Code, adalah novel bergenre thriller, bukan kisah cinta. Pada saat kemunculannya, novel itu menuai kontroversi di Amerika dan Eropa”. Jelas Salwa. Penjelasan yang membuat Yadi terdiam untuk sesaat. Sebelum mukanya memerah bak kepiting rebus, entah karena malu, entah karena menahan buang air.

Angga tertawa melihatnya. Tapi ia segera menutup mulutnya dengan telapak tangan. Takut bila Yadi melihatnya, bahwa ia sedang menertawakannya.

Yes, rasain! Sok tahu sih, Angga riang gembira di dalam hati.

Walaupun Angga belum tahu kepastiannya nasibnya berakhir serupa atau berakhir indah, tapi paling tidak pesaing untuk mendapatkan perhatian Salwa sudah berkurang satu orang. Sebenarnya sih Yadi tidak ia anggap sebagai pesaing, ia lebih ia anggap sebagai penggembira saja. Bagaimana tidak? Salwa Hidayatul Chasanah, gadis berjilbab, pintar, tutur kata yang lemah lembut, sopan santun yang tidak diragukan lagi, memiliki paras yang cantik. Apalagi jika sedang tersenyum, alamak! Bisa membuat laki-laki klepek-klepek. Angga tidak berlebihan, karena bukan ia saja yang tertarik pada Salwa, tapi beberapa siswa di kelasnya pun begitu. Ia dapat melihatnya, walau mereka tidak mengutarakan langsung, kecuali Yadi tentunya. Yadi memang dikenal sebagai makhluk yang urat malunya sudah hampir putus. Beberapa kali ia mengutarakannya cinta kepada siswi-siswi ke sekolah ini. Beberapa kali nembak, beberapa kali  juga ia ditolak, dan tidak pernah kapok untuk mencobanya lagi.  Kali ini kepada Salwa, murid yang cukup menyedot perhatian di kelasku.

Tak perlu analisis mendalam, Angga tahu bahwa gadis seperti Salwa tidak akan tertarik pada laki-laki semacam Yadi. Cowok konyol campur slengean, dengan prestasi sekolah yang biasa-biasa saja. Nilai Yadi tidak sebaik Angga, walaupun sebenarnya nilai Angga pun tidak bagus-bagus amat. Setidaknya ia tidak pernah mendapat remedial, tidak seperti Yadi yang berlangganan remedial setiap sehabis ulangan.

Angga harus memutar otak, cara apa yang harus ia gunakan untuk mendapatkan perhatian Salwa. Tidak hanya pintar tapi juga religius. Salwa aktif di kegiatan Rohis di sekolahnya. Bila Angga sering berkunjung ke kantin sekolah, Ia banyak menghabiskan waktu di musholla sekolah berdiskusi dengan anak-anak rohis. Kadang ia memberikan pengarahan untuk rekan-rekan rohis mengenai kegiatan PHBI.

Aku akan melihat dulu saja, Pikir Angga. Bagaimana teman-teman kelasnya berupaya untuk mendapatkan Salwa, ia yakin menaklukan gadis seperti Salwa tidak mudah, memerlukan perencanaan yang tepat.  Berbekal kegemarannya menonton film Mission Imposibble, Angga berlagak seperti Ethan Hunt, seorang agen yang ditugaskan misi tertentu oleh pemerintah Amerika. Tapi kali ini ia bertugas untuk mengetahui setiap kegiatan Salwa, ketika di sekolah maupun di rumah. Apa kegemarannya, mulai dari buku yang ia baca sampai makanan favoritnya.

Untuk sementara ia ikut ekskul Rohis, untuk dapat lebih dekat dengan Salwa. Beberapa teman-teman ada yang meledek.

“Tumben Angga aktif di rohis, sudah insyaf ya? Hehe…”

“Rohisnya atau aktivis yang ada di rohis kali, …”. Ledekannya makin menjurus.

Angga hanya tersenyum, ia yakin rencananya bakal berhasil. Tidak seperti Aris, Amri, Rendi dan yang lainnya. Ditolak secara halus oleh Salwa, ketika mereka mengutarakan ingin menjalin kedekatan dengan Salwa.

“Aku disini hanya ingin serius sekolah saja, tidak untuk yang lainnya”.

“Aku tidak ingin pacaran, aku ingin langsung menikah saja”.

Itu beberapa kalimat yang dialami oleh teman-teman Angga, sebelum mereka sepakat bahwa Salwa adalah seorang gadis yang dingin terhadap laki-laki. Sudah tiga bulan sekolah disini, tapi belum ada yang berhasil menaklukan hatinya. Upaya yang Angga lakukan selama ini, tidak berhasil banyak. Tapi cukup untuk agen amatiran seperti Angga. Ia sudah mendapatkan alamat rumah, dan beberapa kebiasaannya.

“Salwa, ke kantin yuk, aku yang traktir”. Ajak Angga saat pulang sekolah setelah kegiatan rohis di sekolah.

“Maaf Angga, aku sedang berpuasa”.

“Puasa apa?”

“Puasa Senin-Kamis”. Ujarnya sambil tersenyum. Senyum yang membuat malamnya akhir-akhir ini terganggu. Itu ajakan pertama Angga, yang mendapat penolakan. Angga tidak mungkin untuk mengajaknya pulang bareng. Karena ia dan Salwa berbeda arah. Salwa pasti menolak kalau ia tahu ada orang yang ingin mengantarnya pulang, dengan tujuan hanya ingin mendapat perhatiannya.

Angga hanya ingin bersama Salwa saja tidak lebih. Angga merasa nyaman bila berada di dekat Salwa. Senyumnya teduh, seperti musafir yang mendapat mata air di tengah gurun pasir. Cukup untuk menghilangkan dahaganya, cukup untuk menebus lelahnya perjalanan yang ditempuh. Andai saja Salwa tahu apa yang aku rasakan, Angga berandai-andai dalam hati.

Akhir-akhir ini ia cukup tersiksa. Kadang rindu itu datang disela-sela waktu, membuncah, menelisik di relung hati yang paling dalam. Senyumnya kadang hadir tanpa permisi di saat malam menjelang. Angga tidak berani mengungkapkannya, ia takut bila Salwa menjauhinya ketika ia mengungkapkan perasaannya. Baru pertama kali, ia memiliki perasaan ini. Sebelumnya, pernah ia menyukai Diana. Kembang sekolah disini, akan tetapi perlahan kemudian perasaan itu hilang ditelan waktu. Akan tetapi yang ini beda. Ini perasaan spesial untuk gadis yang istimewa.

Dengan mengikuti kegiatan rohis, membuat Angga hampir selalu bertemu dengan Salwa, karena ia tidak pernah absen mengikuti kegiatan itu. Kalau di kelas, Angga tidak akan mendapat kesempatan ngobrol sedikit pun, karena Salwa sibuk melayani para penggemarnya. Ada yang bertanya ini, ada yang bertanya itu. Dari sekedar minta rumus fisika sampai minta peer matematika. Dan terutama, ia bukanlah tipikal cowo yang pandai mencari perhatian seperti Yadi.

“Senyumnya itu lho, adem dilihat”. Ujar Yadi kepada Mila, ketika ia menanyakan mengapa Yadi suka dengan Salwa.

“Tidak seperti kamu Mil, senyummu bikin aku gerah”. Yadi berkelakar sekenanya, membuat wajah Mila kusut seperti pakaian yang belum disetrika. Angga tertawa melihat mereka kejar-kejar bak adegan Tom and Jerry yang sering ia lihat di televisi.

*   *   *

Pagi-pagi buta Angga bangun, sebelum subuh bahkan. Angga menunaikan solat Tahajud sebelum akhirnya ia pergi ke musholla dekat rumahnya, untuk menunaikan solat subuh berjamaah. Sepulang dari musholla, Ibunya terdiam mematung. Terpana seolah belum percaya dengan apa yang ia lihat. Angga hanya tersenyum, sambil mencium telapak tangan ibunya kemudian masuk kamar.

Hari ini, sebelum kelulusan tiba, Angga bertekad akan menyampaikan perasaan yang selama ini ia pendam. Apapun resikonya, Angga berpikir bahwa inilah kesempatan terakhirnya sebelum mereka berpisah. Melanjutkan sekolah ke jenjang Universitas.

“Salwa, aku ingin berbicara dengan kamu”.

“Iya, ada apa?”.

“Aku ingin sekali menjadi teman dekatmu, Salwa”.

“Bukankah kita sekarang sudah menjadi teman”.

“Aku ingin menjadi teman yang lebih dekat, …emm”. Angga terdiam sejenak

“Ke..ka.. sih.. maksudku”. Suaranya lirih campur terbata-bata.

“Bukankah lebih baik menjadi teman, daripada menjadi kekasih?”

“Teman selamanya akan menjadi teman, sedangkan kekasih suatu saat akan berpisah”.

“Aku ingin menjadi kekasihmu selamanya, perasaan ini bukan perasaan yang biasa. Perasaan ini tulus untukmu. Tahukah kamu? Kehadiranmu banyak membuat perubahan buatku. Aku yang dulu malas, kini rajin. Aku yang dulu tidak tertarik untuk belajar agama, kini aku rajin mengikuti pengajian, semua itu karena kamu, Salwa. Aku mencintaimu,…”

“Simpan cintamu baik-baik. Sebaiknya semua yang kamu lakukan, diniatkan ikhlas karena Allah, bukan karena aku. Kalau memang, perasaanmu adalah perasaan yang tulus ikhlas. Cukuplah Allah yang memberi pahala atasmu. Bila Allah berkenan, maka tidak ada yang harus kamu khawatirkan.”

“Selama ini, aku memutuskan tidak akan menjalin kasih dengan siapapun. Sebelum ada laki-laki yang datang melamarku. Walaupun secara manusiawi, aku juga memiliki perasaan. Aku tidak ingin rasa cintaku terhadap laki-laki, akan melampaui rasa cintaku kepada Allah.”

Jawaban Salwa benar-benar menusuk. Bukan penolakan yang Angga rasakan, akan tetapi pencerahan hati. Hatinya kini terasa lebih terang. Langkahnya lebih ringan.

Salwa Hidayatul Chasanah memang sesosok gadis istimewa. Oleh karena itu pula, Angga memutuskan untuk melanjutkan pendidikannya di Pondok Pesantren Lirboyo Kediri.

Kelak, aku akan datang menjemputmu, Salwa. Tekad Angga sudah bulat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *