Cinta Tanah Air Dalam Islam

by August 20, 2020

Sebagaimana umur, rejeki, jodoh dan kematian, kita tidak bisa memilih di mana kita dilahirkan dan bertempat tinggal. Ketika Nabi Adam dan Siti Hawa diturunkan dari surga, mereka berkeliling berkelana di bumi mencari satu sama lain. Nabi Adam berangkat dari Sarandib –India-, dan Siti Hawa berangkat dari Jeddah, hingga pada akhirnya bertemu di Arafah. 

Perjalanan beliau berdua dari surga turun ke bumi lalu menetap di dalamnya adalah sesuai dengan kehendak, perintah dan ketetapan Allah SWT, sebagaimana firman-Nya. 

Dan Kami berfirman, “Turunlah kamu! Sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain. Dan bagi kamu ada tempat tinggal dan kesenangan di bumi sampai waktu yang ditentukan.” (QS Al-Baqarah : 36). 

Maka demikianlah, dan anak keturunan Nabi Adam juga menjalani takdir serupa. Sebagaimana tersebut dalam firman-Nya :

Dan Dialah yang menciptakan kamu dari diri yang satu (Adam), maka (bagimu) ada tempat menetap dan tempat simpanan. Sesungguhnya telah Kami jelaskan tanda-tanda (kebesaran Kami) kepada orang-orang yang mengetahui. (QS Al-An’am : 98)

Kendati Nabi Adam dan Hawa sebelum turun ke bumi hidup dalam kenikmatan yang tiada tara di surga, namun ketika tinggal dan hidup bumi, semuanya (hewan-hewan, tetumbuhan, pepohonan dan lain-lain) ditundukan oleh Allah kepada pasangan penghuni pertama bumi ini dan keturunannya. Akhirnya tumbuhlah rasa cinta mereka kepada kehidupan baru dan mereka-pun menikmatinya. Sebagaimana disinyalir dalam Al-Qur’an surah Al-A’raf : 24

 (Allah) berfirman, “Turunlah kamu! Kamu akan saling bermusuhan satu sama lain. Bumi adalah tempat kediaman dan kesenanganmu sampai waktu yang telah ditentukan.”

Sampai di sini bisa dipahami bahwa di mana kita lahir dan bertempat tinggal, atau dalam istilah modern kita menjadi warga negara apa adalah takdir yang sudah ditentukan oleh Allah dan harus kita jalani. 

Cinta tanah air adalah fitrah

Meski dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, tanah air diartikan negeri tempat kelahiran. Tapi kalau kita merujuk pada lagu patriontik yang digubah oleh KH. Abdul Wahad Hasbullah, tanah air dialihbahasakan menjadi wathan dalam Ya Lal Wathon. Kata  wathan dalam Bahasa Arab, sebagaimana tersebut dalam Mu’jam Maqayis Al-Lughah karya Ibn Faris, dimaknai tempat di mana orang tinggal. Pemaknaan ini diamini oleh Al-Jauhari dalam Tajul Lughah wa Shihahul Arabiyyah, juga Ibn Manzhur dalam Lisanul Arab. Tapi tentu saja ini adalah pemaknaan secara leksikal, tapi menjadi lebih umum, sebagaimana disinyalir dalam lagu Mbah Wahab, dengan arti tempat di mana orang tinggal di dalamnya, membelanya, mencintai dan memakmurkannya. 

Secara spesifik, kata wathan (tanah air) tidak tersebut di dalam Al-Qur’an, pun perintah atau isyarat akan cinta kepadanya. Akan tetapi Al-Qur’an justru menyoroti hal-hal yang lebih detail yang menjadi bagian tak terpisahkan dari tanah air.

Jika tanah air atau secara simplisit disebut negara, terdiri dari tiga komponen yakni tanah, kumpulan manusia dan kesepakatan untuk tinggal bersama, maka Al-Qur’an membahas ketiga-tiganya. Pun penjelasan tentang cinta kepadanya, 

Allah SWT berfirman : Katakanlah, “Jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, istri-istrimu, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perdagangan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, lebih kamu cintai dari pada Allah dan Rasul-Nya serta berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah memberikan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik. (QS At-Taubah : 24)

Mari kita lihat, dalam ayat ini ada komponen-komponen dalam tanah air yang disebut secara jelas dan operasional meski dengan term yang lain, yakni bapak (orang tua, leluhur, founding father, nenek moyang), anak-anak (keturunan, generasi sesudah kita), saudara (sejawat, rekan) istri, keluarga (golongan, klan, suku), harta kekayaan, rumah tempat tinggal. Komponen-komponen itu tidak lain dan tidak bukan adalah komponen tanah air dan negeri. 

Ayat ini tidak menegasikan apalagi melarang manusia untuk mencintai komponen-komponen tanah air. Sebab ia adalah fitrah manusia dan agama Islam berdiri di atas fitrah. Ayat tersebut mengarahkan manusia agar dalam mencintai hal-hal yang terkait dengan dunia dilakukan dengan proporsional, tidak berlebihan dan tidak menahan diri. Lebih dari itu, kecintaan kepada hal-hal keduniawian, termasuk di dalamnya yang berkaitan dengan tanah air, harus atas dasar cinta kepada Allah dan Rasul-Nya. 

Terkait dengan kecintaan manusia akan tanah air dan negerinya Allah SWT berfirman, mengisahkan kaum Bani Israil yang diperintahkan untuk berperang :

“Mengapa kami tidak akan berperang di jalan Allah, sedangkan kami telah diusir dari kampung halaman kami dan (dipisahkan dari) anak-anak kami?” (QS Al-Baqarah : 246)

Kita perhatikan ayat tersebut, betapa manusia bersedia untuk mengorbankan jiwa ketika kampung halaman dan keluarga mereka diganggu oleh pihak lain bahkan terjadi perpisahan. Itu tidak lain adalah karena dorongan fitrah dalam diri mereka. 

Karena kecintaan manusia yang fitri kepada tanah air dan negeri mereka,  maka Al-Qur’an menyebutkan bahwa terusir dari kampung halaman, tanah air adalah suatu yang menyakitkan dan ditakuti. Sebagaimana firman-Nya:

Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi, hanyalah mereka dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan bertimbal balik, atau dibuang dari negeri (tempat kediamannya). (QS Al-Maidah :33),

Hukuman pengusiran dari tanah air juga diberlakukan kepada Bani Israil ketika melanggar perintah Allah, sebagaimana firman-Nya:

Allah berfirman: “(Jika demikian), maka sesungguhnya negeri itu diharamkan atas mereka selama empat puluh tahun, (selama itu) mereka akan berputar-putar kebingungan di bumi (padang Tiih) itu. ” (QS Al-Ma’idah 5:26).

Terlepas bahwa apa yang dilakukan oleh Bani Israil adalah kesalahan, sekarang ini mereka dengan paksa menguasai tanah Palestina karena anggapan bahwa tanah itu adalah milik nenek moyang mereka, tanah air mereka. 

Wujud cinta tanah air

Ketika cinta tanah air adalah cinta yang fitri maka peran agama-lah yang meluruskan, memberi rambu-rambu supaya tidak melenceng. Pada ayat di atas (QS At-Taubah : 24), Allah menerangkan bahwa cinta terhadap komponen-komponen tanah air dan negeri tidak boleh melebihi cinta kepada Allah dan Rasul-Nya. Dengan kata lain harus berlandaskan cinta dan keimanan kepada Allah dan Rasul-Nya.

Inilah yang dengan tegas dinyatakan oleh Mbah Wahab dalam lagu Ya Lal wathon, di mana di dalamnya ada diksi hubbul wathon minal iman (cinta tanah air adalah bagian dari iman). Artinya dengan beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, mengikuti ajaran-ajaran-Nya maka akan menumbuhkan cinta kepada tanah air. apalagi ketika itu diperintahkan atau mendapatkan apresiasi yang tinggi dalam agama. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW :

Barang siapa meninggal karena membela hartanya maka dia mati syahid. Barang siapa meninggal karena membela keluarganya maka dia mati syahid. Barang siapa meninggal karena karena membela agamanya maka dia mati syahid. 

Landasan keimanan kepada Allah dan Rasul-Nya dalam hal perjuangan dan pengorbanan kepada tanah air, di samping bisa mengantarkan orang-orang yang berkorban sebagai syahid juga supaya ketika ada satu atau dua alasan duniawi yang muncul, tidak menjadikan gugur kesyahidan orang tersebut.  

Sebagaimana hadis yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dari Atho Al-Khurrasani bahwasannya ada seseorang yang bertanya kepada Rasulullah SAW mengenai Bani Salamah yang berperang dan mati. Di antara mereka ada yang berperang karena dunia, gelar kemuliaan ada pula yang murni karena Allah SWT, siapa di antara mereka yang mati syahid?. Rasulullah SAW bersabda, “Semuanya mati syahid, jika niat awal mereka adalah untuk mengagungkan kalimah Allah (Islam)”. 

Bentuk lain dari wujud cinta pada negeri adalah mendoakan kemakmuran negeri. Sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim A.S yang diabadikan oleh Al-Qur’an

Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berdoa, “Ya Tuhanku, jadikanlah (negeri Mekah) ini negeri yang aman dan berilah rezeki berupa buah-buahan kepada penduduknya, yaitu di antara mereka yang beriman kepada Allah dan hari kemudian,” Dia (Allah) berfirman, “Dan kepada orang yang kafir akan Aku beri kesenangan sementara, kemudian akan Aku paksa dia ke dalam azab neraka dan itulah seburuk-buruk tempat kembali.” (QS Al-Baqarah : 126).

Doa ini ditengadahkan oleh Nabi Ibrahim untuk negeri di mana keluarganya tinggal, yakni Mekkah. Kemakmuran yang dipohonkan oleh Nabi Ibrahim tidak hanya terbatas kepada keluarganya tapi kepada seluruh penduduk yang tinggal di dalamnya. Dan ketika beliau hanya memohon untuk orang-orang yang beriman kepada Allah, sebagai bentuk tawadhu’, justru Allah menambahi bahwa yang diberi kemakmuran adalah semua penduduk, baik mukmin maupun kafir. Seakan-akan ini menegaskan bahwa kemakmuran yang hanya dinikmati oleh satu segmen masyarakat, meski itu orang-orang beriman, maka tidak akan tercapai kemakmuran dan kesejahteraan hakiki. Cinta pada negeri, berjuang untuk negeri artinya untuk semuanya, tidak boleh membatasi satu segmen dari segmen lain dari masyarakat. 

Rasulullah SAW bersabda, “Tidak beriman orang yang malam hari tidur dalam keadaan kenyang sementara tetangganya kelaparan”. 

Keumuman tetangga dalam hadis ini (tanpa diberi keterangan mukmin atau bukan) juga praktik yang dilakukan oleh Nabi yang tetap memperlakukan dengan baik tetangga beliau yang non muslim menunjukkan bahwa perbuatan baik yang harus dilakukan di sini adalah karena alasan tempat, negeri tempat kita tinggal, bukan karena alasan yang lain. Inilah wujud yang nyata dari cinta tanah air. Kendati perbuatan baik bisa dilakukan kepada siapapun dan di manapun, tapi agama mengajarkan agar memprioritaskan orang-orang yang tinggal di mana kita juga tinggal, orang-orang yang menghirup udara yang sama dengan kita, orang-orang yang menikmati hangatnya sinar matahari yang sama dengan kita. 

Nilai kesepakatan

Tinggal bersama di suatu daerah tentu saja mengharuskan adanya kesepakatan-kesepakatan yang dibuat demi meraih hidup yang harmoni. Dan ketika kesepakatan itu dibuat maka keberkahan akan dilimpahkan oleh Allah SWT. Sebagaimana firman-Nya dalam hadis qudsi :

Aku adalah pihak ketiga dari dua orang yang melakukan persekutuan (kesepakatan baik) selama salah satu pihak tidak mengkhianati yang lain. Jika ada yang khianat maka Aku akan keluar dari mereka”. 

Al-Munawi dalam At-Taisir bi Syarh Al-Jami’ Ash-Shaghir, menerangkan bahwa keterlibatan Allah di situ adalah dalam bentuk pertolongan dan keberkahan persekutuan dan kesepakatan. Sedangkan makna Allah keluar di situ adalah tidak ada lagi keberkahan dalam persekutuan itu. Sehingga akan terjadi perselisihan, pertengkaran dan sebagainya. 

Dalam hadis lain, Nabi Muhammad SAW bersabda, “Barang siapa memisahkan diri dari kelompoknya maka dia akan mati seperti mati jahiliyah. Barang siapa yang melanggar perjanjian dan meninggal dalam keadaan melanggar perjanjian, maka pada hari kiamat dia datang tidak mempunyai pembelaan sama sekali (pasti dihukumi salah dan berdosa)”. 

Dalam kehidupan berumah tangga, bermasyarakat, berkelompok, berbangsa barangkali ada hal-hal yang tidak menguntungkan kita. Itu adalah ujian yang tidak kemudian disikapi dengan keluar dari kesepakatan. Tapi justru untuk menunjukkan seberapa besar kesetiaan kita pada kesepakatan itu dan seberapa besar perjuangan yang pengorbanan yang telah kita berikan. Allah SWT dalam surah Al-Baqarah ayat 246-251 menceritakan bagaimana Bani Israel setelah mangkatnya Nabi Musa A.S, meminta kepada nabi mereka agar diberikan raja yang memimpin mereka dalam membela negeri. Setelah raja ditentukan dan dipilih, yakni Raja Talut dan peperangan dimulai sebagian besar meraka mengkhinati kesepatan itu. Akhir cerita kemenangan ada pada Raja Talut dan sisa pasukannya dengan sosok menonjol di dalamnya yakni pemuda Dawud (nabi Allah A.S), sementara mereka yang berkhianat akhirnya gigit jari. 

Cerita ini, di samping memberi pelajaran untuk setia pada kesepakatan, sabar dalam ujian, teguh dalam pendirian juga mensinyalir perlunya pemimpin di suatu wilayah, di luar kepelomimpinan nabi, yang mengatur urusan-urusan dunia. Dan yang lebih penting dari itu, rakyat harus mentaatinya

Dr.  M. Syaifuddin, Dosen Universitas Wahid Hasyim

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *