Demi Hidup, Tidak Perlu Bunuh Diri

by July 25, 2020

Maraknya fenomena bunuh diri di Indonesia akhir-akhir ini disebabkan jutaan warga Indonesia yang mengalami depresi. Badan kesehatan dunia World Health Organization (WHO) bahkan memprediksi, depresi akan menjadi penyakit dengan angka kasus tertinggi kedua, setelah penyakit jantung. Berbagai faktor dituding sebagai penyebabnya. Diantaranya adalah factor ekonomi dan hubungan sosial antara manusia. Menurut Hamdi Muluk, psikolog dari Universitas Indonesia, biasanya orang bunuh diri karena merasa sudah tidak ada orang lain yang peduli kepadanya. Karena itu, peran lingkungan dan keluarga sangat penting untuk mencegah terjadinya aksi bunuh diri. Jangan sampai orang yang sudah terhimpit beban ekonomi, justru dijauhi atau dikucilkan.

Hingga tahun 2012, diketahui ada 9.106 orang di Indonesia yang meninggal dunia akibat bunuh diri. Sebelumnya, pada periode 1990-2016, jumlahnya sebanyak 8.580 jiwa. Jumlah kematian akibat bunuh diri di Indonesia, diprediksi merupakan yang tertinggi di Asia Tenggara.

Bunuh diri secara umum merupa­kan salah satu tindakan pribadi dan personal, akan tetapi hal itu bisa dipengaruhi oleh faktor sosial. Sehingga dapat terjadi kenapa suatu kelompok masyarakat memiliki angka bunuh diri lebih tinggi dibanding kelompok masyarakat yang lain. Faktor psikologis ataupun biologis mungkin bisa men­jelaskan kenapa sebagian individu dalam kelompok melakukan bunuh diri, akan tetapi fakta sosial memiliki kemungkinan untuk menjelaskan kenapa suatu kelompok memiliki angka bunuh diri yang lebih tinggi dari yang lain.

Menurut Durkheim (1951), ada dua cara yang saling berhubungan untuk mengeva­luasi angka bunuh diri. Cara pertama adalah dengan membandingkan suatu tipe masyarakat atau kelompok dengan tipe yang lain. Cara kedua yaitu melihat per­ubahan angka bunuh diri dalam sebuah kelompok dalam suatu rentang waktu. Dalam kasus yang lain, baik antar budaya maupun sejarah, logika argumen ini pada dasarnya tetap sama. Jika ada perbedaan dalam angka bunuh diri antara satu kelompok dengan kelompok yang lain atau dari satu periode dengan periode yang lain, maka menurut Durkheim perbedaan tersebut adalah akibat dari perbedaan faktor-faktor sosial, ringkasnya, arus sosial. Durkheim mengakui bahwa setiap individu mungkin punya alasan sendiri-sendiri kenapa dia bunuh diri, tetapi alasan tersebut bukanlah yang sebenarnya: “Alasan-alasan itu mungkin bisa dikatakan menunjukkan titik-titik kelemahan individu bersangkutan, yang menjadi tempat masuk termudah bagi arus yang ada di luar dirinya yang mengandung dorongan­dorongan untuk menghancurkan diri sendiri. Akan tetapi alasan-alasan itu bukan­lah bagian dari arus ini dan konsekuensinya tidak bisa kita pakai untuk memahami­nya”

Empat Jenis Bunuh Diri

Emile Durkheim, seorang sosiolog perancis, dalam bukunya Suicide, mengelompokkan bunuh diri berdasarkan dua fakta sosial utamanya. –integrasi dan regulasi (Pope, 1976), Integrasi merujuk pada kuat tidaknya keterikatan dengan masyarakat. Regulasi merujuk pada tingkat paksaan eksternal dirasakan individu. Menurut Durkheim, dua arus sosial tersebut adalah variabel yang saling berkaitan dan angka bunuh diri meningkat ketika salah satu arus menurun dan yang lain meningkat

Menurut Durkheim ada empat jenis bunuh diri, Jika integrasi yang meningkat, Durkheim menge­lompokkannya jadi bunuh diri altruistic. jika integrasi yang menurun, akibatnya adalah peningkatan bunuh diri egoistis. Bunuh diri fatalistic berkaitan dengan regulasi yang tinggi, sementara bunuh diri anomik adalah rendahnya regulasi.

Bunuh Diri Egoistik. Tingginya angka bunuh dan egoistis dapat ditemukan dalam masyarakat atau kelompok di mana individu tidak berinteraksi dengan baik dalam unit sosial yang luas. Lemahnya integrasi ini melahirkan perasaan bahwa individu bukan bagian dari masyarakat dan masyarakat bukan pula bagian dari individu. Bagian paling baik dari manusia –moralitas, nilai, dan tujuan kita– berasal dari masyarakat. Sebuah masyarakat yang padu akan memberi kita semua ini, dan dukungan moral umum bagi kita agar kuat melalui keterpurukan dan kekecewaan kecil sehari-hari. Tanpa ini, besar kemungkinan kita akan bunuh diri ketika mengalami frustrasi yang paling kecil sekalipun.

Bunuh Diri Altruistik. Tipe bunuh diri kedua yang dibahas Durkheim adalah bunuh diri altruistis. Kalau bunuh diri egoistis terjadi ketika integrasi sosial mele­mah, bunuh diri altruistic terjadi ketika “integrasi sosial sangat kuat” (Durkheim, 1897/1951: 217). Secara harfiah, dapat dikatakan individu terpaksa melakukan bunuh diri.

Salah satu contoh paling tepat untuk bunuh diri altruistik adalah bunuh diri massal dari pengikut Pendeta Jim Jones di Jonestown, Guyana, pada tahun 1978. Mereka memperoleh racun secara sembunyi-sembunyi lalu menenggaknya kemu­dian diikuti oleh anak-anak mereka. Mereka dengan terang-terangan melakukan bunuh diri karena memiliki integrasi yang sangat keras dalam sebuah kelompok sebagai pengikut fanatik dari Jones. Penjelasan yang sama juga dapat dipakai dalam kasus seseorang yang mencari mati syahid (Durkheim, 1897/1951: 225). Seperti yang dilakukan oleh teroris pada bom Bali. Secara umum, orang melakukan bunuh diri altruistis karena mereka merasa itu adalah tugas mereka. Durkheim berpendapat bahwa secara khusus, bunuh diri altruistis ini mungkin terjadi dalam militer yang memiliki tingkat integrasi begitu kuat, bahwa seorang individu akan merasa telah membawa sial bagi kesatuannya meski hanya karena kesalahan sepele.

Kalau tingginya angka bunuh diri egoistis ditentukan oleh “kelelahan yang tidak dapat disembuhkan dan depresi yang menyedihkan,” maka bunuh diri altru­istis makin banyak terjadi jika “makin banyak harapan yang tersedia, karena dia bergantung pads keyakinan akan adanya sesuatu yang indah setelah hidup di dunia ini” (Durkheim, 1897/1951: 225). Ketika integrasi mengendur, seseorang akan me­lakukan bunuh diri karena tidak ads lagi kebaikan yang dapat dipakai untuk me­neruskan kehidupan. Sebaliknya, ketika integrasi menguat, mereka melakukan bunuh diri justru demi kebaikan yang lebih besar.

Bunuh Diri Anomik. Bentuk bunuh diri ketiga adalah bunuh diri anomik, yang terjadi ketika kekuatan regulasi masyarakat terganggu. Gangguan itu mungkin akan membuat individu merasa tidak puas karena lemahnya kontrol terhadap nafsu mereka, yang akan bebas berkeliaran dalam ras yang tidak pernah puas terhadap kesenangan. Angka bunuh diri anomik bisa meningkat terlepas dari apakah gang­guan itu positif (misal, peningkatan ekonomi) atau. negatif (penurunan ekonomi). Kedua macam gangguan ini membuat kolektivitas masyarakat tidak mampu me­lancarkan otoritasnya terhadap individu untuk sementara waktu. Perubahan-per­ubahan semacam ini menempatkan orang dalam situasi di mans norma lama tidak lagi berlaku sementara norma baru belum lagi dikembangkan. Periode gangguan ini melepaskan arus anomi –rasa ketercerabutan dari akar dan rasa kehilangan norma-norma mengikat– dan arus ini cenderung mempertinggi angka bunuh diri anomik. Kasus ini relatif mudah ditemui dalam suasana depresi ekonomi. Pabrik yang tutup karena depresi ekonomi menyebabkan para. pekerjanya kehilangan pekerjaan, sehingga mereka lepas dari pengaruh regulatif yang selama ini mereka rasakan baik dari perusahaan maupun pekerjaan. Karena terputus dari struktur ini atau struktur-struktur lainnya (seperti, keluarga, agama, dan negara) bisa mem­buat seorang individu amat rentan dengan pengaruh arus anomi.

Yang lebih sulit dibayangkan adalah dampak ekonomi. Dalam ka­sus ini Durkheim berpendapat bahwa kesuksesan yang tiba-tiba mendorong indi­vidu menjauh dari struktur tradisional tempat mereka sebelumnya melekatkan diri. Kesuksesan yang sekonyong-konyong ini bisa mendorong individu meninggal­kan pekerjaannya, berpindah ke komunitas baru, menemukan pasangan dan lain sebagainya. Semua perubahan tersebut mengacaukan pengaruh regulatif dari struk­tur yang masih eksis dan membuat individu mudah diserang oleh arus sosial ano­mik. Dalam kondisi ini, tindakan orang lepas dari regulasi dan bahkan mimpi mereka pun tidak bisa dicegah. Peningkatan angka bunuh diri anomik selama periode deregulasi kehidupan sosial, sesuai dengan pandangan Durkheim tentang pengaruh merusak dari nafsu individu ketika bebas dari kekangan eksternal. Seseorang yang telah bebas akan menjadi budak nafsu mereka, akibatnya, dalam pandangan Durkheim, memasuki wilayah tindakan destruktif yang tiada batas, termasuk membunuh diri sendiri.

Bunuh Diri Fatalistis. Kalau bunuh diri anomik terjadi dalam situasi di mana regulasi melemah, make bunuh diri fatalistis justru terjadi ketika regulasi meningkat. Durkheim (1897/1951: 276) menggam­barkan seseorang yang melakukan bunuh diri fatalistis seperti”seseorang yang masa depannya telah tertutup dan nafsu yang tertahan oleh disiplin yang menin­das.” Contoh klasik dari bunuh diri ini adalah budak yang menghabisi hidupnya karena putus asa karena regulasi yang menekan setiap tindakannya.

Durkheim berpendapat bahwa arus sosial dapat memengaruhi angka bunuh diri. Bunuh diri individual dilandasi oleh arus egoisme, altruisme, anomi, dan fatalisme ini. Hal ini membuktikan bahwa arus-arus tersebut lebih dari sekadar kumpulan arus-arus individual, akan tetapi paksaan suigeneris, karena menguasai keputusan individu. Tanpa asumsi ini, angka bunuh diri dalam suatu masyarakat tidak akan bisa dijelaskan.

Angka Bunuh Diri dan Reformasi Sosial

Usaha-usaha yang selama ini dilakukan untuk mencegah bunuh diri bisa dianggap gagal karena ia dilihat sebagai problem individu. Usaha langsung untuk meyakinkan individu agar tidak melakukan bunuh diri bisa menjadi sia-sia, karena penyebab riilnya justru ada dalam masyarakat, maka disini pentingnya upaya reformasi sosial. Pertanyaan pertama yang mesti diajukan adalah apakah bunuh diri bisa dicegah atau apakah dia dapat dianggap sebagai fenomena masyarakat yang lazim. Per­tanyaan ini penting diajukan kepada Durkheim karena teorinya mengatakan bahwa bunuh diri disebabkan oleh arus sosial yang dalam bentuk kecil bermanfaat bagi masyarakat. Kita tidak akan menghentikan peningkatan ekonomi karena akan men­dorong terjadinya bunuh diri anomik, juga tidak bisa menghentikan menghargai individu karena ia mendorong terjadinya bunuh diri egoistis. Singkatnya, bunuh diri altruistic disebabkan oleh kebajikan kita yang cenderung mengorbankan diri untuk komunitas. Harapan untuk maju, kepercayaan dalam diri individu, dan spirit pengorbanan, semuanya dimiliki oleh masyarakat, dan tidak bisa muncul tanpa men­ciptakan beberapa kasus bunuh diri. Anomi budaya modern berkaitan dengan cara abnormal di mana pekerjaan dipisah sehingga lebih mendorong terjadinya isolasi daripada kesalingtergantungan Yang dibutuhkan adalah cara untuk melindungi kelebihan-kelebihan modernitas, tanpa mempertinggi angka bunuh diri –menyeimbangkan arus-arus sosial. ini. Dalam masyarakat kita, arus tersebut tidak seimbang. Ring­kasnya, regulasi sosial dan integrasi menurun, mendorong terciptanya situasi ab­normal di mana angka bunuh diri anomik dan egoistis mengalami peningkatan tajam.

Selain itu pula, perlu adanya institusi yang dapat menjembatani antara individu dan masyarakat, yang berguna untuk mendeteksi gejala sosial dalam suatu masyarakat tertentu. Institusi inilah yang akan memberi respon kepada individu yang kemungkinan terkena implikasi gejala sosial untuk selanjutnya diberi pemahaman bahwa kehidupan akan terus berubah sehingga tercipta resistensi masyarakat terhadap perubahan yang berkembang. Upaya dari dalam pun harus tetap dilakukan dengan cara memberikan kesadaran yang mendalam terhadap ajaran agama, hal ini terbukti ampuh untuk meredam gejolak untuk mengakhiri kehidupan, dengan adanya pelaksanaan dan pemahaman yang benar terhadap ajaran agama, seseorang akan dapat menghargai hidupnya sendiri sehingga angka bunuh diri akan dapat ditekan.

Pemerintah juga harus dapat menciptakan rasa aman, masyarakat harus meyakinini bahwa ia bisa hidup dengan tentram di negeri ini, sehingga tak timbul keinginan untuk mengakhiri hidupnya. Selain itu ntuk mencegah tindakan bunuh diri, diperlukan identifikasi dini, terapi yang tepat, serta perlu segera dilakukan tindakan mengendalikan sakit jiwa. Agar sehat jiwa raga, pemerintah dan masyarakat harus memperhatikan aspek biologis, fisik, mental, dan sosial budaya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *