Doa dari Sang Guru

by August 6, 2020

Apa yang diingat dari seorang guru? Banyak banget. Teladan, cerita, ilmu, doa, berkah, dan sebagainya. Menuliskan kenangan guru membuat angan melayang ke masa-masa putih abu-abu. Masa indah yang tidak akan pernah lekang oleh ingatan. Menulis hal ini saya sambil tersenyum sendiri.

Bagaimana dulu saya sering membuat para guru tersenyum ataupun menahan marah dengan tingkah laku yang kurang berkenan di hati. Maklum masih belum berpikir jauh atau mungkin lagi masa puber. Entahlah. Saya lupa.

Salah satu guru yang menjadi idola adalah KH Henry Sutopo. Beliau mengajar pelajaran Tauhid. Waktu itu saya kelas 2 Aliyah di MA Ali Maksum Krapyak Yogyakarta

Ketika menjelaskan sesuatu, beliau selalu menghubungkan dengan kondisi kekinian. Sehingga pelajaran yang notabene kitab kuno menjadi lebih asyik untuk disimak.

Belum lama beliau menerbitkan buku Catatan Seorang Santri yang memuat cerita seorang santri zaman dulu dan kini. Bukunya menarik untuk dibaca, walaupun sangat tebal. Mengkhatamkan buku tersebut, membutuhkan perjuangan yang berat. Saat ini tulisan di buku tersebut tayang secara berkala di santripreneur.net. Kalau mau edisi lengkap, ya miliki bukunya biar bisa ngalap berkah.

Sebuah Doa

Kembali kepada beliau. Ada satu doa yang selalu beliau ulang dan terus disampaikan kepada kami murid-muridnya.

“Ya Allah, karuniakanlah suami yang saleh, anak-anak yang bermutu, lingkungan yang baik, dan rezeki yang dekat.”

Setiap habis salat fardu, doa itu selalu saya baca, walaupun saat itu masih jadi santri. Alhamdulillah, doa itu dikabulkan oleh Allah. Saya menikah dengan pasangan yang saleh, selalu mendukung karir istri, teman diskusi yang menyenangkan, dan tempat pulang ketika letih menyapa.

Lingkungan yang baik, alhamdulillah saya selalu mendapatkannya. Setelah dari Krapyak, saya pun melanglang buana. Sejauh perjalanan saya, semua tempat adalah lingkungan yang baik. Bahkan saya mengabadikan semua perjalanan saya ke dalam buku baik buku solo maupun antologi.

Ketika akhirnya harus pindah, tempat yang saya tuju pun selalu memberikan lingkungan yang baik. Perjalanan pindah yang penuh drama pun terlewati sudah. Biasanya diawali dengan ketidaknyamanan yang membuat resah. Pertanda hati dan pikiran harus berbenah.

Saat ini saya bekerja di Surabaya. Tempat yang sekarang nyaman. Mulai dari lingkungan kerja, rumah, pertemanan, semua baik-baik. Tak henti rasanya bibir ini mengucapkan syukur kepada Allah. Apalagi rumah dekat dengan kantor. Semakin mudah untuk beraktivitas dan berkiprah di masyarakat.

Alhamdulillah rezeki pun selalu dekat. Rezeki dalam bentuk kesehatan, materi, dan sebagainya, Semua hal kusyukuri. Termasuk saya pernah dididik oleh KH Henry Sutopo. Semoga beliau selalu sehat dan hidup penuh keberkahan. Amin.

Terima kasih juga kepada semua guru yang telah mendidikku. Lewat merekalah aku menjadi seperti ini.

Tags: , , , , ,

5 posts

Alumni Krapyak; penulis Restu, Melodi Cinta, Diary of Umrah, For Aceh with Love, dan 154 antologi. Buku yang best seller adalah Dalam Dekapan Mukjizat Al-Qur’an, Jejak Cinta, dan The Most Bleoved Man. Perempuan penyuka travelling ini juga menjadi content writer, Kepala Divisi Buku Ibu-ibu Doyan Nulis (IIDN), Pengasuh #SabtuPUEBI IIDN, trainer menulis, mentor Speechnotes, mentor puisi, editor, dan blogger. Founder Nderes Literasi dan Sehari Satu Paragraf

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *