Doa Minta Santet

by August 4, 2020

Dalam Khazanah Perdukunan. Salah satu produk dari ilmu sihir adalah tenung atau santet, yakni sebuah upaya tertentu untuk membuat orang lain celaka dengan perantaraan makhluk gaib. Keberadaan Ilmu Sihir sendiri dalam Alquran dikisahkan terutama pada Zaman Nabi Musa dan Nabi Sulaiman.

Pada Zaman Nabi Sulaiman dunia persihiran dijelaskan dalam surat Al-Baqarah 102 melalui perantaraan Malaikat Harut dan Marut yang diperintah Allah SWT untuk mengajarkannya.

Dalam ayat tersebut ada keterangan bahwa sihir dapat dipergunakan untuk memisahkan Suami Isteri “Yufarriquuna bihi bainal mar-i wazaujihi” dan kegunaan lainnya.

Dalam beberapa riwayat juga ada keterangan bahwa asbabunnuzul dari diturunkannya Surat Al-Falaq dan An-naas adalah adanya persantetan pada masa Rasulullah SAW masih hidup yang kemudian kedua Surat itu disebut dengan mu’awwidzatain. Dua surat untuk minta perlindungan dari santet dan sejenisnya.

Dapatlah disimpulkan bahwa Ilmu Sihir dan turunannya diakui keberadaannya dalam Islam, dan semuanya dibawah kekuasaan Allah SWT serta atas izin- Nya, seampuh-ampuhnya santet, jika Allah tidak mengizinkan maka tidak akan berpengaruh apa-apa. Wamaa hum bidloorriina bihi min akhadin illa biidznillaahi. Al-Baqarah 102.

Maka tidak ada alasan bagi seorang Mukmin untuk takut dan khawatir terhadap santet dan sejenisnya, selama ia tetap bersandar yang kuat kepada Allah SWT. Hasbiyallahu laa ilaahaillaa hu, `alaihi tawakkaltu wahuwa robbul’ arsyil `adhiim. At Taubah: 129. Sedang bahasan tentang hukum mempelajari dsb banyak dibahas dalam kitab-kitab tersendiri.

Ada ulama yang berpendapat, mempelajari ilmu sihir hukumnya tidak dilarang, yang dilarang adalah mengamalkannya “Atta’allumu bissikhri ghoiru makhdhuurin, wainnamal makhduuru al’amalu bihi”. Seandainya saya boleh berpendapat, saya akan mengatakan “Atta’allumu bissikhri makhdhuurun, wala siyyama al’amalu bihi” Mempelajari sihir hukumnya dilarang, apalagi mengamalkannya.

Dengan pertimbangan manfaat madhorotnya. Ada kejadian suatu saat ada tamu dari Jakarta, beliau seorang pejabat tinggi minta doa untuk nyantet atasannya seorang menteri yang masih aktif, dengan alasan ia merasa dizalimi sehingga tidak mendapat posisi di kementerian tersebut.

Di awal pembicaraan sebenarnya saya agak tersinggung dianggap ‘Dukun Santet” Apalagi potonganku tidak ada kemiripan dengan dukun santet. Kalau mirip dukun cabul malah ada. Namun setelah kuamati wajahnya yang serius dan nampak diatas 90 % menunjukkan tanda depresi, saya merasa iba nggak jadi tersinggung, apalagi ternyata beliau ini sudah berhoja-haji (haji berkali-kali ) serta kelihatan kecapekan dari bandara langsung ke rumah diantar sopir taksi yang menunggunya.

Pelan-pelan saya kasih nasihat. Mulai dari segala yang dialami manusia itu adalah takdir dan kehendak Allah yang harus diterima, termasuk ketika merasa dizalimi orang itu juga bagian dari takdir yang harus diyakini, kemudian tentang sifat penghuni surga yang antara lain: bisa menahan emosi dan memaafkan kesalahan orang lain. Ali-Imran 134.

Dan yang paling penting adalah bahwa Dzat yang berhak membalas dan menghukum manusia hanyalah Allah SWT, lantas saya ceritakan sebab turunnya surat Ali Imran 128, dimana Rasulullah SAW diperingatkan untuk tidak mendoakan celaka kepada orang-orang yang telah berbuat zalim walau doa Nabi pasti akan dikabulkan oleh Allah SWT.

Kata kuncinya saya bilang pada Bapak tsb. Sudahlah jangan membalas, ikhlaskan. Allah Maha Tahu dan Maha Adil, pasti semua ada hikmahnya. Lagi pula santet sihir itu termasuk dosa besar yang sulit diampuni. Baru mendatangi dukun santet saja sudah kena pasal berdosa, apalagi percaya dan melakukannya. Sebagai ganti doa santet, Bapak ini saya suruh sholat yang khusyu’, ketika sujud habis baca tasbih, perbanyak doa cukup dalam hati, silahkan curhat langsung kepada Allah SWT sebanyak-banyaknya.

Di tambah sehabis sholat baik fardhu maupun sunat, kusuruh membaca Asmaul Husna. Ya Allah Ya Lathiifu 99 X, sambil saya kasih satu botol air putih aqua biasa, agar diminum sampai habis. Cuma obat haus. Setelah bisa menerima nasihatku, dan kelihatan plong, beliau lantas minta pamit masuk taksi yang menunggunya tanpa ninggalin apa-apa, cuma sempat berjanji akan sowan kembali. Belum genap sepuluh hari, habis Subuh bapak itu meneleponku lewat telepon rumah, memberitahukan bahwa beliau sekarang sudah merasa tenang dan ikhlas, malah dapat bocoran kabar bahwa menteri yang mau disantet itu akan direshuffle dan beneran malam harinya saya melihat itu di berita TV.

Tapi sampai saya nulis ini Bapak itu tidak pernah nelpon lagi, dan belum pernah datang ke rumah, padahal dulu berjanji mau sowan kembali. Apa minta tak santet ya?…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *