Kamu Harus Paham ini, Sebelum Belajar!

by August 9, 2020
اَلاَ لاَ تَنَـالُ الْعِـلْـمَ اِلاَّ بِسِـتَّـةٍ # سَأُنْبِـيْكَ عَنْ مَجْـمُوْ عِهَا بِبَـيَانِ
ذَكَـاءٍ وَحِرْصٍ وَاصْتِـبَارٍ وَبُلْـغَةٍ # وَاِرْشَـادِ اُسْـتَاذٍ وَطُـوْلِ الزَّمَـانِ

Kita semua sudah paham kalau menuntut ilmu adalah wajib bagi setiap muslim, tak terkecuali laki-laki dan perempuan, kesemuanya wajib menuntut ilmu. Adanya anjuran ini harusnya menjadi cambuk kita untuk menuntut ilmu. Bagi yang masih duduk di bangku sekolah, bangku kuliah, maupun yang sudah bekerja, yang muda maupun yang tua. Jika ada yang sudah sekolah atau belajar tapi tidak ada pengaruhnya atau tidak berhasil mendapat ilmu padahal ia sudah belajar maka perlu kita ketahui mengapa hal itu bisa terjadi. Bahkan tidak banyak dari kita yang mengetahui bahwa untuk menuntut ilmu diperlukan syarat-syarat tertentu agar kita sukses dalam belajar, dan mendapatkan ilmu yang kita inginkan.

Di pondok pesantren ada sebuah kitab yang dinamakan kitab “alala”, kitab dasar yang dijadikan bahan belajar bagi santri yang baru masuk pesantren. Jika kita buka halaman pertama kitabnya, kita tahu memang kata awal yang ada di dalam kitab ini berlafadz  “alala” sehingga tak heran kalo kitab ini akrab disebut alala. Dari segi bahasan, kitab ini memang dimaksudkan menjadi ala-la, sebagai eling-eling bagi penuntut ilmu, yang isinya memang banyak mengajarkan pedoman menuntut ilmu.  

Enam Syarat Menuntut Ilmu

Dua bait pertama kitab ini telah disebut diatas, berisi syarat-syarat yang harus dipenuhi bagi seorang penuntut ilmu. Menurut kitab ini ada 6 syarat bagi seseorang untuk mendapatkan ilmu pengetahuan:

1. Cerdas

Cerdas dimaksudkan disini adalah orang yang memiliki akal yang normal , atau waras dan tidak gila. Maka orang yang demikian sudah bisa dikatakan cerdas. Kecerdasan merupakan kemampuan yang timbul pada seseorang karena adanya proses belajar yang terus menerus. Perlu diketahui bahwa setiap orang dilahirkan dalam tingkat kecerdasan yang sama. Adapun perbedaan daya tangkap pada saat belajar itu hanya factor kecil yang tidak mempengaruhi kecerdasan seseorang secara keseluruhan. Hal ini sering kita sebut sebagai IQ (Intelletual Quotient),kecerdasan yang merupakan bawaan sejak lahir. Sering dilakukan tes dengan tolak ukur angka, sehingga orang yang punya nilai IQ tinggi dinyatakan lebih pintar daripada orang yang memiliki nilai IQ yang rendah. Menurut penelitian terakhir yang menyatakan bahwa IQ hanya berpengaruh 20% terhadap kecerdasan seseorang. 80% sisanya dipegaruhi oleh EQ yaitu Emotional Quotient, yang dimukakan oleh Daniel Goleman, EQ berarti tingkat usaha atau semangat yang ada pada diri seseorang dalam belajar, hal ini yang mempengaruhi kecerdasan seseorang. Seseorang yang dilahirkan dengan kecerdasan yang cukup akan menjadi berkurang kecerdasannya apabila tidak pernah belajar dan orang yang tidak cukup pintar akan menjadi cerdas apabila selalu belajar setiap hari. Kesemuanya ini kurang lengkap apabila tidak dibarengi dengan SQ, yaitu tingkat kecerdasan spiritual yang dimiliki seseorang, seseorang yang pintar tidak akan berguna apabila kepintarannya hanya digunakan untuk berbuat jahat dan menipu orang lain. Maka diperlukan orang yang pintar dan juga benar.

2. Semangat

Ada sebuah kisah yang menggambarkan kesabaran orang dalam menuntut ilmu yang patut kita jadikan ibrah (pelajaran). Dahulu kala ada seorang santri, yang memiliki semangat yang luar biasa dalam menuntut ilmu walaupun kemampuannya tidak sama dengan rekan sebayanya, dalam artian dia lambat dalam memahami suatu pelajaran. Tak jarang ia dicela oleh teman-temannya dikarenakan kebodohannya. Walaupun begitu ia tetap semangat, sabar dan tidak putus asa. Sampai kemudian ia pun mencela dirinya sendiri mengapa ia tidak sepintar teman-temannya. Ia berlari, dan terus berlari, pada akhirnya ia sampai pada sebuah gua, dan singgah sejenak di dalam gua tersebut. Dan disanalah ia memperoleh pelajaran berharga.

Tak jauh dari tempatnya, ada sebuah stalagtit yang terus meneteskan air, setetes demi setetes, yang dibawahnya terdapat sebuah batu, kemudian ia melihat bahwa di tengah batu tersebut berlubang, disebabkan oleh tetes air yang terus menetes di atas batu tersebut sekian lama sehingga batu yang keras itupun berlubang. Batu sekeras itupun bisa berlubang oleh tetesan air, apalagi otak manusia yang tidak sekeras batu. Inilah pelajaran berharga yang didapat seorang santri tersebut. Maka sejak saat itu ia terus belajar tanpa kenal lelah dan putus asa sampai akhirnya ia menjadi salah satu ulama terkenal di zamannya sedangkan ia sendiri mendapat laqob (nama panggilan) ibnu hajar yang artinya anaknya batu. Kita mengenalnya sebagai Ibnu Hajar al-Atsqolani

3. Sabar

Menuntut ilmu itu harus sabar. Sabar menjalani prosesnya yang tidak semua orang mampu melewatinya. Hanya orang yang sabar dalam menuntut ilmulah yang akan dapat mendapatkan hasilnya. Al-Qur’an menyebutkan:

وَمَا يُلَقَّاهَا إِلا الَّذِينَ صَبَرُوا وَمَا يُلَقَّاهَا إِلا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ

Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar. (Fushilat: 35)

Hanya orang yang sabar yang akan mendapatkan keberuntungan yang besar.

4. Memiliki bekal

Dalam menuntut ilmu, tentunya kita harus memiliki bekal, karena dalam proses menuntut ilmu penuh dengan pengorbanan dan perjuangan maka semua itu membutuhkan bekal, baik bekal secara moril maupun materil. Secara moril bisa berupa semangat, mental, kesabaran, sedangkan secara materil bisa berupa biaya belajar, ongkos perjalanan maupun buku-buku penunjang dalam menuntut ilmu.

5. Petunjuk Guru

Guru merupakan faktor terpenting dalam proses menuntut ilmu karena guru adalah orang yang memberikan petunjuk dalam menuntut ilmu, selain itu juga guru merupakan orang yang menyebarkan ilmu yang ia miliki kepada murid-muridnya, sehingga guru patut dihormati dan diberikan penghargaan yang setinggi-tingginya karena ia adalah tongkat estafet peradaban manusia, dan penyambung keilmuan dari generasi yang satu kepada generasi selanjutnya. Tanpa adanya guru proses pendidikan tak akan berjalan.

Dan sesungguhnya Allah tidak pernah menghilangkan ilmu dari muka bumi ini, Allah akan menghilangkan ilmu dengan mencabutnya dari hati hamba-hambanya dengan meninggalnya para ulama-ulama dan orang-orang terpelajar, sehingga tiada lagi yang tersisa lagi di bumi kecuali orang-orang yang bodoh, sesat dan menyesatkan manusia lainnya. Sabda Nabi SAW:

ان الله لا يقبض العلم انتزاعا, ينتزعه من العباد. ولكن يقبض العلم بقبض العلماء. حتى إذا لم يبق عالما, اتخذ الناس رؤسا جهالا, فسئل, فافتوا بغير علم, فضلوا و أضلوا

Indonesia perlu seorang guru bangsa, guru yang mampu mendidik bangsa ini menjadi bangsa yang terpelajar, bangsa yang tidak terkungkung oleh sekat suku dan keturunan, bangsa yang tidak berputar-putar lingkaran fanatik kelompok tertentu, bangsa yang mampu bergerak bersama untuk dapat mewujudkan bangsa yang baldatun toyyibatun wa rabbun ghofur.  

6. Panjang (cukup) waktunya

Menuntut ilmu memerlukan waktu, seperti yang kita ketahui bahwa kalau SD itu 6 tahun, SMP itu memerlukan waktu 3 tahun. Stiap tingkatan ilmu memiliki rentang waktu tertentu. Menuntut ilmu juga tidak hanya berlaku di bangku sekolah maupun kuliah, menuntut ilmu merupakan kewajiban bagi setiap muslim tidak pandang umur maupun waktu. Sehingga Nabi Muhammad SAW bersabda: 

“Tuntutlah ilmu dari buaian hingga liang lahat”.

 sejak 14 abad yang lalu, Nabi SAW sudah mengajarkan kita untuk terus menuntut ilmu sampai akhit hayat. UNESCO pada tahun 2004 mengenalkan konsep life long education (pendidikan sepanjang hayat). Islam telah memulai konsep ini sejak lama. Dikarenakan waktu semakin lama semakin berkembang, zaman terus berganti dan perubahan pun mau tidak mau harus kita alami, maka hal itu menuntut kita untuk terus belajar seusai dengan perkembangan zaman yang ada. Maka tidak ada istilah terlambat maupun berhenti dalam belajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *