Etos Kerja Seorang Muslim

by August 2, 2020

“Maka apabila kamu telah selesai dari mengerjakan suatu pekerjaan, maka kerjakanlah dengan sungguh-sungguh pekerjaan yang lain. Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap (QS Al-Insyirah: 7-8)

Etos kerja dapat membuat orang lebih bergairah dalam bekerja, tetapi dapat juga terjadi sebaliknya, yang mengakibatkan karyawan mudah meninggalkan pekerjaan atau bahkan mengajukan permohonan untuk berhenti dari pekerjaannya. Keadaan ini tentunya dapat berpengaruh terhadap kesuksesan suatu perusahaan. Menurut anggapan sebagian besar karyawan, perusahaan yang baik adalah yang dapat memberikan kepuasan terhadap karyawannya. Karyawan yang merasa puas akan menjadi semangat dalam bekerja, sehingga tidak akan mudah melakukan pelanggaran-pelanggaran dalam bekerja. Menurut Kartono (1985) ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi etos kerja, antara lain:

1. Komunikasi

Komunikasi dua arah dan tanpa sumbatan informasi akan menciptakan hubungan yang dinamis dan harmonis antara bawahan dengan bawahan dan antara atasan dengan bawahan. Terbentuknya suasana tersebut akan memberikan dampak positif bagi terciptanya etos kerja yang positif begitu pula sebaliknya.

2. Lingkungan

Lingkungan adalah memegang peranan yang penting bagi pekerja demi terciptanya etos kerja yang menghasilkan kualitas kerja yang baik. Lingkungan keda dalam konteks pembahasan ini adalah gambaran objektif yang melingkupi interaksi di dalamnya dan merupakan situasi yang membawa arah bagi penentuan sikap kerja dan pencapaian tujuan kerja.

3. Motivasi

Motivasi sangat besar pengaruhnya terhadap suatu hasil yang akan dicapai dalam melaksanakan suatu pekerjaan. Tinggi rendahnya suatu motivasi sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungan kerja dipengaruhi oleh situasi dan kondisi yang menimbulkan gairah dan semangat kerja. Konsep motivasi kerja dalam konteks ini yang dimaksud sebagai suatu kekuatan psikologis yang mendorong karyawan untuk berusaha secara aktif melaksanakan dan meningkatkan profesional kerjanya.

4. Norma / Budaya

Untuk mengukur atau menilai etos kerja karyawan harus mempunyai alat penilai, alat pengukur atau standar yang dapat berupa peraturan atau kebijakan yang harus ditaati oleh seluruh karyawan maupun manajemen. Alat penilai tersebut perlu ditetapkan terlebih dahulu sebelum karyawan melaksanakan pekerjaannya. Agar alat penilai diketahui oleh karyawan, maka alat penilai perlu dikemukakan dan dijelaskan kepada karyawan. Dengan demikian karyawan mengetahui apa yang harus dicapai dalam melaksanakan tuga dan tanggungjawabnya.

Orang yang mempunyai yang menghayati etos kerja akan tampak dalam sikap dan tingkah lakunya yang dilandaskan pada suatu keyakinan yang sangat mendalam bahwa bekerja itu merupakan bentuk ibadah. Menurut Toto Tasmara (1995: 29) bahwa seorang muslim yang mempunyai etos kerja memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

Memiliki jiwa kepemimpinan (leadership)

Manusia diciptakan Allah di bumi sebagai khalifah artinya pemimpin. Sebagai pemimpin harus mempunyai kemampuan untuk mengambil posisi dan sekaligus memainkan peran (role) sehingga kehadirannya dirinya memberikan pengaruh yang baik pada lingkungannya.

Selalu berhitung

Setiap langkah dalam kehidupan seorang muslim selalu memperhitungkan segala aspek dan resikonya (what if principle) dan tentu saja sebuah perhitungan yang rasional. Komitmen kepada janji dan disiplin waktu merupakan citra seorang muslim sejati.

Menghargai waktu

Waktu bagi seorang muslim adalah rahmat yang tiada terhitung nilainya. Baginya pengertian terhadap makna waktu merupakan rasa tanggung jawab yang sangat besar. Sehingga sebagai konsekuensi logisnya dia menjadikan waktu sebagai wadah produktivitas.

Tidak pemah merasa puas berbuat baik (positive improvements)

Dalam kehidupan seorang muslim mempunyai semangat juang yang tinggi, tak mengenal lelah, tidak ada kamus menyerah, pantang surut apalagi terbelenggu dari kemalasan.

Hidup hemat dan efisien

Cara hidup dilakukan sangat efisien, pandai mengelola setiap “resources” yang dimilikinya. Menjauhkan setiap tidak prodiktif dan mubadzir, karena mubadzir adalah sekutu setan.

Berhemat bukanlah ingin menumpuk kekayaan, sehingga melahirkan sifat kikir individualistik. Tetapi dapati mengestimasikan apa yang akan terjadi di masa yang akan datang.

Memiliki jiwa wiraswasta (entrepreneurship)

Semangat wiraswasta yang dimiliki tinggi, memikirkan segala fenomena yang ada di sekitamya, merenung dan kemudian mewujudkannya dalam bentuk yang nyata dan realistik. Segala tindakannya diperhitungkan dengan untung dan rugi, manfaat atau mudharat

Memiliki insting bertanding dan bersaing

Seorang muslim akan selalu berlomba-lomba dalam kebaikan dan terus menerus memperbaiki kualitas diri menjadi lebih baik dari sebelumnya.

Keinginan untuk mandiri (independent)

Merasa malu dan risih apabila memperoleh sesuatu secara gratis, merasa tidak bernilai apabila menikmati sesuatu tanpa bermandikan keringat. Kemandirian bagi dirinya adalah lambang perjuangan sebuah semangat ­jihad (fighting spirit) yang sangat mahal harganya.

Haus untuk memiliki sifat keilmuan

Sebagai konsekwensi dari perintah Rasulullah bahwa seorang muslim dan muslimat untuk mencari dan menggali ilmu dari buaian sampai liang lahat bahkan demi ilmu dia tidak peduli sejauh mana walaupun sampai negeri Cina.

Berwawasan makro-universal

Dengan memiliki wawasan yang luas diharapkan seorang muslim menjadi manusia yang bijaksana. Mampu membuat pertimbangan yang tepat, serta setiap keputusannya lebih mendekati kepada tingkat presisi (ketepatan) yang terarah dan benar. Wawasan yang luas mendorong dirinya lebih realistis dalam membuat perencanaan dan tindakan.

Memperhatikan kesehatan dan gizi

Seorang muslim dalam makan harus memperhatikan ukuran-­ukuran normatif kesehatan agar kesehatan dapat terjamin. Etos kerja pribadi muslim sangat erat kaitannya dengan cara dirinya memelihara kebugaran dan kesegaran jasmaninya.

Ulet pantang menyerah

Keuletan bagi seorang muslim merupakan modal yang sangat besar di dalam menghadapi segala macam tantangan atau tekanan (pressure), sebab sejarah telah banyak membuktikan betapa banyaknya bangsa-bangsa yang mempunyai sejarah pahit akhirnya dapat keluar dengan berbagai inovasi, kohesivitas kelompok dan mampu memberikan prestasi yang tinggi bagi lingkungannya.

Berorientasi pada produktivitas

Penghayatan seorang muslim akan firman Allah yang sangat tegas tentang larangan bersikap mubadzir, karena sesungguhnya kemubadziran itu adalah benar-benar temannya syetan, adalah merupakan modal dasar dalam upaya untuk menjadikan dirinya sebagai manusia yang selalu berorientasi kepada nilai-nilai produktif.

Memperkaya jaringan silaturrahmi

Sabda Nabi Muhammad SAW yang berbunyi “Barang siapa yang ingin panjang umur dan banyak rizki, sambunglah silaturrahmi”. Dalam ilmu sosiologi silaturrahmi diistilahkan dengan “social relationship” dimana proses komunikasi dijalin dan dikembangkan sehingga merupakan suatu proses saling mempengaruhi atau tukar menukar informasi. Sehingga silaturrahmi disamping sebagai ibadah juga dapat memberikan peluang dan kesempatan kerja atau usaha.

Berdasarkan ciri-ciri etos kerja seperti tersebut di atas hendaknya seorang muslim bisa melaksanakan dengan baik sehingga seorang musmin berada dimanapun akan selalu memberikan efek positif bagi lingkungannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *