Fakta Unik Proklamasi

by August 17, 2020

Kita semua sudah mengetahui sejarah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia lewat buku atau pelajaran di sekolah. Tapi, di balik semua sejarah tersebut, ternyata terdapat fakta-fakta yang mungkin belum pernah kamu dengar sebelumnya. Fakta-fakta mengejutkan, yang pastinya menarik! Yuk lihat di bawah ini!

Soekarno sakit sebelum pembacaan Proklamasi Kemerdekaan

Pada 17 Agustus 1945 pukul 08.00 (2 jam sebelum pembacaan teks Proklamasi), ternyata Bung Karno masih tidur nyenyak di kamarnya, di Jalan Pegangsaan Timur 56, Cikini. Dia terkena gejala malaria tertiana. Suhu badannya tinggi dan sangat lelah setelah begadang bersama para sahabatnya menyusun konsep naskah proklamasi di rumah Laksamana Maeda. Saat itu, tepat di tengah-tengah bulan puasa.

Lalu jam 09.00 pagi, Bung Karno terbangun. Berpakaian rapi putih-putih dan menemui sahabatnya, Bung Hatta. Tepat pukul 10.00, keduanya memproklamasikan kemerdekaan Indonesia dari serambi rumah.

Bendera dari tukang soto

Bendera pusaka sang merah putih adalah bendera resmi pertama bagi RI. Tetapi, dari apakah bendera sakral itu dibuat? Warna putihnya dari kain sprei tempat tidur dan warna merahnya dari kain tukang soto! Hmm, harusnya tukang soto itu masuk dalam catatan sejarah proklamasi ya …

Upacara Proklamasi dibuat sangat sederhana

Jaman sekarang, pelaksana upacara bendera bermacam-macam. Mulai dari pemimpin upacara sampai pembaca naskah pancasila, UUD dan lain-lain. Namun, saat proklamasi kemerdekaan indonesia ternyata berlangsung sangat sederhana. Tanpa protokol, tak ada paduan suara, tak ada konduktor, dan sebagainya. Tiang bendera pun dibuat dari batang bambu secara kasar, serta ditanam hanya beberapa menit menjelang upacara.

Bahkan konon katanya, katrol tiang bendera dibuat dari gelas bekas sahur Moh. Hatta. Tetapi itulah, kenyataan yang terjadi pada sebuah upacara sakral yang dinanti-nanti!

Akbar Tanjung jadi menteri pertama “Orang Indonesia Asli”

Setelah merdeka 43 tahun, Indonesia baru memiliki seorang menteri pertama yang benar-benar “orang Indonesia asli”. Yang akhirnya menjadi orang pertama menjadi menteri tersebut adalah Ir Akbar Tanjung (lahir di Sibolga, Sumatera Utara, 30 Agustus 1945), sebagai Menteri Negara Pemuda dan Olah Raga pada Kabinet Pembangunan (1988-1993).

Karena semua menteri sebelumnya lahir sebelum 17 Agustus 1945. Itu berarti, mereka pernah menjadi warga Hindia Belanda dan atau pendudukan Jepang, sebab negara hukum Republik Indonesia memang belum ada saat itu.

Perintah pertama Presiden Soekarno “Sate Ayam Lima Puluh Tusuk!”

Perintah pertama Presiden Soekarno saat dipilih sebagai Presiden pertama RI, bukanlah membentuk sebuah kabinet atau menandatangani sebuah dekret, melainkan memanggil tukang sate! Itu dilakukannya dalam perjalanan pulang, setelah terpilih secara aklamasi sebagai Presiden.

Kebetulan di jalan bertemu seorang tukang sate bertelanjang dada dan nyeker (tidak memakai alas kaki). “Sate ayam lima puluh tusuk!”, perintah Presiden Soekarno. Disantapnya sate dengan lahap dekat sebuah selokan.

Dan itulah, perintah pertama pada rakyatnya sekaligus pesta pertama atas pengangkatannya sebagai pemimpin dari 70 juta jiwa lebih rakyat dari sebuah negara besar yang baru berusia satu hari.

Revolusi di Indonesia difilmkan oleh orang Australia

Ada lagi hubungan erat antara 17 Agustus dan Hollywood. Judul pidato 17 Agustus 1964, difilmkan dengan judul – dalam bahasa Inggris, The Year of Living Dangerously.

Film tersebut menceritakan pengalaman seorang wartawan Australia yg ditugaskan di Indonesia pada 1960-an, pada detik-detik menjelang peristiwa berdarah tahun 1965. Pada 1984, film yang dibintangi Mel Gibson itu, mendapat Oscar untuk kategori film asing!

Naskah asli Proklamasi ditemukan di tempat sampah

Naskah asli teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang ditulis tangan oleh Bung Karno dan didikte oleh Bung Hatta, ternyata tidak pernah dimiliki dan disimpan oleh Pemerintah!

Anehnya, naskah historis tersebut justru disimpan dengan baik oleh wartawan BM Diah. Diah menemukan draft Proklamasi itu di keranjang sampah di rumah Laksamana Maeda, 17 Agustus 1945 dini hari, setelah disalin, dan diketik oleh Sajuti Melik.

Pada 29 Mei 1992, Diah menyerahkan draft tersebut kepada Presiden Soeharto, setelah menyimpannya selama 46 tahun 9 bulan 19 hari.

Negatif film foto kemerdekaan disimpan di bawah pohon

Peristiwa sakral Proklamasi 17 Agustus 1945 dapat didokumentasikan dan disaksikan oleh kita hingga kini. Saat tentara Jepang ingin merampas negatif foto yang mengabadikan peristiwa penting tersebut, Frans Mendoer, fotografer yang merekam detik-detik proklamasi, berbohong kepada mereka.

Dia bilang tak punya negatif itu dan sudah diserahkan kepada Barisan Pelopor, sebuah gerakan perjuangan. Mendengar jawaban itu, Jepang pun marah besar. Padahal negatif film itu ditanam di bawah sebuah pohon di halaman Kantor harian Asia Raja.

Setelah Jepang pergi, negatif itu diafdruk dan dipublikasi secara luas hingga bisa dinikmati sampai sekarang. Bagaimana kalau Mendoer bersikap jujur pada Jepang?

Bung Hatta berbohong demi Proklamasi

Waktu masa revolusi, Bung Karno memerintahkan Bung Hatta untuk meminta bantuan senjata kepada Jawaharlal Nehru. Cara untuk pergi ke India pun dilakukan secara rahasia.

Bung Hatta memakai paspor dengan nama “Abdullah”. Lalu Beliau berangkat dengan pesawat yang dikemudikan Biju Patnaik, seorang industrialis yang kemudian menjadi menteri pada kabinet PM Morarji Desai.

Bung Hatta diperlakukan sangat hormat oleh Nehru dan diajak bertemu Mahatma Gandhi. Nehru adalah kawan lama Hatta sejak 1920-an dan Gandhi mengetahui perjuangan Hatta.

Setelah pertemuan, Gandhi diberi tahu oleh Nehru bahwa “Abdullah” itu adalah Mohammad Hatta. Apa reaksi Gandhi? Dia marah besar kepada Nehru, karena tidak diberi tahu yang sebenarnya.”You are a liar!” kata tokoh kharismatik itu kepada Nehru.

Jadi, banyak hal yang mungkin luput dari yang dipelajari waktu di sekolah dulu. Hal-hal seperti ini justru bukan hal yang tidak penting, karena dengan hal-hal tersebut sejarah menjadi unik dan “berbumbu”.

Selamat Hari Kemerdekaan Republik Indonesia! Sekarang, bukan saatnya lagi duduk diam berharap pada pemerintah atau pihak-pihak berwajib, tapi mulailah dari diri sendiri untuk siap membuat bangsa ini menjadi lebih baik dan dihormati. Merdeka!

Disarikan dari berbagai sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *