Fikih Kebangsaan Sebagai Upaya Menjaga Kesatuan dan Persatuan

by October 20, 2020

Pesantren menjadi bagian dari peradaban bangsa Indonesia. Perannya menjadi sangat diperhitungan disaat bangsa ini masih terjajah oleh bangsa lain. Kyai dan santri berda pada garda terdepan membela dan memperjuangkan kemerdekaan bangsa Indonesia. Baik pada masa lalu maupun sekarang peranan pesantren masih menjadi bagian yang tak terpisahkan dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Maka dari itu sudah tidak ada keraguan lagi atas keloyalitasan pesantren dalam menjaga persatuan dan kesatuan Bangsa dan Negara. Hal ini terbukti dengan sikap nasionalisme terhadap bangsa yang begitu tinggi. Sehingga pesantren sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari bangsa Indonesia.

Dalam konteks kekinian perjuangan pesantren sudah jauh berbeda. Dahulu lebih menekankan pada fisik dengan mengangkat senjata dan berjuang dimedan perang. Jika sekarang lebih ke tataran teoritis dan aplikatif dibidang pendidikan keagamaan. Pesantren dituntut untuk menyesuaikan kebutuhan umat, terutama perkembangan dan tantangan yang dihadapi bangsa dan negara ini. Dewasa ini ada beberapa kelompok yang berusaha memecah belah keutuhan bangsa Indonesia. Dengan jargon “kembali ke al-Quran dan Hadis” menganggap Pancasila  toghut, khilafah harus ditegakan dan seterusnya. Disini perlu adanya wawasan kebangsaan, untuk mengcounter aliran yang tidak sepaham dengan idiologi bangsa ini yakni pancasila. Bahwa sistem pemerintahan yang dijalankan Indonesia tidak bertentangan dengan islam bila dipandang dari kaca mata (Islam) atau fiqih.

Selama ini fiqih hanya berbicara dalam tataran hukum haram, halal, sunnah, makruh dan mubah. Atau berbicara masih dalam tataran vertikalitsik, hubungan antara manusia dengan Tuhannya. Belum sampai pada tataran hubungan masalah kemanusiaan, ketetanegaraan dan kebangsaan. Pada posisi ini peran pesantren menjadi sangat dibutuhkan, karena kredibilitas dalam mengkaji ilmu-ilmu fiqih sudah teruji.  Ada beberapa tawaran konsep berkenaan dengan fiqih. Seperti yang disampaikan oleh Yusuf Qardhawi, Ia menawarkan sebuah alternatif dalam kitabnya fiqih al-Alawiyah. Menurutnya pemikiran fiqih agar direformasi menjadi fiqih realitas (fiqih al waqi) dan fiqih prioritas (fiqih al-Alawiyah). Hal ini dalam upaya melepaskan paradigma legal-formal hukum islam, namun bisa merambah masalah-masalah kemanusiaan, ketatanegaraan (fiqh al-daulah) dan kebangsaan (fiqh al-muwathanah). Hal ini pula yang diikuti oleh salah satu pesantren di Indonesia. Melalui TIM Bahtsul Masail (HIMMASAL) pondok pesantren Lirboyo Kediri dengan buku Fiqih kebangsaan. Buku yang berhasil diterbitkan ada tiga yaitu Fiqih Kebangsaan 1: Merajut Kebersamaan ditengah Kebhinekaan. Kedua, Fiqih Kebangsaan 2: Menebar Kerahmatan Islam. Ketiga, Fiqih Kebangsaan 3: Jihad dan Kewarganegaraan.

Penerbitan buku fiqih kebangsaan tersebut (sebagaimana tertulis dipengantar buku) bertujuan untuk menginternalisasi nilai-nilai kabangsaan dalam rangka meneguhkan NKRI dan Pancasila sebagai prinsip final dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Sebagaimana tema-tema yang diangkat diantaranya:  NKRI sebagai Mu’ahadah Wathaniyyah, NKRI Harga Mati (Urgensi Persatuan dan Bahaya Perpecahan), Relasi Agama dan Negara, Nasionalisme dalam Pandangan Islam, Bentuk Negara dalam Pandangan Islam, Kenapa Harus Mempertahankan NKRI, Pancasila tidak Bertentangan dengan Nilai-nilai Islam, Mengawal Pemerintah yang Sah, Kewajiban Menghormati Pemerintah, Larangan Memberontak Pemerintah yang sah, Tolernsi Muslim dan non-Muslim dan lain sebagianya.

Semua tema yang dibahas dalam buku fiqih kebangsaan, merupakan upaya pesantren dalam memberikan pemahaman kebangsaan dalam kacamata fiqih yang terinternalisasikan dalam kehidupan sehari-hari. Bahwa pancasila tidak bertentengan dengan islam dan wajib dijaga demi utuhnya Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Penulis, A. Komarudin, MSI, Dosen di IBN (Institut Agama Islam Bakti Negara) Tegal

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *