Fiqih Bisnis; Sebuah Muqoddimah

by May 10, 2020

Dalam pendahuluan Bab Bai’ (Jual Beli) Kitab I’anatut Tholibin juz ke-3 Sayyid Bakri Syatho’  mengungkapkan bahwa setelah pembahasan dari seperempat persoalan fiqh  pertama adalah “al-‘ibaadaat” yang orientasi pembahasannya mengupas tentang persoalan -sifatnya- ukhrowi. Beliau sampai menegaskan “Ahammu Maa Khuliqa lahu al-insan” persoalan ibadah sangat urgensi sebagaimana tujuan diciptakannya manusia. Seperempat kedua – dari fiqh – adalah persolan “Almu’aamalaat” aktifitas ekonomi (transaksional) yang bertujuan untuk menyelesaikan atau menghasilkan kebutuhan duniawi.

Meskipun terlihat urusan dunia Beliau menegaskan bahwa bisnis dan semacamnya “Liyakuuna Sababan Lil Ukhrowi” tetap menjadi sababiyah untuk kepentingan akhirat. Seperempat selanjutnya -dari fiqih- pembahasan “Nikah” menjadi bagian ketiga, hal ini ditempatkan karena untuk menyelesaikan persoalan “Syahwat farji” atau kebutuhan biologis sementara bab mu’amalat atau jual beli dan sejenisnya pada posisi kedua karena untuk menyelesaikan persoalan “Syahwat albathni” kebutuhan perut atau kebutuhan hajat hidup. Seperempat terakhir -dari fiqih- adalah pembahasan tentang hukum pidana dan kriminalitas. Menempati urutan keempat karena alasan “Li Anna Dzalika Innamaa Yakuunu Ba’da Syahwat al-bathni wa al-farji” bahwa setelah persoalan aturan hukum tentang hajat hidup dan kebutuhan biologis selesai masih dibutuhkan aturan hukum untuk melindungi setiap orang dari kejahatan tindak pidana dan kriminalitas.

Melihat muqaddimah di atas bisa kita ambil kesimpulan bahwa fiqih tidak hanya membahas soal ibadah makhdloh saja, tapi meliputi semua aspek kehidupan manusia termasuk jual beli, usaha bisnis dan sejenisnya dan tetap pada arah tujuan ukhrowi meski -kelihatannya- urusan dunia atau kata lain “Mazra’atul akhiroh” ladang untuk akhirat. Bukankah Rasulullah Saw bersabda :

“Pedagang yang jujur dan dapat dipercaya akan bersama-sama dengan para nabi, shiddiqin, syuhada”

Bahkan dalam kitab Ta’limul Muta’allim karya syekh zarnuji diceritakan suatau saat Syekh Muhammad bin Al-Hasan ditanya “Kenapa engkau tidak menulis kitab tentang zuhud?”, jawaban yang tak terduga dari beliau “Saya telah menulis kitab tentang jual beli”. Bahwa sifat Zuhud tidak identik dengan perilaku “ngedoh dunyo”, tapi dalam bisnis bisa diterapkan sifat zuhud dengan menjaga usahanya dari perkara haram, syubhat dan yang dimakruhkan sudah termasuk orang yang zuhud.

Tak hanya itu saja, fiqih juga mengatur aspek hukum yang berkaitan dengan kebutuhan hidup manusia baik lahir maupun batin.  Dan juga tak kalah pentingnya fiqih juga membahas hukum untuk menjaga keberkelangsungan hidup manusia agar terlindungi dari kejahatan dan kriminalitas.

Ibnu Muhammad Shofawi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *