Folosofi Keharaman Khamar

by March 5, 2021

Oleh Abdel Baseer
(PW LDNU DIY)
Dimuat di Tribun Jogja

Khamar secara bahasa adalah segala sesuatu yang bisa menutupi, diambil dari kata khamara yang artinya menutupi akal, mencampur aduk, dan merusak akal. Dinamakan Khimar (kerudung) wanita, karena kerudung menutupi kepalanya. Menurut Imam Malik, Imam Syafi’i, dan Imam Ahmad, Khamar adalah segala sesuatu yang dianggap memabukkan. Umar Ibn Khattab berkata: “al-khamru ma khamarol aqla” (khamar adalah semua bahan yang dapat menutupi akal). Dalam sebuah hadits Nabi SAW riwayat Abu Dawud dikatakan: kullu muskirin khomrun, wa kullu khomrin haromun (setiap hal yang memabukkan adalah khamar, dan setiap khamar adalah haram). Di anatar perkara yang memabukkan adalah minuman keras.

Pelarangan khamar tertuang secara tegas di dalam QS. Al-Maidah [5]:90 yang artinya: “wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya minuman keras (khamar), berjudi, (berkurban untuk) berhala, dan mengundi nasib dengan anak panah, adalah perbuatan keji dan termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah (perbuatan-perbuatan) itu agar kamu beruntung.” Dalam hadits Nabi SAW juga dijelaskan mengenai laknat Allah atas khamar dan semua orang yang terkait dengannya: “Allah melaknat khamar, peminumnya, penuangnya, penjualnya, pembelinya, pemereasnya, orang yang meminta memerasnya, pembawanya, dan orang yang diminta untuk membawanya”. (HR. Abu Dawud). Dari kedua dalil ini, jelaslah bahwa khamar dan hal ihwal yang berkaitan dengannya adalah dilarang dalam agama, termasuk investasi dan pelegalan minuman keras: wiski, vodka, bir hingga tuak atau ciu. Dalam kaidah fikih dikatakan, ma harroma isti’maluhu, harroma ittikhadzuhu (apa saja yang diharamkan menggunakannya, maka haram memanfaatkannya)

Hikmah Keharaman Khamar
Di antara maqasid syari’ah adalah perlindungan terhadap akal. Begitu penting perhatian agama dalam menjaga akal. Dinamakan akal (‘aql) yang artinya ikatan karena ia bia mengikat dan mencegah pemiliknya untuk melakukan hal-hal buruk dan mengerjakan kemungkaran. Nabi Muhammad SAW bersabda: “Akal adalah cahaya dalam hati yang membedakan antara perkara yang benar dan salah”.
Filosofi keharaman khamar dan segala zat yang memabukkan, sangat jelas bahwa khamar, minuman keras dan zat yang memabukkan lainnya terbukti merusak pribadi manusia., baik akalnya, tubuhnya, apalagi imannya. Sebab, akal budi merupakan fondasi kemanusiaan, jika kita kehilangan akal budi karena khamar dan miras, maka hilang pulalah kemanusiaan kita, jatuh kesifat kebinatangan. Umar ibn Khattab mengatakan: “fondasi seseorang adalah amalnya, dan kebaikan agamanya adalah kehormatan akalnya”.
Khamar, minuman keras dan segala yang memabukkan merupakan ibu segala dosa. Dalam hadits Nabi SAW dikatakan: al-Khamr ummul khaba’is (khamar adalah induk segala perbuatan jahat). Dikuatkan pula oleh hadits Nabi SAW riwayat ath-Thabrani yang artinya “jauhilah khamr, karena sesungguhnya ia adalah kunci setiap hal jahat”.
Di dalam sebuah riwayat pernah diceritakan bahwa seorang yang saleh diancam dan dipaksa untuk memilih satu di antara tiga perbuatan: zina, membunuh seorang anak kecil, atau meminum khamar. Tentu orang saleh tersebut tidak mau melakukan ketiganya. Namun, karena terus diancam, ia pun akhirnya memilih meminum khamar, dengan pertimbangan bahwa dosanya paling kecil. Tetapi apa yang terjadi kemudian? Setelah ia meminum khamar, lalu ia mabuk dan hilang akal, tanpa ia sadari ia menzinai perempuan yang mengancamnya serta membunuh seorang anak kecil. Inilah secuil cerita akibat dari meminum khamar.
Maka tidak mengherankan bila banyak sekali kerusakan di tengah masyarakat kita yang terjadi karena khamar. Dalam Al-Qur’an juga disebutkan tentang bahaya khamar dan judi di dalam masyarakat, di antaranya adalah melalaikan ingat kepada Allah, merusak salat serta menimbulkan permusuhan dan kebencian. Sehingga dalam QS. al-Ma’idah [5]: 91 pun menyeru agar kita berhenti dari minum khamar dan bermain judi, dengan ungkapan yang tajam sekali, yaitu: Fahal antum muntahun? (Maka tidakkah kamu mau berhenti?). ini diibaratkan bahwa sampai-sampai Allah “membentak”, karena saking gemasnya kepada orang-orang yang tak kunjung berhenti dari perilaku minum khamar. Dengan demikian, menajuhi minuman keras dan hal ihwal yang berkaitan dengannya adalah bagian dari menjaga akal. Menjaga akal adalah bagian dari menjaga agama. Wa Allahu a’lam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *