Gadis Manis dari Dieng

by December 10, 2016

Nurul Makshumah, itu nama yang aku baca, ketika aku melihat halaman sampul sebuah makalah di tempat pengetikan langgananku. Setelah transaksi selesai, makalah itu pun berpindah tangah kepada dua gadis berjilbab. Sekilas aku melihat wajah keduanya, manis, dengan senyum yang mengembang di antara kedua pipinya. Itu pertama kali aku melihat dia, sebelum bayangannya tenggelam di tikungan jalan menuju komplek N.

Aku kembali tersadar, setelah mengingat banyaknya agenda yang harus aku selesaikan. Sebagai pemred yang baru terpilih, aku harus menyiapkan beberapa agenda yang cukup padat ke depan. Tak lupa, aku juga menyiapkan rekan-rekan yang akan menjadi anggota redaksi untuk majalah “Khoirul Ummah”, sebuah majalah yang terbit secara rutin di sekolahku. Setelah membayar uang sewa computer, aku bergegas kembali ke asrama untuk koordinasi dengan Fahmi, temanku yang kamarnya di sebelah kamarku.

“Menurutmu apa yang akan kita angkat untuk majalah edisi kali ini?”.

“Aku punya beberapa tema besar yang bisa jadi alternative”. Jelas Fahmi, ia aku tunjuk menjadi redaktur pelaksana.

“Apa itu?”

Fahmi membuka block note-nya, membaca beberapa baris dari halaman pertama.

“Jihad menurut islam, kemudian sejarah peradaban islam atau islamisasi ilmu pengetahuan”…

“Jihad menurut islam?”.

Aku mengernyitkan dahiku, sambil sedikit memberi argumen.

“Setahuku jihad, memang hanya ada dalam agama Islam, sehingga tidak perlu ada istilah jihad menurut islam. Karena istilah jihad hanya ada dalam agama islam. Dalam agama lain, tidak ada istilah jihad. Jihadpun tidak selalu berarti perang, perang menjadi alternative terakhir, apabila tidak memungkinkan untuk berunding, kesepakatan damai, perjanjian, dan lain sebagainya”. Jelasku.

“Okelah, tapi headline tentang jihad ini dapat memberikan pemahaman kepada orang lain yang kurang memahami konsep jihad. Apalagi pasca 11 September, Islam seakan dijadikan kambing hitam, atas semua peristiwa terorisme, sabotase, dan peperangan. Stigma yang berkembang di masyarakat dunia, Islam adalah agama kekerasan, yang menghalalkan pertumpahan darah. Padahal kan tidak begitu, Islam adalah agama rahmatan lil alamin. Fahmi memberikan counter-attack.

“Bisa juga menurutku, kalau memang tujuannya seperti itu”.

“Kemudian untuk sejarah peradaban islam, bagaimana?”.

Fahmi terdiam sesaat, mungkin menyusun kata-kata apa yang akan diucapkan untuk memulai ‘perdebatan’ berikutnya.

“Aku terinspirasi dari kisah kejayaan masa lalu Islam yang gemilang. Membuat aku tertarik untuk kembali mengangkatnya. Memberikan pengetahuan sekaligus menyadarkan generasi muda betapa Islam dahulu sangat berperan dalam perkembangan dunia, akan tetapi ketika Islam banyak terpecah-belah, maka kejayaan keilmuan dunia berpindah ke negeri Barat. Kini sudah saatnya generasi Islam tidak hanya bernostalgia kejayaan masa lalu, akan tetapi juga ikut berperan dalam perkembangan peradaban dunia agar kita tidak selalu menjadi penonton, tapi juga ikut menjadi pelaku sejarah”.

“Boleh juga”, kataku.

“Kalau aku lebih condong ke tema yang ketiga, islamisasi ilmu pengetahuan. Setahu aku ide ini dicetuskan oleh Ismail Raji Al-Faruqi, benar?”.

“Tepat sekali, tema ini cocok karena berkaitan dengan kita yang bersekolah di pondok pesantren iya kan? Karena dalam konsep Islamization of Knowledge, tidak dikenal adanya dikotomi ilmu. Tidak ada pemisahan antara ilmu umum dan ilmu agama. Bahkan ilmuwan islam terdahulu tidak hanya menguasai ilmu agama saja. Contohnya Ibnu Sina yang di dunia barat dikenal dengan nama Avicenna, beliau tidak hanya menguasai ilmu kedokteran saja, bahkan beliau mumpuni di bidang ilmu tafsir”.

“Cukup aku kira inventarisir tema headline, jangan terlalu banyak, nanti malah teman-teman akan bingung memilih, belum lagi ada tawaran headline dari redaksi putri. Setelah ini segera kita buat agenda rapat bersama, antara OSIS putra dan OSIS putri”.

Yup, di sekolahku, OSIS putra dan putri terpisah, karena sekolahnya pun terpisah. Di pondok pesantren kami, intensitas pertemuan antara santri putra dan putri sangat dibatasi. Kami hanya bisa bertatap muka sesekali, ketika di kantor guru, atau tidak sengaja datang berbarengan ke perpustakaan. Kesempatan untuk berkenalan kemungkinan hanya nol persen, terbukti dari beberapa teman-temanku tidak ada yang berhasil, walau hanya sekedar bertanya nama. Satu-satunya cara yang paling ampuh, adalah datang sendiri bagi yang berani, atau datang berombongan bagi yang pemalu, langsung ke komplek N, komplek khusus santri perempuan. Rintangannya cukup berat, berhadapan dengan pembimbing santri putri, yang akan selalu standby, mengintogerasi setiap santri putra yang nekat datang ke asrama putri. Biasanya, belum sampai bertemu dengan santri putri yang kita cari, kita sudah pulang setelah mendapat kultum dari ustadzah pembimbing santri putri. Hanya santri-santri putra yang berstatus spesial yang bisa berkunjung ke komplek N dengan aman dan tentram. Mereka adalah santri putra yang memiliki kakak atau adik perempuan, yang tinggal di komplek N, atau santri-santri yang aktif di OSIS, yang memiliki kegiatan atau agenda bersama, antara santri putra dan putri, seperti menerbitkan majalah sekolah.

Perjalanan untuk mengenal santri putri, dimulai dari sini. Ketika rapat redaksi dimulai, aku melihat sesosok gadis yang aku lihat beberapa hari yang lalu. Dia menjadi salah satu anggota redaksi, mewakili OSIS putri. Kehadirannya, sempat membuat rapat redaksi yang aku pimpin menjadi sedikit bercampur grogi dan nervous. Bagaimana tidak, aku harus memimpin rapat redaksi perdana, dengan anggota redaksi yang secara keilmuan cukup mumpuni. Ditambah dengan kehadiran sosok santriwati manis diantara redaksi putri.

“Ok, akhirnya kita sepakati bahwa headline untuk majalah edisi kali ini adalah Islamization of Knowledge. Redaksi pelaksana harap mempersiapkan bahan dan materi apa saja yang kita jadikan sumber referensi. Jangan lupa juga, narasumber yang akan kita wawancarai terkait dengan tema yang akan kita angkat”. Aku menutup rapat perdana redaksi sore itu.

Mulai hari itu, aku bersama anggota redaksi yang lain memulai aktivitas peliputan. Mulai dari wawancara, hunting data, sampai mencari nara sumber. Aku berharap majalah ini dapat selesai, sebelum deadline yang ditentukan.

“Bagaimana, semua sudah selesai?”. Tanyaku, ketika aku tidak sengaja bertemu dengan Nurul di perpustakaan.

“Semuanya sudah hampir lengkap, kita tinggal wawancara dengan satu narasumber lagi, untuk rubrik Siswa Teladan”. Jawabnya singkat.

“Kalau begitu nanti diagendakan untuk rapat koordinasi ya?”.

“Iya. Aku ke kelas dulu ya”. Ia mengakhiri pertemuan dengan senyum manisnya. Mungkin juga karena ia malu karena teman-teman sibuk meledek dia.

Perasaanku hari ini senang sekali, entah karena majalahku siap terbit, entah karena pertemuan di perpustakaan siang tadi. Yang jelas siluet senyumnya masih berlarian di kepalaku. Menciptakan sinyal kebahagiaan. Satu menit yang membawa efek dua puluh empat jam. Semoga masih ada pertemuan-pertemuan yang tak terduga lagi, pikirku.

Sejak hari itu, malam-malamku selalu dihiasi senyum manisnya yang datang tanpa diundang, mampir ke rongga kepalaku, di sela-sela kegiatan yang padat di pondok pesantren. Bangun pagi, sudah harus berlarian menuju masjid kalau tidak ingin rotan panjang mampir di paha atau di tangan. Sebelum berangkat sekolah, kami harus ngaji sorogan dengan ustadz pembimbing asrama. Kami baru bisa istrahat sepulang sekolah, bagi yang tidak memiliki kegiatan tambahan, tidur siang bisa menjadi alternatif terbaik.

Karena pertemuan antara siswa putra dan putri sangat dibatasi, surat-menyurat menjadi salah satu solusi. Ditambah padatnya kegiatan setiap harinya. Aku tahu ini sangat beresiko, surat-menyurat diantara santri putra dan putri merupakan pelanggaran di sekolahku. Jangan bicara handphone, karena saat itu handphone belum menjamur seperti sekarang ini. Saat itu hanya ada wartel, dengan biaya telepon yang cukup untuk menguras kantong jajan selama seminggu. Aku harus mencari timing yang tepat saat memberikan surat, begitu pula dia, harus tepat memilih kurir surat yang dapat dipercaya, sehingga surat-menyurat ini berada dalam jalur yang aman.

Sampai saat majalah selesai terbit, aku berharap masih dapat melihat senyumnya. Melihat lengkung bibirnya yang menurutku lebih indah dari bulan sabit kerap yang mampir di lantai lima asramaku. Tempat aku menjemur pakaian atau sekedar melintaskan pandangan ke asramanya. Kebetulan di sekolahku, asramakulah yang bangunannya paling tinggi. Asrama yang lain kebanyakan dua lantai atau tiga lantai. Khusus asramaku, sampai lima lantai. Walaupun lantai teratas di asramaku hanya dipakai untuk olahraga, menjemur pakaian dan tazwidul mufrodat saat pagi hari sebelum berangkat sekolah.

Berharap aku dapat melihatnya, walau sekilas saja. Sekedar mengobati sesuatu yang kadang menyesak di dalam dada ini. Sesuatu yang kadang mengganggu mimpi-mimpiku. Menelisik dalam aliran darah. Kadang menghilang, ketika aku berada di kelas bersama teman-teman, ketika aku sibuk mempersiapkan ujian kelulusan. Surat tidak lagi menjadi sarana yang aman ketika menjelang ujian akhir tahun seperti ini. Aku tidak mau mempertaruhkan predikatku sebagai siswa berprestasi dengan kasus pelanggaran berat. Surat menyurat di asramaku tergolong pelanggaran kelas berat. Bisa dita’zir bila ketahuan. Aku tidak mau mahkota berhargaku habis digunduli oleh para algojo asrama. Sebutan teman-temanku kepada para ustadz yang tugasnya memberi ta’zir atau membotak kepala santri yang membandel di asrama ini.

Kemarin aku melintaskan pandanganku ketika aku disuruh ustadz Salman untuk membeli kitab di kopontren. Sengaja aku mengambil rute yang agak jauh, dengan melewati kompleknya. Komplek besar yang terisi kurang lebih lima ratusan santriwati. Berlantai tiga. Diantara ratusan santri itu ada satu yang cukup mengganggu perhatianku saat ini. Walau jauh, sekitar dua puluh meteran dari tempat aku berjalan, cukup mengobati rasa rindu yang kerap datang tak menentu. Harapanku ada pertemuan yang tak terduga, tidak terjadi siang itu. Aku hanya mendapat teguran dari satpam yang tidak pernah absen menjaga area sekitar komplek tersebut.

Menjelang kelulusan sekolah, intensitas pertemuan berkurang. kami disibukkan dengan kegiatan masing-masing. Mulai ujian lisan, hafalan sampai ujian akhir. Puncaknya yaitu saat acara akhir tahun yang biasa kami sebut dengan akhirussanah, aku bertemu dengannya. Kebetulan ia menjadi receptionist, menyambut tamu undangan baik dari orang tau siswa maupun tamu dari luar kota. Ia melayangkan sebuah senyum simpul yang sangat berarti malam itu, walau hanya sekedar sapa dan sebatas tanya.

“Bagaimana kabarmu?”

“Baik” jawabnya singkat. Sebelum bayangannya tenggelam oleh barisan tamu yang mengantri tanda tangan di buku tamu yang tersedia di mejanya.

* * *

Aku membalikkan buku alumni yang ada di tanganku, mencari sebuah nama. Yup, ketemu. Nurul Makshumah, alamat: Banjarnegara Jawa Tengah. Berbekal sebaris alamat, kupacu sepeda motor bututku menerobos berkilo-kilo meter, melintasin beberapa kota dari Jogjakarta ke Jawa Tengah. Pandanganku terhenti ketika sampai ke sebuah daerah yang bernama dataran tinggi dieng. Berasal dari kata sansekerta, “di” dan “hyang” yang berarti tempat bersemayamnya para dewa. Daerah pegunungan yang dihiasi pemandangan indah, udara yang sejuk dan air yang jernih. Pantas bila gadis yang kucari saat ini berwajah cantik, berkulit putih dengan dihiasi senyum diantara kedua pipi yang kadang merah merona.

“Ikhlaskan aku”, itu yang ia katakan padaku, ketika aku berkunjung ke rumahnya, di dataran tinggi Dieng, beberapa bulan kemudian. Sore harinya, aku kembali ke Jogja dengan meninggalkan sekeping hati dan seonggok kenangan yang tersimpan.

*Kisah ini terinspirasi dari kisah nyata seorang santri    

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *