Gus Kelik dan Santri Krapyak

by August 18, 2020

Gus Muhammad Rifqi Ali bin KH. Ali Maksum atau yang lebih dikenal – di kalangan santri- dengan sapaan akrab Gus Kelik merupakan sosok yang sangat familiar di lingkungan pondok Krapyak dengan “keunikan” khariqul ‘adahnya. Bagi santri baru atau orang yang belum mengenalnya –mungkin- akan terlihat aneh dengan kebiasaan beliau. Diantaranya sering dijumpai di lingkungan pondok –maaf- dalam keadan “ngeliga” hanya bersarung dan tanpa baju dan sedikit berbicara kecuali yang beliau “kersakke”.
Namun bagi santri yang sudah terbiasa dan sering “ditimbali” ataupun “didhawuhi” menjadi kebahagiaan tersendiri dan memiliki kesempatan emas untuk mendapatkan doa khusus dengan “sirr” Fatihahnya. Sebab tak jarang pula santri atau orang yang menemui Gus Kelik untuk minta doa beliau kadang “nyelamurke” dengan bertanya ataupun –malah- mendiamkan karena belum “kerso”.

Gus Kelik masa kecil

Kebiasaan Gus Kelik

Cerita beberapa kebiasaan Gus Kelik dengan santri krapyak mulai dari santri baru atau beliau baru melihatnya sering bertanya nama, nama orang tua dan asalnya dan sering diulang meski sebelumnya entah sekali, dua kali atau yang ke berapa kali dengan pertanyaan yang sama. Dengan bahasa khas Gus Kelik “Cung.. rene” sambil santri mencium tangan kemudian bertanya kadang dengan bahasa jawa dan campur bahasa indonesia.
Sementara kebiasaan Gus Kelik dengan santri lama sering “nimbali” dan “ndawuhi” santri untuk mengambil sendok, dan gelas milik beliau yang tergeletak di lingkungan pondok atau mencari yang terselip di kamar santri, komplek dan kantor pondok maupun madrasah. Beliau sangat hafal betul dengan miliknya mulai dari kembangan, lekuk dan ciri perkakas “pecah belah” yang jumlahnya ratusan bahkan seribu lebih. Termasuk saat selesai acara pondok mulai dari haul atau hajatan lainnya beberapa santri lama dan santri “ndalem” (di krapyak lebih dikenal dengan santri ‘DPR’ alias Dapur) mendapat tugas untuk “asah-asah” dan menata pecah belah sampai rapi.
Termasuk kebiasaan “ndawuhi” santri untuk memungut gelas atau botol plastik bekas air mineral dan kardus kemudian dikumpulkan di gudang. Beliau kadang tak pandang bulu saat “dhawuh” bisa saja yang mendapat tugas itu santri senior yang sudah menjadi pengurus, pembimbing atau guru. Namun kebiasaan seiring waktu beliau berkeluarga tidak pernah dilakukan lagi.

Sewu, Tak Jenggoti dan Tak Dongakke

Bagi santri lama tentu tidak asing dengan kata “sewu” apalagi yang sudah akrap dengan Gus kelik atau santri yang dikehendaki beliau baik saat berpapasan pulang dari angkringan atau hendak keluar makan maupun saat mendatangi kamar santri. Saya pribadi menyaksikan semua terdata rapi baik nama dan nominalnya ada catatan pribadi di kamar beliau. Bahkan tak jarang pula untuk orang-orang tertentu mendapatkan kwitansi dengan sejumlah nominal ditulis beliau sendiri dan ditandatangani dengan tulisan “Rifqi Ali”. Dari yang beliau kumpulkan ini dikemudian hari setelah mencukupi ditashorrufkan untuk membeli “pecah belah”, perkakas dan sound system yang bisa digunakan saat Haul atau hajatan krapyak. Masya Allah.. (Untuk beberapa hal terkait dalam tulasan ini akan saya ulas pada catatan tersendiri).

Bahasa “tak jenggoti” bagi sebagian santri lama atau yang ikut khidmah di pondok krapyak menjadi simbol keakraban Gus Kelik saat bertemu atau kadang melaui telpon sekalipun saat beliau bercanda “awas..nakal.. tak jenggoti” spontan santri pura-pura menolak dengan “ampun..Gus” atau seperti nada menangis. Postur tubuh beliau yang gagah tinggi dengan mudah “nyikep” leher santri untuk “njenggoti” pipi dan kadang pula yang dijenggoti tangan setelah bersalaman, beliaupun kemudian tertawa dengan khasnya –menurut cerita- seperti tertawamya Mbah Ali.
Yang paling ditunggu-tunggu santri ketika beliau ngendiko “Tak Dongakke” beragam doa yang terucap sesuai dengan situasi dan kondisi. Adapun yang sering diucapkan untuk santri MTs/MA adalah “moga jadi anak sholih/pinter/lulus” sementara untuk yang santri lama atau alumni doa cepat nikah, naik naik haji, punya pondok, punya anak tergantung dengan kondisi hati beliau tentunya. Namun doa istimewa yang selalu ditunggu oleh santri dan menjadi doa andalan beliau seperti yang pernah saya saksikan saat “nderekke” beliau keliling jawatimur mulai dari pengasuh pondok Jombang Tambak Beras, Peterongan, Lirboyo Kediri, Pasuruan dll adalah “Doa Al-fatichah” yang diulang tiga kali, pertama saat sebelum doa, kedua saat doa mengangkat tangan, dan ketiga saat selesai doa.

Mengenang Haul Gus Kelik ke-4

Kagem Gus Kelik Saha Ibu Nyai Sak Dzurriyyatipun Alfaatichah….
Ibham Santrine Gus Kelik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *