History is Story

by July 29, 2020

Siapa yang sangka bahwa Bapak Sejarah itu, Herodotus, menulis sejarah tentang Perang Parsi yang memuat berbagai spekulasi soal pengaruh Dewa-Dewi Yunani atas kemenangan mereka di Pulau Salamis? Sejarah Perang Parsi itu ditulis ratusan tahun sebelum Masehi. Di sana, Herodotus melakukan metode heuristik pertama di dunia. Ia berkelana, mencari sumber dari satu tempat ke tempat yang lain, mengumpulkannya. Dari sumber-sumber itulah kemudian ia merumuskan dan menyusun satu kisah peperangan dunia yang pertama, antara Barat dan Timur, antara Yunani dan Persia.

Sejarah historiografi klasik memang sering diliputi oleh imajinasi dan intuisi penulisnya. Sehingga, sejarah pada zaman klasik dapat pula dipandang tidak hanya sebagai sejarah, namun juga karya sastra. Babad Tanah Jawi, misalnya. Apakah benar bahwa Joko Tingkir diiringi empat puluh buaya dalam perjalanannya? Penelitian lebih lanjut menyebutkan, bahwa “empat puluh buaya” itu dapat ditafsirkan sebagai “perempuan-perempuan yang ia taklukkan selama perjalanan”. Terlebih, historiografi tradisional Jawa ditulis oleh para pujangga yang dekat dengan raja. Sehingga, semua peristiwa yang membawa kesan negatif buat pemerintah pada saat itu harus dimasukkan ke dalam sebuah metafora yang samar. Agar, nama baik raja dapat terlindungi di mata rakyatnya.

Keadaan ini berubah sejak diperkenalkannya sejarah sebagai ilmu yang mesti bersandar pada sumber. Seorang sarjana Jerman abad ke-19 bernama Leopold von Ranke lah yang kemudian mempopulerkan hal ini. Ia menganggap bahwa sejarah harus ditulis sebagaimana itu terjadi. Selain itu, ia menegaskan bahwa “no written document, no history”. Hal ini merupakan satu hal yang diusahakannya agar sejarah menjadi satu cabang ilmu pengetahuan yang kredibel dan dapat dipertanggungjawabkan kebenaran peristiwa-peristiwanya.

Sayangnya, apa yang kemudian disebut sebagai “dokumen” dalam pengertian von Ranke hanya dimiliki oleh mereka yang punya kuasa. Maka tak jarang, sejarah Madzhab Rankian adalah sejarah yang berpusat pada sektor penguasa dan tidak menyentuh kehidupan masyarakat akar rumput yang lebih kompleks dan kadang berkebalikan. Yang menyimpan dokumen kebanyakan adalah pemerintah, dan untuk dikenang sebagai sebuah masa yang baik, maka tak jarang “dokumen” itu pun dapat dipalsukan. Sementara, orang-orang kecil tak akan mendapat posisinya dalam jalannya sebuah peradaban karena sejarah mereka jarang ditulis.

Keadaan ini berlangsung hingga awal abad ke-20, ketika tiga sarjana Prancis, Marc Bloch, Lucien Febvre, dan Fernand Braudel, mencoba menyimpulkan satu pandangan baru tentang sejarah dan menamai pemikiran mereka sebagai Madzhab Annales. Di sini mereka berkonsentrasi pada sejarah-sejarah sosial, satu pokok sejarah, yang jarang dibahas untuk melengkapi kejadian pada masa lalu. Mereka mengkritik Madzhab Rankian sebagai sejarah yang kering, tanpa kisah, dan membosankan.

Yang demikian agaknya benar. Karena sejak awal, sejarah dipandang sebagai seni, atu sebagai sebuah kisah. Tentu saja, pengertian seni dan kisah dalam sejarah berbeda dengan pengertian seni dan kisah dalam sebuah novel, cerpen, atau drama.

Unsur Seni dalam Sejarah
Tak dapat dipungkiri lagi bahwa sejarah merupakan salah satu cabang ilmu pengetahuan. Sejarah memiliki unsur empiris, unsur yang menekankan pada pengalaman dan pembuktian yang dapat dilakukan melalui keabsahan peristiwa-peristiwa pada masa lampau. Sejarah juga memiliki objek kajian, yaitu masa lalu. Dan ilmu, memang harus memiliki objek yang harus dikaji. Selain itu, sejarah memiliki metode, yaitu pengumpulan sumber, kritik sumber, interpretasi, dan penulisan sejarah. Ada urutan-urutan yang harus dilakukan dalam sebuah penelitian sejarah, dan hal tersebut memerlukan sebuah metode. Di sisi yang sama, sejarah memiliki generalisasi. Generalisasi di sini maksudnya adalah koreksi atas ilmu-ilmu lain. Maka tak jarang, kesimpulan sebuah penelitian sejarah dapat dijadikan satu teori yang dapat mendukung cabang ilmu lain, misalnya ilmu sosial.

Kendati demikian, sejarah akan menjadi terlalu kering jika hanya berdasar pada common sense dan menceritakan peristiwa tanpa mengambil kesimpulan yang dapat dikategorikan sebagai masalah yang lebih besar. Oleh sebab itu, sebagai ilmu yang memiliki nilai sastra pada awal sejarah perkembangannya, sejarah tetap harus mempunyai unsur seni. Unsur seni di sini gunanya sebagai penyeimbang dan membuat sejarah dapat dinikmati sebagai sebuah bacaan. Sehingga, sejarah tidak hanya berfungsi menjelaskan peristiwa masa lalu, namun juga berkisah di dalamnya.

Sejarah, dalam kaitannya dengan seni, memerlukan intuisi. Intuisi dimaksudkan sebagai pemahaman langsung atau instingtif terhadap penelitian yang ia lakukan. Intuisi lah yang akan menuntun seorang sejarawan untuk menemukan sumber-sumber yang sedang ia cari. Kemudian, sebagai seni, sejarah juga memerlukan imajinasi. Dalam metode penelitian sejarah, imajinasi terletak setelah semua sumber melewati kritik. Artinya imajinasi terletak saat seorang sejarawan menginterpretasi sumber-sumber yang ada. Dalam interpretasi itu, ia dituntut untuk “mengimajinasikan” hal-hal yang dapat menuntunnya memahami kejadian sebuah peristiwa. Misalnya, pada sejarah pergerakan nasional. Ia harus dapat membayangkan seorang anak pribumi yang mulai bangkit kesadarannya untuk mendirikan organisasi. Imajinasi tersebut akan membantunya untuk memahami bagaimana perkumpulan demi perkumpulan dibentuk dan diberdayakan. Sehingga, dari sana dapat ditelisik perkembangan tiap-tiap organisasi nasional pertama di Hindia-Belanda.

Kemudian, unsur seni lain yang dapat dimasukkan dalam sejarah adalah emosi. Emosi diperlukan untuk memperkuat pandangan sejarawan terhadap peristiwa masa lalu. Pada Perang Jawa misalnya. Kita harus dapat merasakan bagaimana pasukan Pangeran Diponegoro bergerilya dari satu hutan ke hutan yang lain sebelum akhirnya ditangkap oleh Pemerintah Kolonial. Saat ditangkap itu, kita merasakan peristiwa haru yang teramat sangat. Penulisan sejarah secara emosional, yang tentunya masih bersandar pada fakta, kata Kuntowijoyo, akan “sangat penting untuk pewarisan nilai”.

Sayangnya, unsur seni dalam sejarah ini bukannya tanpa batasan. Seringkali kritik dilancarkan dalam kaitan sejarah sebagai seni. Yaitu, sejarah akan kehilangan objektivitasnya dan terbatas. Kehilangan objektivitas ini disebabkan oleh pandangan individual seorang sejarawan yang terlalu berlebihan dalam melukiskan sebuah peristiwa. Sementara, sejarah juga akan terbatas pada sejarah yang memerlukan kisah, sedangkan sejarah ekonomi dan sejarah kuantitatif yang menonjolkan statistik dan angka-angka tidak dapat “dikisahkan” lebih banyak.

Bagaimanapun juga, merupakan kelebihan seorang sejarawan lah yang akan dapat memasukkan unsur seni secara tepat dalam penelitiannya. Tentunya, “seni” di sini akan terbatas dalam porsi yang wajar dan tetap bersandar pada fakta.

Implementasi Seni: Sejarah Naratif
Sejarah naratif merupakan implementasi sejarah sebagai sebuah kisah yang memerlukan penelitian akan peristiwa masa lalu. Singkatnya, sejarah naratif itu adalah sejarah deskriptif. Namun, deskripsi yang dimaksud di sini bukan hanya sekedar membeberkan fakta satu per satu. Menurut Kuntowijoyo dalam buku Penjelasan Sejarah, sejarah naratif harus memiliki tiga poin penting, yaitu (1) colligation, (2) plot atau alur cerita, dan (3) struktur sejarah.

Colligation merupakan pencarian hubungan antara peristiwa sejarah. Misalnya, ada konflik militer yang pecah pada 17 Oktober 1952. Setelah itu diadakan rekonsiliasi pada 21 Februari 1955. Dua tahun setelahnya, salah seorang eks militer yang berkonflik sebelumnya itu melakukan percobaan pembunuhan terhadap Presiden Soekarno. Tiga peristiwa tersebut harus dicari benang merahnya. Kemudian, mesti ditemukan pula unsur kausalitasnya. Pertanyaan yang selanjutnya dapat diutarakan adalah, apakah kekecewaan sebagian oknum militer berakibat pada hilangnya kepercayaan mereka terhadap Presiden?

Poin yang kedua merupakan plot. Sama seperti kisah novel, sejarah naratif harus pula memiliki alur cerita. Alur cerita di sini dimaksudkan sebagai peristiwa yang mempengaruhi peristiwa yang lain dalam segi sebab akibat. Plot bersifat menjelaskan dan dan menafsirkan. Artinya, kalau ada ungkapan bahwa “Permaisuri meninggal kemudian raja mati”, itu bukanlah plot. Namuna, jika “Permaisuri meninggal kemudian raja mati karena bersedih”, itu baru namanya plot. Plot serupa adegan yang berjalan dari satu babak menuju yang lain. Artinya, plot memiliki unsur keberlanjutan.

Yang ketiga, sejarah naratif harus memiliki struktur sejarah. Sederhananya, struktur dalam sejarah naratif berarti keberurutan peristiwa demi peristiwa. Sehingga, sejarah naratif pada akhirnya dapat menunjukkan rekonstruksi yang akurat.

Beberapa contoh sejarah naratif yang menarik dan pernah saya baca, namun belum tuntas, adalah Zaman Bergerak karangan Takashi Shiaisi. Buku ini secara detail berkisah tentang pergrakan politik rakyat kelas bawah di Surakarta tahun 1912 hingga 1926. Dalam buku ini, dijelaskan secara gamblang tentang radikalisme rakyat beserta organisasi-organisasi yang menaunginya. Ada Sarekat Islam, PKI yang saat itu masih kepanjangan dari Perserikatan Komoenis di Hindia, Sarekat Abangan, dan Personel Fabriek Bond (PFB). Dalam bab-bab awal, Takashi Shiraisi bahkan menggambarkan secara detail bagaimana Tjokroaminoto berpidato, dengan “suara baritonnya yang menggelegar”.

Aufannuha Ihsani, Alumni Krapyak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *