Islam Tartib

by July 13, 2020

Tartib artinya berurutan dan keteraturan, yang di depan harus didahulukan dan yang di belakang harus diakhirkan. Begitulah kira-kira, tidak boleh saling mendahului atau melompat-lompat. Setiap ada kata RUKUN dalam kajian Islam, hendaknya bisa difahami bahwa hal itu harus dilakukan secara tartib contoh Rukun Wudhu, Rukun Sholat, dsb.

Tidaklah SAH orang berwudhu langsung membasuh kaki, tanpa didahului niat dan membasuh wajah. Dulu ketika belajar di pesantren, saya ingat pertama kali yang diajarkan Mbah Kyai adalah kitab kecil bin tipis namanya Sulam Diyaanah, pada halaman pertama menjelaskan tentang Arkaanuddiin/Rukun Agama yang tiga yaitu Iman, Islam dan Ihsan. Kemudian setelah ngaji kitab Arba’in, ternyata itu bersumber dari saat Malaikat Jibril mula-mula mengajarkan Agama kepada Rasululloh SAW (hadits nomor 2 dalam Kitab Arbain Nawawi). Dalam Kitab-kitab Tarikh dijelaskan, pertama kali yang diajarkan Rasulullah SAW kepada para sahabat adalah tentang keimanan yang benar. Tuhan yang benar sehingga turun Surat Al Ikhlas. “Qul huwallahu ahad” Katakanlah, Dialah Allah Tuhan Yang Maha Esa, dst.

Nabi SAW tidak mengajari para sahabat langsung tafsir Al Qur’an, apalagi njujug/langsung ayat-ayat jihad, ayat-ayat anti yahudi/nasrani. Bahkan yang saya fahami, Nabi Muhammad SAW pun tidak langsung mengajak para sahabat untuk mujahadahan (Ihsan). Di pesantren setelah itu, saya belajar tentang rukun iman yang enam, sampai KHOMSIINA AQIIDATAN, lima puluh Keyakinan. Kemudian belajar tentang Islam/Fikih, tartib urut dari Bab Thoharoh dan seterusnya, berganti Kitab, tetap bab yang pertama isinya masalah Air, sampai klebus basah kuyub, hingga bab Muamalah. Bahkan seingat saya sampai Aliyah tidak banyak mendapat pelajaran tentang Ikhsan/tasawwuf, thoriqoh, mujahadah dsb, kecuali dikit-dikit ngaji sendiri. Dalam pemahaman saya, rukun Islam yang limapun hendaknya dilakukan Tartib, Pertama Syahadat, Kedua sholat sampai haji. Kalo habis Syahadat langsung haji, nanti ketemunya haji nggak pernah SHOLAT! atau sudah Syahadat terus Sholat tapi belum pernah puasa langsung haji, ntar ada haji nggak pernah puasa. Dan maaf, yang paling banyak terlihat ada orang sudah Syahadat, Sholat, Puasa tapi belum pernah zakat. Insyaa Allah hajinya sah, tapi yang muncul. HAJI P E L I T! maaf ya Pak Haji Bu Hajjah, hehe.

Kewajiban amar ma’ruf nahi munkar, semestinya juga dilakukan dengan Tartib sesuai dengan yang ada dalam Al-Quran Surah Ali Imran 104, 110, 114 dsb. Amar Ma’ruf dulu baru Nahi Munkar. Ajak baik dulu baru cegah kemungkaran, itu tartibnya, jangan langsung marah. NGAMUK dan NGEBOM! lbarat konstruksi bangunan masjid, iman adalah fondasinya yang sayang tidak kelihatan. Islam adalah tiang temboknya, sedangkan Ihsan adalah Atap mustokonya. Tentu pondasilah yang didahulukan dan yang utama, walau tiang dan atap mustoko juga penting!

Namun kecenderungan yang terlihat, orang Islam lebih mantep dengan mendahulukan penampilan lahiriyah yang Islami. Supaya terlihat ISLIM (saking Islamnya). Harus serba Arab, mulai dari berbusana, berbahasa, sampai orang asli Jawapun yang ditampakkan berbicara dengan bahasa antum, anti, antuma, antunna, ana nahnu. Ingat ngapalin shorof di pesantren. Ana faham, bahasa Arab adalah bahasa yang faling mulia.

Berbusana gamis, memelihara jenggot adalah Sunnah Rasul yang tidak perlu diperdebatkan, itu shohih benar, mari kita amalkan. Ada bekas sujud di wajah adalah sifat pengikut Rasululloh SAW. (siimaahum fii wujuuhihim min atsarissujuud) AL Fath: 29. Yang menurut banyak riwayat itu tidak harus nampak secara fisik, namun apakah semua itu harus ditampakkan dan ditonjolkan? Afwan. Ana SANTRI BAHLUL BIN FANDIR. Adalah kabar semoga tidak benar, ada orang pakai gamis, serbanan kemana-mana bawa tasbih, tapi kalau melihat perempuan cantik matanya nggak mau berkedip. Ada orang kalau berbicara pakai bahasa agamis, dikit-dikit MASYA ALLAH, ALHAMDULILLAH. Pokoknya Arab yang fasih dan terlihat ISLIM, tapi ternyata kesana-kemari, suka nipu orang. Ma’aadzallah…

Kembali ke tartib, mestinya orang nikah sampai punya anak, urutannya adalah: Pertama ada lamaran. Kedua Ijab Qabul. Ketiga baru HAMIL. Keempat Melahirkan. Entah sebab apa, sekarang tartib urutan tersebut banyak dibolak balik. Pertama HAMIL! baru Lamaran. Na’uudzubillah. Ya Allah limpahkan MAGHFIROHMU!

KH Henry Sutopo, dalam bukunya: Catatan Seorang Santri

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *