Jiwa Entrepreneurship Santri

by August 29, 2020

Sesuai perkembangan zaman, pondok pesantren harus mampu menciptakan lulusan dengan berbagai kemampuan karena tidak semua santri akan menjadi seorang kyai. Maka dari itu salah satu pendidikan pesantren santri harus dibekali dengan berwirausaha. Dalam era serba teknologi zaman sekarang kreatif santri sangat diperlukan untuk meningkatkan jiwa enterpreneurship dalam mengembangkan ide maupun gagasan yang nantinya akan menciptakan suatu inovasi dan dilandasi dengan ilmu keagamaan. Meningkatkan jiwa entrepreneurship santri pondok pesantren harus ada pendampingan dari orang-orang yang lebih berkompeten dibidangnya.

Kini sudah saatnya bangsa Indonesia memikirkan dan mencari terobosan dengan menanamkan sedini mungkin nilai-nilai kewirausahaan, terutama bagi kalangan terdidik seperti santri di pondok pesantren. Penanaman nilai-nilai kewirausahaan bagi banyak orang diharapkan bisa menimbulkan jiwa kreativitas untuk berbisnis atau berwirausaha sendiri serta tidak bergantung pada pencarian kerja yang semakin hari semakin sempit dan ketat persaingannya. Kreativitas ini sangat dibutuhkan bagi santri yang berjiwa entrepreneurship untuk menciptakan sebuah peluang kerja, tidak hanya bagi dirinya sendiri tapi juga bagi orang lain. Ini sesuai dengan keinginan Kantor Menteri Koperasi dan UKM untuk menciptakan 20 juta usaha kecil menengah baru tahun 2020. Keinginan ini direspon positif oleh Ir. Aburizal Bakhri bahwa membangun UKM sama dengan membangun ekonomi Indonesia. Katakanlah satu UKM mempekerjakan 5 orang, maka 20 juta UKM akan menyerap lebih dari 100 juta tenaga kerja. Hal ini tidak bisa dilakukan perusahaan besar ( Frinces, 2004 : 4).

Masyarakat Ekonomi Asean

Pada bulan Desember 2015, pemerintah memberlakukan adanya kebijakan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA), kebijakan tersebut menghadirkan sebuah tantangan baru bagi masyarakat untuk bertindak ekonomi dan berusaha meningkatkan skill  untuk menciptakan tingkat daya saing tinggi. Maka dari itu pondok pesantren juga harus ikut mempersiapkan santri-santrinya untuk bisa mempersiapkan diri menghadapi MEA. Santri yang dikenal mempunyai karakter mandiri, sederhana, tidak mudah menyerah serta berani mengambil resiko. Karakter santri begitulah yang menjadi modal berjiwa entrepreneurship. Pondok pesantren harus berusaha untuk melatih santri-santrinya agar mandiri dan kreatif melalui beberapa bidang usaha yang dimiliki seperti koperasi pondok pesantren, santri mampu mengelola waktu untuk melaksanakan kewajiban untuk mengaji tanpa meninggalkan mengabdi. Dalam mengelola bidang usaha yang dimiliki oleh pondok pesantren tentunya para santri mulai timbul  jiwa entrepreneurship.

Koppontren

Contohnya pada koperasi pondok pesantren menyediakan kebutuhan sehari-hari santri termasuk jajanan. Kemudian banyak limbah-limbah plastik bungkus jajanan maupun minuman belum dikelola secara optimal. Keterbatasan pemikiran santri menjadikan bidang usaha belum maksimal jika dilihat secara keseluruhan. Ada beberapa yang menimbulkan probematika terhadap lingkungan sekitar. Jika sampah plastik tersebut dibuang begitu saja maka akan memperparah dampak buruk dari sampah tersebut bagi pondok pesantren. Maka perlu adanya pendampingan dalam kegiatan-kegiatan tersebut. Sampah plastik yang sudah tidak dipakai dapat dimanfaatkan sebagai kreasi seni yang tinggi, apabila kita mampu mengolahnya. Salah satu pemanfaatannya adalah dengan membuat tas dan dompet dari limbah plastik yang bisa dilakukan para santri agar sampah yang tidak berguna dapat mempunyai nilai ekonomis.    

Noval Setiawan, Santri Ponpes Al-Munawwir Komplek L Krapyak Yogyakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *