Keteladanan Dua Umar

by August 1, 2020

Sudah banyak dunia ini melahirkan ribuan bahkan jutaan pemimpin. Tetapi tidak semua pemimpin yang ada di dunia ini merasa bahwa kedudukannya hanyalah sebuah titipan dari Allah swt. Dalam Islam sebuah jabatan adalah sebuah amanah. Oleh karena itu, seorang pemimpin selayaknya sadar, bahwa jabatan adalah bukan miliknya tetapi milik Allah yang sedang dipinjamkan untuknya.

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”  (QS. An-Nisa: 58-59)

Karena jabatan itu adalah sebuah amanah, maka seorang pemangku jabatan haruslah sadar, bahwa jabatan yang diembannya harus difungsikan untuk kepentingan sebuah kemaslahatan. Dan harus diingat kemaslahatan bukan ditujukan untuk pribadi. Tetapi untuk rakyat, bawahan, anggota atau masyarakat. Jika seorang pemimpin mengakui bahwa dirinya memangku sebuah jabatan ia akan segera sadar, bahwa tugasnya sangatlah berat. Ia akan selalu menyadari, bahwa Allah swt senantiasa mengawasi dan akan meminta pertanggung jawabannya kelak di akhirat.

Oleh karenanya, seorang pejabat atau pemimpin yang memiliki kesadaran demikian akan selalu berhati-hati terhadap semua fasilitas yang dipakainya. Apakah pakaian, tempat, makanan atau lainnya memiliki keterlibatan kepemilikan rakyatnya, anak buahnya, institusinya atau lainnya. Jika terlibat ia akan cepat mencopot dan tidak menggunakannya. Sebuah kisah yang dapat kita ambil pelajarannya dari Umar bin Abdul Aziz berikut ini:

Suatu hari datanglah seorang utusan dari salah satu daerah kepada beliau. Utusan itu sampai di depan pintu Umar bin Abdul Aziz dalam keadaan malam menjelang. Setelah mengetuk pintu seorang penjaga menyambutnya. Utusan itu pun mengatakan, “Beritahu Amirul Mukminin bahwa yang datang adalah utusan gubernurnya”. Penjaga itu masuk untuk memberitahu Umar yang hampir saja berangkat tidur. Umar pun duduk dan berkata “Ijinkan dia masuk”. Utusan itu masuk, dan Umar memerintahkan untuk menyalakan lilin yang besar. Umar bertanya kepada utusan tersebut tentang keadaan penduduk kota dan kaum muslimin di sana, bagaimana perilaku gubernur, bagaimana harga-harga, bagaimana dengan anak-anak, orang-orang Muhajirin dan Anshar, para ibnu sabil, orang-orang miskin. Apakah hak mereka sudah ditunaikan? Apakah ada yang mengadukan? Utusan itu pun menyampaikan segala yang diketahuinya tentang kota kepada Umar bin Abdul aziz. Tak ada sesuatu pun yang disembunyikannya. Semua pertanyaan Umar dijawab lengkap oleh utusan itu.

Ketika semua pertanyaan Umar telah selesai dijawab, utusan itu balik bertanya kepada Umar. “Ya Amirul Mukminin, bagaimana keadaanmu, dirimu, dan badanmu. Bagaimana keluargamu, seluruh pegawai dan orang-orang yang menjadi tanggung jawabmu?” Umar pun kemudian dengan serta merta meniup lilin tersebut dan berkata, “Wahai pelayan, nyalakan lampunya!” Lalu dinyalakanlah sebuah lampu kecil yang hampir-hampir tidak bisa menerangi ruangan karena cahayanya yang teramat kecil.

Umar melanjutkan perkataanya, “Sekarang bertanyalah apa yang kamu inginkan.” Utusan itu bertanya tentang keadaannya. Umar memberitahukan tentang keadaan dirinya, anak-anaknya, istri, dan keluarganya. Rupanya utusan itu sangat tertarik dengan perbuatan yang telah dilakukan oleh Umar, mematikan lilin. Dia bertanya, “Ya Amirul Mukminin, aku melihatmu melakukan sesuatu yang belum pernah anda lakukan.” Umar menimpali, “Apa itu?” “Engkau mematikan lilin ketika aku menanyakan tentang keadaanmu dan keluargamu.” Umar berkata, “Wahai hamba Allah, lilin yang kumatikan itu adalah harta Allah, harta kaum muslimin. Ketika aku bertanya kepadamu tentang urusan mereka maka lilin itu dinyalakan demi kemaslahatan mereka. Begitu kamu membelokkan pembicaraan tentang keluarga dan keadaanku, maka aku pun mematikan lilin milik kaum muslimin.”

Inilah sebuah teladan yang wajib ditiru oleh seluruh pemimpin, bahwa fasilitas negara, institusi atau lainnya bukan untuk kepentingan pribadi, tetapi untuk kemasla-hatan rakyat dan anggota. Dan bahwa jabatan bukan untuk membuat dirinya nyaman, tetapi untuk kemaslahatan umat.

Fasilitas sebuah institusi, baik negara atau lainnya bukan hanya berupa benda, tetapi bisa juga berupa akhlak. Seorang pemimpin memang selayaknya mempunyai wibawa. Tetapi kewibawaan seorang pemimpin jangan sampai membuat rakyat sungkan dan merasa tertindas atau takut karena perangainya. Jika demikian, ketika ada sesuatu yang dianggap menyimpang dari kemaslahatan umat, rakyat atau anak buah enggan untuk menyampaikannya kepada pemimpin, karena takut. Oleh karena itu, dibutuhkan seorang pemimpin yang berwibawa tetapi rendah hati (tawadlu). Hal ini bisa diteladani dari sebuah kejadian ketika dalam sebuah pertemuan Umar bin Khattab dengan para sahabatnya, seseorang berteriak: “O, Umar, takutlah kepada Tuhan.” Para hadirin bermaksud membungkam orang itu, tapi Khalifah mencegahnya sambil berkata: “Jika sikap jujur seperti itu tidak ditunjukan oleh rakyat,  rakyat menjadi tidak ada artinya. Jika kita tidak mendengarkannya, kita akan seperti mereka.”

Kisah ini menunjukkan kebebasan menyampaikan pendapat telah dipraktekkan dengan baik. Pemimpin haruslah mendahulukan kesejahteraan rakyat dibanding dirinya sendiri. Pemimpin haruslah menjadi orang yang takut akan kesengsaraan rakyat atau bawahannya. Pemimpin juga harus sadar, bahwa setiap gerak-gerik, waktu, fasilitas dan kehidupannya selama menjabat tersebut akan diperhitungkan oleh Allah. Apakah untuk kepentingan diri sendiri atau untuk kepentingan umat, rakyat, atau bawahannya.

Sebuah cerita lain dari Umar bin Khattab yang bisa kita ambil pula pelajaran. Suatu sore Umar bin Khattab merasa gelisah dengan hati resah. Kegelisahannya membuat ia keluar kota hingga perbatasan untuk menunggu utusan dari Qadisiyah. Hal ini dilakukan sudah beberapa hari. Umar mengirim sebuah ekspedisi pasukan untuk menyerang Persia. Pasukan Islam dan Persia bertempur di Qadisiyah. Namun hingga saat itu Khalifah Umar bin Khattab belum mendapatkan berita, apakah pasukan Islam menang atau kalah.

Ketika Umar sedang menunggu-nunggu kabar tersebut di perbatasan kota, datang seseorang yang belum pernah dilihat dan melihat Umar. Umar menanyakan siapa dan dari mana. Seseorang itu menjawab, bahwa dirinya utusan dari Kaum Muslim berasal dari sebuah kabilah Arab yang bergabung dengan pasukan Islam untuk berperang melawan Persia di Qadisiyah. Ia hendak menyampaikan pesan kepada Khalifah Umar bin Khattab, bahwa pasukan Islam mengalami kemenangan. Mendengar kabar seperti itu Umar langsung mengucapkan ”Alhamdulillah”, sambil bertakbir. Orang yang ada di hadapan Umar tidak mengetahui bahwa yang di depannya adalah Umar bin Khattab, khalifah rasul, amirul mukminin. Setelah memberi kabar kemenangan pasukan Islam orang tersebut berjalan sambil menunggang kuda, sementara Umar bin Khattab hanya berjalan di belakang kuda. Di sepanjang jalan menuju pusat kota Madinah Umar menanyakan ini dan itu tentang kemenangan pasukan Islam.

Memasuki kota Madinah orang-orang menyalami Umar. “Assalamu’alaikum ya amirul mukminin” melihat orang-orang menyalami orang yang berjalan di belakang kudanya, utusan dari Qadisiyah tersebut langsung turun dan mencium serta memeluk Umar. Ia langsung berkata: “Apakah engkau amirul mukminin Umar bin Khattab?” Umar hanya tersenyum. “Kenapa engkau tidak mengatakan semenjak tadi bahwa engkau adalah Khalifah Rasul? Sungguh aku merasa malu dan berdosa, karena aku tidak sopan membiarkanmu berjalan sementara aku menaiki kuda ini”. Umar berkata: “Engkau tidak apa-apa saudaraku, tidak ada yang perlu dirisaukan”.

Sungguh cerita yang sangat unik. Kejadian yang sangat indah. Seorang pemimpin yang sangat bersahaja dan rendah hati. Tidak nampak kesombongan. Umar merasa bahwa yang patut bersombong hanyalah Allah. Ia hanyalah seorang manusia yang diberi amanat untuk memimpin rakyat. Dan amanatnya bukan untuk dijadikan sebagai penguat bahwa dirinya adalah orang yang harus dihormati, dinomor satukan, dan lain sebagainya. Semoga para pemimpin bangsa ini dapat menjadikan dirinya seperti Umar bin Khattab atau Umar bin Abdul aziz. Amin!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *