Komunikasi Dengan Diri Sendiri

by December 9, 2016

Semua makhluk pasti melakukan komunikasi. Mereka membutuhkan komunikasi sebagai media untuk keberlangsungan hidup. Dengan kata lain, hidup adalah komunikasi itu sendiri. Tanpa komunikasi tidak akan pernah ada kehidupan. Bahkan adanya alam semesta seisinya adalah sebentuk komunikasi Allah dengan makhluqnya. Melalui penciptaan, Allah berkehendak menyampaikan pesan kepada kita akan keberadaan-Nya. Menunjukkan bahwa Dia ada.

Komunikasi sebagai suatu sarana berbagi informasi, gagasan, emosi, ketrampilan dan sebagainya dengan menggunakan simbol, kata-kata, gambar, grafik dan sebagainya pada umumnya membutuhkan minimal 2 pihak atau peserta yang terlibat dalam  komunikasi. Seperti komunikasi makhluk dengan penciptanya, komunikasi dengan orangtua, komunikasi dengan keluarga, dst. Lalu, bisakah komunikasi dilakukan seorang diri dengan diri sendiri?

Islam menyatakan akan pentingnya komunikasi dengan diri sendiri. Setidaknya ada 2 hadits Rasulullah Muhammad saw yang bisa menjadi acuan kita tentang komunikasi intrapribadi. Hadits pertama memuat perintah untuk meminta fatwa kepada qalb dan hadits kedua memuat tentang kedudukan qalb dimana qalb berada pada posisi penting dan sangat menentukan baik atau buruknya seluruh tubuh.

Hadist pertama dilatarbelakangi peristiwa di mana seorang sahabat bernama Wabishah bin Ma’bad r.a pada suatu kesempatan mendekati Rasulullah Muhammad saw. Rasulullah kemudian berkata kepadanya : “kamu hendak bertanya tentang kebenaran kan?” Wabishah menjawab : “ya.” Lalu Rasulullah Muhammad saw mengatakan : “mintalah fatwa kepada qalbmu!”. Rasulullah Muhammad saw menyuruh kita untuk bertanya kepada qalb kita karena secara fitrah qalb pasti menunjukkan kepada kebenaran. Persoalannya, apa qalb manusia bisa memberikan jawaban atas pertanyaan pemiliknya dan menuntunnya ke jalan yang haq ?

Nah, jawabannya ada di hadits kedua. Yaitu hadits yang menerangkan bahwa baik buruknya seluruh tubuh tergantung pada baik-buruknya qalb. Jika qalb kita baik maka seluruh tubuh kita, aktivitas kita juga baik. Sebaliknya, bila qalb kita dalam kondisi buruk secara otomatis akan buruk pula seluruh tubuh kita. Untuk itu perlu kiranya kita memberi perhatian yang lebih terhadap qalb agar senantiasa dalam kondisi baik.  Qalb yang selalu dalam kondisi baik pasti siap sedia menjawab semua pertanyaan kita. Dan karenanya kita akan terselamatkan dari mengikuti jalannya orang-orang yang dimurkai Allah dan jalannya orang-orang yang sesat.

Dalam suatu kasus, adakalanya qalb sudah memberikan petunjuk yang haq kepada pemiliknya, akan tetapi sang pemilik qalb tidak mau atau tidak mampu memahami petunjuk tersebut. Jika itu terjadi maka berarti telah terjadi gagal paham komunikasi. Oleh sebab itu, agar kita bisa berkomunikasi dengan qalb secara efektif  maka setidaknya ada tiga hal di bawah ini yang perlu dilakukan dengan sebaik-baiknya.

Pertama adalah membaca. Membaca merupakan aktivitas penting yang diperintahkan Allah kepada kita. Membaca secara umum, yakni membaca apapun di alam semesta ini. Membaca alquran, buku, alam, situasi, dst. Meditasi dan self hipnosis bisa dikategorikan sebagai kegiatan membaca sebab ada pembacaan diri sendiri di sana. Orang yang membaca berarti telah mengaktifkan dan mendayagunakan aqlnya. Agar  aql terhubung secara sempurna dengan qalb  maka membacalah dengan nama Allah yang telah menciptakan kita.

Kedua yaitu beribadah dan berdzikir . Seseorang yang melaksanakan beribadah dan berdzikir terutama shalawat secara rutin insyaallah qalbnya akan lebih mudah menerima gelombang energi cahaya Ilahi. Qalb yang bercahaya pertanda qalb yang sehat, qalb yang baik. Dan selama itu pula qalb sejatinya telah melakukan komunikasi non verbal dengan kita melalui gelombang energi cahaya yang qalb pantulkan kepada diri kita.

Ketiga dengan menulis. Saat menulis pada dasarnya kita sedang berkomunikasi dengan diri sendiri sebab kegiatan menulis juga melibatkan semua unsur dalam tubuh. Oleh karenanya menulis mampu mengefektifkan komunikasi dengan diri sendiri. Dan hasil dari tulisan kita pun nantinya dapat membantu orang lain untuk berkomunikasi dengan diri mereka sendiri. Barangsiapa menolong orang lain sesungguhnya dia sedang menolong dirinya sendiri. Maka menulislah !

Demikian sedikit tulisan tentang komunikasi dengan diri sendiri. Bila komunikasi kita dengan diri sendiri lancar dan baik, maka komunikasi kita dengan pihak lain juga insyaallah akan baik pula. Karena berarti dia sudah “selesai” dengan dirinya sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *