Kontribusi Kaum Santri dalam Sketsa Sejarah Indonesia

by September 13, 2020

Istilah santri diambil dari bahasa Tamil  dari kata “shastra’i” yang mempunyai arti seorang ahli buku suci dalam agama (Hindu).  Di kalangan pesantren, santri mempunyai makna murid pesantren yang tinggal di asrama pondok. Hanya yang rumahnya dekat dengan pondok saja yang tidak menginap.

Marzuki Wahid mengungkapkan bahwa santri merupakan seseorang yang memiliki tiga tanda utama yakni 1. Memiliki kepedulian terhadap kewajiban ainiyah (ihtimam bi al furudi al-ainiyah), 2. Berkomitmen guna menjaga hubungan yang baik dengan al-khaliq (khusnu al mu’amalah) ma’a al khalqi).

Bagi kaum santri pendidikan merupakan elemen terpenting guna meningkatkan kualitas dan keterampilan dalam berbagai sektor kehidupan.  Adanya pendidikan bagi santri sekarang bertujuan untuk efektifitas dan efisiensi sistem pesantren. Guna beradaptasi dengan kemajuan zaman, pesantren menjelma menjadi  lembaga pendidikan islam yang mampu beradaptasi sesuai dengan konteks kebutuhan zaman.  Dimana ilmu pengetahuan keagamaan bisa didapatkan di lingkungan pesantren.

Tujuan utama dari pendidikan  pesantren bukan sekedar untuk memperkaya kemampuan intelektual santri, tetapi guna membangun akhlak, memperkuat semangat dan wawasan kebangsaan, menghormati nilai-nilai spiritual dan humanisme (kemanusiaan).  Mengajarkan moral dan perilaku jujur dan arif, serta mempersiapkan SDM yang sederhana dan bercita-cita mulia.

Selain itu, orientasi dari pendidikan bukan hanya sekedar untuk meraih kekuasaan, harta, dan kenikmatan duniawi semata, melainkan menanamkan niat ikhlas semata-mata untuk mencapai ridha dari Tuhan. Di pesantren juga santri dapat memperoleh wawasan keagamaan dan juga spirit kebangsaan yang cukup dan seimbang. Sehingga dapat menjadi pribadi-pribadi yang nasionalis dan agamis serta pluralis, yakni yang menjujung tinggi kemajemukan.

Dalam sejarah berdirinya Indonesia, santri memiliki andil besar dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari penjajah yang ingin kembali menguasai negara. dulu saat Belanda melakukan Agresi Militer 2, Hadratus Syekh K.H Hasyim Asy’ari mengeluarkan Resolusi Jihad sebagai upaya perjuangan dalam membela tanah air pada tanggal 22 Oktober 1945.

Resolusi Jihad tersebut kemudian membakar semangat perjuangan rakyat, arek-arek Surabaya, dan juga kaum santri untuk bersatu dalam mengusir Belanda. Dari perjuangan besar, dan berkat rahmat dari Allah, bangsa Indonesia mampu mempertahankan kedaulatan negara bahkan sampai hari ini.

Di era digital seperti sekarang, Para Ulama dan santri pondok pesantren tetap memberikan kontribusinya besar terhadap bangsa dan negara. Para Ulama dan santri menjadi filter yang menghalau cepatnya peredaran berita bohong, hoaks, fitnah, dan ujaran kebencian. Para Ulama dan santri memegang peranan penting dengan memberikan dakwah yang santun serta menyejukkan bagi masyarakat sehingga tidak mudah terprovokasi.

Para Ulama dan Santri pondok pesantren juga berada di garis terdepan dalam menjaga dan mempertahankan keutuhan bangsa dan negara dari setiap ancaman kelompok-kelompok radikal dan ekstrimisme yang hendak membahayakan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Selain itu, ditengah problematika moral yang melanda generasi muda, dimana terjadi degradasi moral terhadap generasi milenial. Santri dan pondok pesantren mampu menjadi contoh terbaik dalam pembangunan moral dan karakter. yang di lingkungan pesantren disebut sebagai akhlak. Santri dan pondok pesantren aktif membantu Pemerintah dalam melaksanakan serta meneguhkan pendidikan karakter kepada generasi bangsa.

Santri dan pesantren juga konsisten membantu Pemerintah guna mencapai visi misi pembangunan negara dengan memberikan gagasan-gagasan segar dan inovasi-inovasi baru berdasarkan kemaslahatan dan kesejahteraan bersama. untuk itulah, negara sebaiknya dapat memberi perhatian lebih terhadap kemajuan pesantren serta mensinergikan dengan sekolah—sekolah umum.

Harapannya adalah kedua unsur ini mampu mencetak generasi-generasi muda bangsa yang unggul, berwawasan luas, terdepan dalam ilmu pengetahuan dan teknologi, serta memiiliki akhlak yang mulia. Sehingga mampu mencapai Indonesia Maju dan mandiri.

Nur Kholis, Alumni S1 Sosiologi FISIP UIN Sunan Ampel Surabaya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *