Kontribusi Santri Sebagai Pahlawan NKRI

by September 14, 2020

Sejarah Indonesia tidak bisa dilepaskan begitu saja dari peran seorang santri. Sejuta jasa seorang santri telah disumbangkan bagi kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Tepat tanggal 22 Oktober 1945, Senin Pahing, 15 Dzulqaidah 1364, terjadi peristiwa sejarah perjuangan bangsa Indonesia melawan kolonialisme. Peran kyai dan santri dari Jawa Timur, Jawa Tengah dan Jawa Barat dalam menegakkan dan mempertahankan proklamsi membanjari kota Surabaya, berdasar amanat berupa pokok-pokok kaidah tentang kewajiban umat Islam dalam jihad mempertahankan tanah air dan bangsanya yaitu yang disampaikan Rais Akbar Hasyim Asyari, dalam rapat PBNU yang dipimpin ketua besar  K.H Abdul Wahab Hasbullah, menetapkan satu keputusan dalam bentuk resolusi yang diberi nama “Resolusi Jihad fi Sabilillah” (Suryanegara, 2009 : 2).

Masihkah kita meragukan kontribusi santri untuk bangsa dan negeri ini ? Kata kontribusi tidak bisa hanya diartikan sebagai bentuk bantuan uang atau materi saja, namun kontribusi disini diartikan sebagai keikutsertaan atau kepedulian seorang santri terhadap membela mempertahankan NKRI. Oleh karena itu, sudah sepatutnya bangsa dan negara ini juga berperan aktif dalam memperhatikan pengembangan pondok pesantren di Indonesia, termasuk kyai, santri dan alumninya yang tersebar di seluruh pelosok tanah air Indonesia, sesuai dengan tujuan NKRI yang tertulis di pembukaan UUD 1945, yaitu : “ Memajukan kesejahteraan umum. Ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial. Melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia. Mencerdaskan kehidupan bangsa.”. Kontribusi santri menjadi pahlawan NKRI akan terus diberikan masa demi masa yang tidak akan pernah pudar.

Kontribusi Santri Pada Masa Penjajahan.

Peranan kaum santri dari  awal perjuangan merebut kemerdekaan hingga dapat menikmati suasana kemerdekaan saat ini tidak dapat diabaikan begitu saja. Kaum santrilah yang memberikan keyakinan kepada rakyat Indonesia yang pada saat itu harga diri serta martabatnya sedang di injak-injak oleh penjajah dan dicap sebagai bangsa rendahan. Dari gerakan perlawanan bersenjata hingga jalur diplomasi, keyakinan akan mati syahid-lah yang berani memberikan keberanian untuk melawan kaum penjajah yang menganggap dirinya sebagai ras kulit putih yang unggul. Ulama dan Santri bagi Indonsia disebut sebagai pejuang pahlawan bangsa. Laskar santri membela NKRI tidak hanya dengan emosi saja, tapi dengan ilmu pengetahuan, spiritual dan strategi. Ilmu yang dimiliki Kiai ditularkan kepada santrinya dengan semangat membela NKRI dengan  fatwa jihad. Demikian juga spiritual ditanamkan kepada santri supaya mempunyai daya tahan dan tidak takut dengan penjajah walau dengan senjata seadanya. Sedangkan strategi yang diikuti meniru sebagaimana ketika Rasullulah menghadang para musuhnya.

Kontribusi Santri Pada Masa Sekarang dan Yang Akan Datang

Berjiwa semangat nasionalisme memuat nilai-nilai yang luhur dengan ajaran Islam, karena Rasullulahtelah memberikan contoh tentang bagaimana kehidupan dalam keberagaman di kota Madinah melalui kesepakatan yang dikenal dengan nama Piagam Madinah. Kehadiran Rasullulah ke Madinah telah mengubah kota tersebut yang semulanya sering terjadi konflik yang berbau etis maupun agama, sekarang menjadi kota yang saling hidup berdampingan dengan damai di tengah-tengah masyarakat plural. Sehingga wajar jika banyak para sejarawan dunia menilai bahwa apa yang telah dilakukan Rasullulah itu merupakan sebuah pencapaian yang luar biasa dalam sejarah peradaban manusia (Madjid, 1974).

Dalam konteks Indonesia, kontribusi santri berjiwa nasionalisme secara sederhana dengan sikap yang menjunjung tinggi nilai-nilai Pancasila, UUD 1945 serta menyetujui NKRI sebagai final konsep negara ini. Apalagi santri ditambah dengan berbekal ilmu agama juga mampu memiliki multikompetensi keilmuan, keagamaan dan akhlakul karimah (Bahrun, 2017). Dengan begitu berjiwa nasionalisme rasa cinta tanah air akan menjadi alat mengikat batin bagi seluruh elemen bangsa Indonesia yang berbagai budaya, suku, agama, bahasa, dan lain sebagainya, sehingga santri berjiwa semangat nasionalisme membantu menciptakan kestabilan kehidupan berbangsa dengan kesadaran dari masyarakat untuk hidup secara bertoleran serta saling menghargai satu sama lain.   

Noval Setiawan, Santri Pondok Pesantren Al-Munawwir Komplek L Krapyak Yogyakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *