Makna Hidup Dari Corona

by October 19, 2020

“Ibuku kebingungan menanyakan kabarku tadi. Katanya hapeku nggak usah dipakai, biar nanti kalau pulang dibelikan lagi yang baru” ucap temenku bergelora dan menampakkan ekspresi bahagianya. Di markas KKN yang hanya berjumlah lima orang itu mungkin ialah yang paling beruntung memiliki seorang ibu yang sebegitu perhatiannya, untuk tidak mengatakannya super protektif.

Waktu itu di permulaan tahun 2020, dunia memang dihebohkan dengan kabar sebuah virus baru paling mematikan di Wuhan, China yang menyebabkan kota tersebut harus diisolasi dan mendapat sorotan dunia. Segala macam produk yang memiliki citra berasal dari China pun dicurigai. Kabar penularannya yang bisa melalui media salah satu merk hape China yang beredar pesat di Indonesia pun meresahkan perasaan ibu salah satu anggota KKN kami yang memang terletak jauh dengan putranya.

Indonesia kala itu, dan dunia pada umumnya masih tenang-tenang saja mendengar kabar di belahan timur dunia sana, meski sudah mulai gencar beredar asumsi keberadaan virus sebagai senjata biologis untuk memulai ekspansi perang dunia ketiga dari salah satu negara adidaya. Kabar burung lainnya menyatakan bahwa munculnya virus tersebut adalah merupakan ulah dukun-dukun di Indonesia yang tidak terima dengan perlakuan China mencaplok salah satu perairan produktif milik Indonesia.

Di pesantren yang saya tempati, kabar tentang peredaran virus corona atau yang memiliki nama beken Covid-19 ini kurang jadi perhatian khusus di samping karena banyaknya aktivitas kepesantrenan, juga karena memang kegiatan sosial pesantren agak menjaga jarak dengan info terkini yang beredar cepat di media elektronik. Hanya beberapa saja oknum santri yang sudah memiliki akses untuk mengikuti perkembangan informasi virus, yang mengetahuinya.

Awal Maret kehidupan di pesantren mulai digonjang-ganjingkan kabar berita liburan yang tidak jelas kepastiannya. Beberapa pesantren besar telah menutup akses masuk menuju pesantrennya. Santri tidak lagi dibolehkan untuk disambangi keluarganya, bahkan beberapa pesantren lain telah tegas akan memulangkan santri-santrinya hingga batas waktu menunggu keputusan berikutnya.

Akhirnya keluarlah pengumuman bahwa liburan mulai dua hari lagi. Masjid langsung ramai oleh gemuruh kegembiraan kami para santri. Mereka meluapkan ekspresi bahagianya akan bebas dari rutinitas pesantren yang tiada henti.

Sampai di kampung halaman, belum sehari di rumah, keluarga sudah digegerkan dengan kemenderitaanku akan batuk dengan ciri yang jelas berbeda dengan gejala corona. Meski sudah dijelaskan gejalanya, tetap saja dokter spesialis yang dihubungi bersikap over menurutku. “Jangan hadap ke saya kalau batuk” katanya .

Semegah apapun pesantren yang kutinggali, rumahku tetaplah surgaku. Tentu ada banyak hikmah yang bisa kita petik dari kondisi sekarang ini. Selain tertuntut untuk menjaga pola makan sehat, berolahraga yang cukup dan lebih memperhatikan kebersihan lingkungan kembali, kita juga mempunyai waktu luang untuk berbahagia dengan saling berkisah dan berbagi bersama keluarga di rumah dan tentunya kesempatan yang cukup untuk berkarya menekuni hobi demi menjaga produktifitas, meski di rumah aja.

Prinsip hidup yang telah didapatkan dari pesantren sudah waktunya untuk diterapkan dalam kondisi kehidupan sekarang ini. Bagaimanapun, Gusti Allah tidak akan lupa akan rezeki hamba-hamba-Nya se-lockdown apapun kondisinya. Allah Know the Best.

Penulis, Muhammad Zakki, Ma’had Aly Al Fithrah Surabaya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *