Masalah Terjemah Al-Qur’an

by August 25, 2020

Di dalam Alquran, ada banyak kata yang sebenarnya mengandung potensi “translit-problem” atau masalah terjemah. Ketika Islam sudah meluas dan melebar keluar jazirah Arabia, bersamaan dengan itu muncul masalah terjemah “translit-problem”. Dari isu ini, masalah terjemah atau translit problem, ulama-ulama tafsir membuat satu bab tersendiri mengenai hal ini, yaitu tafsir, takwil dan terjemah. Bagi orang-orang Arab yang biasa menggunakan bahasa Arab dan berada di lingkungan yang biasa berkomunikasi dengan menggunakan bahasa Arab, mengartikan Al-Quran itu bisa disebut tafsir atau takwil. Sementara bagi orang-orang non Arabik, ketika mengartikan Al-Qur’an, tidak langsung disebut sebagai tafsir, bahkan hanya disebut terjemah.

Bismilah

Sebagai contoh, ketika ayat bismillahirrohmanirrohim, diartikan dengan “menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”, apakah itu disebut sebagai tafsir?, ataukan disebut sebagai takwil?, para ulama justeru menyebutnya sebagai terjemah. Ketika di al-Qur’an ada  kata yang berbunyi Al-Baqoroh, orang-orang non Arabik akan melihat dulu benda/barang/binatangnya. Setelah melihat benda/barang/binatangnya, barulah kata al-Baqoroh diterjemahkan dengan kata Sapi menurut bahasa Indonesia. Jadi surat al-Baqoroh adalah surat Sapi. Ketika ada kata al-Ankabut, dilihat dulu barang/benda/binatangnya, setelah diketahui, barulah al-Ankabut diterjemahkan dengan Laba-laba, jadilah surat al-Ankabut dengan terjemah surat Laba-laba. Surat an-Naml artinya surat Semut. Surat al-Fiil artinya surat Gajah. Demikian seterusnya.

Persoalan yang Muncul

Persoalan akan muncul dari penerjemahan ini, ketika menemukan kata di dalam al-Qur’an yang tidak ditemukan barang/benda/binatang/pohonnya di Negara-negara non Arabik. Contoh seperti kata At-Tiin, apakah itu?, setelah dilihat benda/barang/pohonnya, orang-orang non Arabik tetap tidak tahu, maka kata At-Tiin terjemahnya tetap at-Tiin, itu karena pohon itu memang tidak ada di luar jazirah Arabia. Az-Zaytuun, pun sama, karena tidak ada di negara-negara non Arabik, maka kata itu diterjemahkan dengan Zaytuun saja. Dan itu bagi yang betul-betul tidak tahu dengan pohon Tiin dan buah Zaytuun, ketika membaca ayat Wattiini Wazzaytuun (demi buah Tiin dan demi buah Zaytuun) menjadi hambar, karena ia memang tidak tahu buahnya. Berbeda bila pohon/tumbuhan itu ada di negeri-negeri di luar jazirah Arabia, maka terjemahannya pun tidak terlalu bermasalah, contoh kata Tholhin Mandhuud dalam surat al Waqiah ayat 29, kata Tholhin setelah ditelusuri ia bermakna pohon atau buah Pisang.

وَأَصْحَابُ الْيَمِيْنِ مَا أَصْحَابُ الْيَمِيْنِ فِيْ سِدْرٍ مَخْضُوْدٍ وَطَلْحٍ مَنْضُوْدٍ (الواقعة : ۲۷-۲۹)

(27) Dan golongan kanan, alangkah bahagianya golongan kanan itu. (28) Berada di antara pohon bidara yang tak berduri, (29) dan pohon pisang yang bersusun-susun (buahnya),

Contoh lain di dalam surat an-Nahl (surat lebah) terdapat kata “An-Nakhil” misalnya, diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan sebutan ‘korma’.

وَمِنْ ثَمَرَاتِ النَّخِيْلِ وَالأَعْنَابِ تَتَّخِذُوْنَ مِنْهُ سَكَرًا وَرِزْقًا حَسَنًا إِنَّ فِيْ ذَالِكَ لَأَيَةً لِقَوْمٍ يَعْقِلُوْنَ (النحل : ٦٧)

(67) Dan dari buah korma dan anggur, kamu buat minuman yang memabukkan dan rezeki yang baik. Sesunggguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang memikirkan.

Kurma

Ketika menyebut an-nakhil dalam bahasa Arab, dengan sendirinya difahami dengan korma. Terjemah an-nakhil dengan korma ini hanya terjemah lafdziy, teks, literal. Ia bukan terjemah utuh secara maksimal mengenai nakhil atau kurma.  Mengapa demikian?  Di daerah-daerah yang tidak ada pohon korma, dan mungkin juga susah untuk ditanam korma, maka memahami korma secara utuh menjadi persoalan tersendiri. Bagaimana susahnya petani korma, tetap tidak bisa dirasakan oleh siapapun di negeri negeri yang tidak dapat ditanam pohon korma mengenai kesusahan itu. Adanya korma basah dan korma kering menambah persoalan lagi dalam memahami korma. Apalagi jika orang-orang Arab makan korma, juga tidak bisa difahami secara utuh oleh mereka yang biasa makan nasi. Jadilah korma atau nakhil dalam al-Quran muncul dengan pemahaman sepihak, bahwa jika makan korma dianggap sebagai sunah Nabi.

Padahal, bagi yang biasa makan nasi, sebanyak apapun makan korma, tetap dianggap belum makan. Itu artinya, terjemah kata bahasa Al-Qur’an atau bahasa Arab ke bahasa selain Arab, salah satu masalah yang muncul adalah bahwa terjemah itu hanya sebatas menterjemahkan secara lafdzy, tektual, atau literal, kurang menjiwai makna asli dari kata itu sendiri.   Masihkan makan korma dianggap sunah?, sebuah studi yang sangat menarik tentang kuliner Al-Quran, ketika diterjemahkan ke dalam bahasa selain Arab. Apalagi dalam surat an-Nahl ayat 67 di atas itu ada penjelasan mengenai buah kurma yang dibuat minuman yang memabukkan. Buah kurma apalagi itu. Kita pun tidak dapat memahaminya dengan maksimal.

Masih banyak kata-kata lain yang disebutkan oleh Al-Quran, yang secara factual benda / barang / binatang / pohonnya tidak ada jazirah manapun dan hanya ada di negeri-negeri jazirah Arabia, sehingga ketika diterjemahkan betul-betul hanya mengandalkan terjemah lafdziy. Dan itu benar-benar kurang menjiwai makna al-Quran.

Demikian Wallahu A’lam.

Oleh : Munawir Amin, Penyuluh Agama Islam, Kemenag Kabupaten Indramayu Jawa Barat, Mahasiswa Ma’had Ali Krapyak Yogyakarta, tahun 1996-1997

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *