Memaknai Tawakkal dalam Ikhtiar

by October 1, 2020

فَإِن تَوَلَّوْا۟ فَقُلْ حَسْبِىَ ٱللَّهُ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ ۖ وَهُوَ رَبُّ ٱلْعَرْشِ ٱلْعَظِيمِ

“Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Tuhan selain Dia. Hanya kepadaNya aku bertawakkal dan Dia adalah Tuhan yang memiliki ‘Arsy yang agung.”
At-Taubah 129

Tawakal tidaklah sama dengan fatalisme, ngelokro, pemalas, atau njenthul. Tidak.

Tawakal adalah spirit bercita-cita, bergerak, berdedikasi, berstrategi. Bedanya ia dengan etos kerja keras sekular ialah pada peletakan Allah sebagai jangkar pergerakan itu. Allah ada di mana-mana, melandasi, menjiwai, sekaligus menggerakkan, dan pula Allah juga yang menjadi pembatas dan ukurannya.

Begini maksud saya.

Sejak awal membangun sebuah impian, Allah telah dijadikan sebab dan tujuannya. Impian tersebut hadir berkat ijin Allah dan dikejar dan dijalankan dengan mematuhi wujud Allah dan aturanNya sepenuhnya. Berhasil atau tidak nanti, itu juga disandarkan pada Allah.

Jadi, bahkan sejak mulai awal terbitnya impian, lalu dieksekusi, telah ada ketawakalan di situ. Tawakal melapisi seluruh prosesnya. Itu berarti, sekali lagi, Allah selalu melapisi seluruh proses, jalan, hasil, dan pemanfaatannya. Semua karena Allah, oleh Allah, dan untuk Allah.

Maka takkan terjadi bagi sang mukmin sampai lalai dari Allah dan melanggar ketentuan-ketentuanNya dalam membangun, mengejar, mewujudkan, dan mengoperasikan cita-citanya. Takkan, misal, karena meeting ia akan abai pada panggilan shalat, ngaji, dlsb. Takkan ia kikir dalam keadaan longgar atau sempit. Takkan ia stres mengeluh bila laju usahanya sedang mengalami kesulitan. Takkan pula ia pongah bila sedang meraih profit yang besar, apalagi sampai menggunakannya untuk bermaksiat kepadaNya.

Tawakal yang hadir sejak awal hingga akhir mencerminkan keyakinannya yang mendalam betapa semua karunia adalah hanya milik Allah dan bebas diberikanNya kepada saja yang dikehendakiNya, untuk satu tujuan: mengujiku siapakah di antara kita yang tetap paling baik amalnya.

Walhasil, Ada empat perkara yang tidak akan merendahkan posisi orang yang mulia jika melakukannya meskipun seorang raja. Berdiri untuk melayani orang tuanya, berkhidmat kepada guru yang mendidiknya, bertanya sesuatu yang tidak diketahuinya, dan melayani tamu.

Penulis :
Amiruddin Faisal
Santri Krapyak 2003
Ketua PC. Pagar Nusa Cirebon

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *