Menabur Sedekah Jariyah Melalui Tulisan

by December 9, 2018

Masing-masing dari kita pasti pernah mendengar sebuah hadits yang sangat populer di telinga umat Islam tentang amal yang terputus jika kita telah meninggal. Dalam hadits itu  dinyatakan bahwa setiap anak adam apabila ajal sudah menjemput maka akan terputus semua amal yang telah dikerjakan semasa dia hidup di dunia kecuali tiga perkara. Tiga perkara akan terus mengalirkan pahala kepada orang yang sudah meninggal tersebut sampai hari kiamat yaitu : shadaqah jariyah, ilmu yang berguna dan doa anak shaleh.

Berdasarkan isi dari hadits di atas, maka beruntunglah orang-orang yang semasa hidupnya gemar menulis atau berprofesi sebagai penulis. Tulisan-tulisan mereka yang tersebar dimana-mana dan dibaca oleh banyak orang bisa mencakup dua perkara yang disebutkan dalam hadits yaitu shadaqah jariyah dan ilmu yang berguna. Karena shadaqah memang bisa bermacam bentuk. Dari mulai harta, ilmu, tenaga, bacaan dzikir, senyuman bahkan yang berupa tak kasat mata yaitu pahala. Dan jika tulisan yang mereka rangkai mengandung kebaikan, mengajak orang menuju kebaikan maka itu termasuk ilmu yang berguna.

Bahwa menulis itu termasuk amal jariyah dan ilmu yang berguna yang akan terus mengalirkan pahala sampai hari kiamat itu didukung oleh beberapa  hadits yang menyatakan  barangsiapa memulai menunjukkan jalan seseorang kepada kebenaran maka ia mendapat pahala sebagaimana pelakunya. Sebaliknya barangsiapa menunjukkan jalan seseorang kepada keburukan maka ia juga mendapatkan dosa sama persis seperti dosa yang dilakukan oleh pelakunya.

Jadi,  jika setelah membaca sebuah tulisan dari kita kemudian seseorang menjadi terinspirasi untuk berbuat kebajikan atau menjadi pribadi yang lebih baik  maka secara otomatis kita akan ikut mendapatkan pahalanya. Tidak cuma sedikit akan tetapi nilainya sama persis seperti pahala pelakunya Lalu jika kemudian orang tersebut mengajak temannya lagi untuk melakukan kebajikan dan temannya mau begitu seterusnya maka betapa berlipatgandanya pahala yang akan kita terima di akherat kelak.

Ya, sesungguhnya tanpa adanya peninggalan tulisan dari para ulama, kaum cendikiawan, para sastrawan zaman dahulu maka kita tidak akan bisa meneruskan secara estafet ilmu, peradaban dan kebudayaan dunia. Tulisan mereka yang begitu banyak dan kemudian dijilid membentuk sebuah buku adalah ibarat menjadi mercu suar di zaman sekarang. Bayangkan, andai al-Quran dan Hadits Nabi Muhammad saw tidak ditulis bagaimana kita saat ini? mampukah kita membaca al-Quran dan mengetahui al-hadits?

Nah, di zaman sekarang yang disebut buku  tidak melulu buku yang bahannya dari kertas dan dicetak berlembar-lembar. Akan tetapi saat ini sudah berkembang pula  buku digital yang dikenal dengan nama e-book. Adapun whatpadd, blog, facebook dan lain-lain menurut saya juga merupakan sebuah buku dalam bentuk yang berbeda. Melihat berbagai macam jenis buku yang sudah tersedia di era digital ini alangkah naifnya jika kita tidak segera ambil posisi sebagai penulis dan terus menulis sebagai sarana untuk menabur shadaqah jariyah yang akan kita panen kelak di akherat.

Maka,  apapun profesi kita menulislah! karena semua dari kita dibekali Allah kemampuan untuk menulis. Hanya saja kita mau mengasahnya agar semakin trampil atau tidak. Asah terus kemampuan menulis kita dengan memulai menulis dari hal-hal kecil, hal-hal yang kita alami dan kita tahu. Menulislah secara kontinyu dan nikmati hasil tulisan kita tentang kebaikan baik di dunia maupun di akherat kelak. Amin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *