Menjadi Santri, Menjaga NKRI

by September 20, 2020

Santri adalah salah satu pilar penting dalam sejarah panjang Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Sedari perjuangan merebut kemerdekaan, mempertahankannya, pun hingga mengisi kemerdekaan, santri selalu menjadi aktor terdepan mengawal NKRI.

Meminjam perkataan Muhammadun (2017) bahwa bagi santri NKRI ini adalah darus salam, negeri yang damai penuh berkah. Negeri yang sangat nyaman untuk menjalankan ajaran Islam tanpa harus dilabeli dengan “Negara Islam” (jalandamai.org, 24/10/2017).

Oleh karena itu, di momentum kelahiran republik yang telah menginjak titian ke tujuh puluh lima ini, tentu patut kita syukuri. Bagi santri, kemerdekaan ini adalah rahmat Allah SWT yang demikian agung.

Komitmen santri yang selalu dipegang, menjadi santri adalah menjaga NKRI. Oleh karenanya, membela NKRI dan menjaganya adalah jihad yang teramat mulia. Kalau kita telaah lebih mendalam sejarah panjang revolusi bumi NKRI ini, buka lembar demi lembarnya, maka tak akan sulit menemukan tokoh-tokoh santri yang begitu heroik menjaga keutuhan NKRI.

Fakta sejarah telah berbicara, salah satu tokoh teladan dari kalangan santri, K.H. Hasyim Asy’ari menginisiasi lahirnya Resolusi Jihad 22 Oktober 1945. Resolusi jihad ini merupakan wujud integritas, loyalitas, dan kecintaan tulus kaum santri terhadap NKRI. Bahkan, terinspirasi spirit Resolusi Jihad ini “Bung Tomo” mampu membakar semangat arek-arek Suroboyo melalui pidatonya yang begitu fenomenal menggelegar.

Ketulusan cinta NKRI melekat kuat dalam diri K.H. Hasyim Asy’ari. Terlebih lagi, pada saat itu umat Islam sedang digegerkan ide Pan-Islamisme Jamaluddin al-Afghani yang mendorong tumbuh kembangnya jiwa nasionalisme masyarakat Islam di Indonesia. Berdasarkan catatan emas tersebut, sangatlah wajar jika tanggal 22 Oktober diperingati sebagai Hari Santri.

Dalam perjuangannya terhadap NKRI santri juga lekat dengan “Kitab Kuning”. Diantaranya sebagaimana dicontohkan oleh K.H. A Wahab Chasbullah yang turut getol berjuang membela dan menjaga NKRI dengan inovasinya berdasarkan kaidah fiqh dan ushul fiqh.

Sebagaimana Majalah Bangkit (2015) menyebutkan bahwa Irian Barat akan diserahkan kepada Indonesia pada 1948. Tetapi, sampai tahun 1951 Belanda masih enggan menyerahkan kedaulatan Irian Barat ke Indonesia. Bung Karno kemudian menghubungi K.H. A Wahab Chasbullah di Jombang dan menanyakan terkait hukum bangsa Belanda masih bercokol di Irian Barat. K.H. A Wahab Chasbullah pun menjawab hukumnya ghosob atau istihqoqu malil ghoir bighoiri idznihi yang berarti menguasai hak milik orang lain tanpa izin (Muhammadun, jalandamai.org: 2017).

Kemudian Bung Karno selalu “ngaji” dengan K.H. A Wahab Chasbullah, sampai akhirnya melakukan strategi akhodzahu qohrun yang berarti ambil/kuasai dengan paksa dengan rujukan kitab Fathul Qorib dan syarahnya (al-Baijuri), Irian Barat akhirnya kembali ke pangkuan NKRI.

Satu lagi, jika kita kuliti sejarah nasional, kaum santri juga telah turut berkontribusi besar dalam perumusan ideologi bangsa, Pancasila. Sebut saja KH. Wahid Hasyim dan tokoh lainnya yang tergabung Panitia Sembilan bersinergi merumuskan Pancasila.

Bahkan kita juga tak akan lupa dihapusnya tujuh kata sila pertama (Piagam Jakarta), “Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan Syariat Islam bagi pemeluknya” menjadi “Ketuhanan Yang Maha Esa” ialah penanda ketulusan dan pengorbanan santri sangatlah besar demi NKRI. Santri selalu menepikan egoisme diri demi menjaga persatuan.

Perjuangan tokoh-tokoh santri dulu tentu patut diteladani oleh santri masa kini untuk selalu membela dan menjaga NKRI. Menjadi Santri, Menjaga NKRI.

Penulis: Suwanto, Ponpes Al-Mujahadah Lempuyangan Yogyakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *