Merawat Literasi Pesantren, Membangun Negeri

by September 20, 2020

Segenap rakyat hendaknya ber-Tuhan secara kebudayaan, yakni dengan tiada egoisme agama (Latif, 2015: 71). Pernyataan Soekarno tentang “ketuhanan” dalam sidang pertama BPUPKI secara eksplisit mewajibkan kepada pemeluk agama (Islam) di Indonesia untuk bersikap moderat dan toleran.

Santri, sebagai aktor dalam memerdekakan Indonesia, berhasil menunjukkan sikap beragama yang moderat. Penerimaan santri terhadap NKRI dan Pancasila sampai Resolusi Jihad adalah fakta bahwa wawasan literasi pesantren bersifat moderat dan memuat spirit kebangsaan.

Watak literasi pesantren yang khas tentu ditempa oleh tradisi intelektualisme Islam yang rahmatan lil‘alamiin. Menurut Mujamil Qomar, sejak dulu pesantren telah mengadaptasikan pemikiran Islam moderat yang dalam akidah mengikuti al-Asy’ari, tasawuf berpijak pemikiran al-Ghazali, dan dalam fiqh mengikuti as-Syafi’i (2012: 26).

Oleh karenanya, pesantren mampu membentuk akhlak dan jiwa kaum santri yang terbuka dan toleran. Perjuangan santri dalam membangun Negara Pancasila merupakan role model bagi kemuliaan akhlak dalam menjaga moralitas umat dan bangsa dari segala bentuk tindakan kekerasan, amoral, dan ketidakadilan.

Pada abad 21 ini, Indonesia menghadapi gempuran ideologi asing, seperti Pan-Islamisme, sekularisme, radikalisme dan sebagainya, baik di dunia nyata maupun maya. Guncangan-guncangan sosial berupa praktik diskriminasi, intoleransi, dan konflik sosial antar umat beragama terus mencuat ke permukaan.

Resolusi jihad sebagai refleksi kepekaan wacana santri dalam merespon persoalan kebangsaan dan kemanusiaan harus direaktualisasikan dalam konteks hari ini. Gerakan anti-NKRI dan Pancasila serta beragam praktik radikalisme dan diskriminasi adalah benalu umat yang harus kita tupas bersama.

Perayaan kemerdakaan Indonesia yang ke-75 adalah momentum para santri untuk meneguhkan kiprahnya kembali sebagai penjaga gawang moderasi agama di Indonesia dengan cara membumikan kembali literasi pesantren yang moderat. Mengingat, di era tsunami informasi, beragam narasi kebencian, hoax, kekerasan, serta praktik radikalisasi semakin merebak di dunia maya.

Oleh karenanya, sikap integrasi santri dalam pembangunan bangsa yang tercermin pada resolusi jihad harus digalakkan kembali melalui gerakan literasi. Baru-baru ini, Gus Baha menghimbau kepada para santri untuk merevitalisasi tradisi literasi pesantren (ngaji kitab), yang kini tergerus oleh tren pengajian umum yang cenderung populis. Akibatnya, literasi pesantren yang moderat pun mengalami pendangkalan.

Pendek kata, Gus Baha hendak menghimbau para santri untuk kembali kepada khitah intelektualnya yakni mengaji kitab KH. Hasyim Asya’ari yang mengapdosi ajaran ahli sunnah wal jama’ah yang moderat (al-Asya’ri, al-Syafi’i, dan al-Ghazali).

Tidak cukup sampai di situ, di era revolusi industri 4.0, santri dituntut mengisi ruang-ruang digital dengan narasi keagamaan yang moderat, toleran serta memuat nilai-nilai kebangsaan dan keumatan. Sebab dalam kenyataannya, para kelompok fundamentalis-radikalis berhasil membajak dunia virtual sebagai basis diseminasi ajaran Islam yang parsial, ekstrim, reduktif dan politis.

Dari sini, para santri memiliki tanggungjawab memperkuat narasi moderasi Islam demi tegaknya nilai-nilai maqasidus syariah dan menjaga keutuhan NKRI. Sebagai pengusung misi profetik, santri harus bisa menjaga stabilitas dan moralitas bangsa melalui gerakan dakwah digital yang moderat dan toleran.

Orientasi resolusi jihad hari ini adalah menegakkan kebenaran (anti-hoax), mewujudkan persaudaraan (no-SARA) dan membangun perdamaian (no-radicalism). Resolusi hari ini bermakna penguatan literasi pesantren sebagai senjata dan benteng untuk melindungi keutuhan NKRI dari dalam. Dengan demikian, santri dapat menyokong umat ke taraf keadaban dan peradaban.

Penulis: Rahmat Hidayat, Alumni Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan, Sumenep, Madura

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *