Nyantri di Negeri Tirai Besi – Bagian 5

by July 27, 2020

Mengaji ke Oktyabr’ski

          Sekitar pukul sepuluh, bis kecil jemputan datang. Kami pun segera menaikinya dan meluncur ke desa Oktyabr’ski. Perjalanan dari Yekaterinburg sampai ke Oktyabr’rski kira-kira memakan waktu satu setengah jam karena ditengah perjalanan mobil harus berhenti di beberapa halte guna menaikkan beberapa jamaah yang mempunyai tujuan sama.

          Perjalanaan ke desa Oktyabir’ski sungguh menyenangkan karena melewati pemandangan yang menakjubkan. Jika di kota kita hanya melihat apartemen atau gedung-gedung, maka sepanjang perjalanan ke desa kita akan melewati rumah-rumah mungil dan ladang yang sangat luas. Sungguh hijau. Tapi di dalam bis, aku hanya diam saja mengingat aku belum bisa berkomunikasi dan sesekali aku tersenyum jika ada orang yang menatap ku aneh.

          Aku dan rombongan akhirnya sampai ditempat tujuan. Subhan Allah, ini kali ke dua aku melihat bangunan yang dihiasi dengan menara lengkap dengan symbol bulan dan bintangnya. Lelah dan bosan diperjalanan karena tidak bisa berkomunikasi dengan penumpang lainnya akhirnya terbayar dengan pemandangan ini.

Ya! ini rumah-Mu ya Allah,” bisikku dalam hati.

          Rombongan satu persatu keluar dari bis. Ruslan menyambut di depan pintu gerbang. Aku kini tahu, siapa Ruslan sebenarnya.

***

          Desa ini ini sungguh tenang dan adem berbeda sekali dengan kota Yekaterinburg. Oktyabr’ski adalah desa yang sangat sepi. Disini ternyata setiap minggunya diadakan pengajian. Media dimana sesama muslim bisa bertemu, mengaji, sholat dll. Satu hal yang membuat ku terharu adalah jamaah ini, demi untuk mengaji, mereka harus menempuh perjalanan 39 km. Sungguh semangat yang hebat.

          Jama’ah berkumpul di sebuah rumah sederhana yang terdapat di depan masjid. Rumah tersebut difungsikan sebagai kelas mengaji atau madrasah. Disana, selain dapur dan kamar mandi, terdapat kursi, bangku, papan tulis dan segala peralatan yang diperlukan untuk berlangsungnya pembelajaran.

          Ruslan kemudian menyuruhku untuk menyampaikan sambutan dihadapan para jama’ah. Aku terus terang saja menolak karena aku tidak tahu apa yang harus aku sampaikan. Dan bagaimana aku harus berkomunikasi dengan mereka. Pada awalnya menolak karna tidak tahu apa yang harus aku katakan.

          “Prosto poznokomitsya mojno[1], bujuk Ruslan.  Akhirnya, dengan sedikit percaya diri aku pun bersedia berbicara di depan sekitar lima puluh jama’ah. Aku pikir, kalau hanya untuk perkenalan dengan hanya menyebutkan nama dan asal saja, perbendaharaan kataku sangat cukup lah. Perkenalan selesai dengan sukses meski aku sempat terbata-bata dan kadang dibantu oleh Ruslan dalam pengucapan kata.

          Tanpa disadari Ruslan membuka sesi tanya jawab. Sontak saja aku kaget dan tak habis pikir. Ah! ada-ada saja batin ku. Alhamdulillah, yang bertanya adalah Lilya, seorang gadis muda, dan dengan bahasa Inggris. Dia hanya menanyakan berapa jumlah mahasiswa Indonesia yang ada di Yekaterinburg dan mengapa mereka tidak diajak kesini. Pertanyaan yang mudah bagiku.

          Rupanya jamaah lain tidak berpikiran untuk bertanya kepada ku, mungkin mereka masih takjub melihat mahluk asing dari Indonesia ini. Ya, diantara orang yang ada di tempat tersebut, hanya aku lah yang bermata sipit dan berkulit cokelat, atau hitam bagi mereka. Keberadaan ku memang sedikit mengalihkan perhatian mereka.

          Kemudian Ruslan kembali membuat kejutan. “Insya Allah Najib akan mengajar kita bahasa Arab”.

“Alamak! apa-apaan ini,” batin ku. Mengapa dia idak meminta konfirmasi terlebih dahulu. Bagaimana mungkin aku mengajar bahasa arab sedangkan bahasa pengantar aku belum bisa.

Kupandangi Ruslan dengan tatapan penuh ketidak fahaman. Dia hanya menjawab pandanganku dengan isyarat yang berarti “apa boleh buat ?”.

Aku sempat menolak pernyataan Ruslan, dan ketika aku kembali melihat ke jamaah, ternyata mereka sedang menunggu jawaban, antara apakah aku bersedia atau tidak.

Melihat wajah mereka yang dengan ihlas harus menempuh perjalan jauh hanya untuk mengaji, akhirnya aku menyanggupinya. Selain itu saya melihat bagaimana perjuangan Ruslan yang sangat besar untuk pendidikan islam.

O, iya saya belum menyebutkan, bahwa mayoritas jamaah yang saya ceritakan adalah mereka diatas usia paruh baya. Ruslan dengan sabar mengajari para embah-embah untuk mengaji Al-qur’an atau lebih tepatnya Alif, ba, ta. Aku hanya sedih karena aku tidak bisa membantu banyak, karna keterbatasan bahasa­ku. Seandainya bahasa yang aku miliki sudah bagus aku harus membantunya.

Saya, Hakimyan Hazrat dan Segey dan Feydor, dua orang photographer Russia

Hakimyan Sharipov Hazrat

Seorang lelaki berumur sekitar lima puluh empat tahun masuk dan langsung menyapa kami sedang berkumpul.

Assalaamu’alaikum,” ucap laki-laki tersebut dengan senyum simetris terpasang di bibirnya.

Jamaah dengan serentak menjawab salam laki-laki yang menggunakan tyubeteika[2] hijau has etnis Tatar[3].

          Setelah pertemuan dengan jamaah selesai kami pergi ke masjid yang letaknya tepat di depan madrasah. Aku dan Ruslan memasuki masjid dan langsung menuju ruangan paling awal yang terletak di sisi sebelah kanan koridor. Ruangan tersebut adalah ruangan imam masjid.

          –  “O,iya ini Hakimyan Hazrat[4], dan ini Najib, Ruslan mengenalkan kami berdua. Kami pun bersalaman seperti layaknya orang yang baru berkenalan. 

Mereka asyik berbicara, sedangkan aku sibuk mengubah mimik muka ku karena terkadang tatapan mereka menuju ke arah ku. Jika pembicaraan mereka tegang, aku pun ikut memasang ekspresi tegang, jika mereka tersenyum aku juga ikut tersenyum. Padahal aku tidak faham apa yang mereka bicarakan.

          Ruslan kembali melakukan apa yang sudah dia lakukan di depan jamaah tadi. Tanpa konfirmasi, dia bilang ke Hakimyan hazrat bahwa aku akan membantunya mengajar disini. Aku pun kaget untuk ke dua kalinya.

          Ruslan meninggalkan kami berdua di ruangan imam tersebut. Aku ngobrol lama dengan Hakimyan hazrat. Meski kembali lagi aku tegaskan, ini adalah hari ke empat ku di Russia. Aku belum bisa memahami kata-katanya. Aku hanya mengangguk-anggukan kepala ku sesering mungkin.

          Sekarang giliran Hakimyan hazrat yang bertanya kepadaku, apakah aku benar ingin membantu mengajar di pengajian ini. Aku hanya membalas, in sya Allah, aku tidak bisa membalas secara pasti  dengan berbagai pertimbangan, aku belum bisa berbicara bahasa Russia. Hakimyan Hazrat kemudian menasehatiku untuk lebih bersabar dan ihlas di Russia, rela membantu saudara muslim yang menjadi minoritas.

          “Ia na namaz pridu,”[5] kata Hakimyan Hazrat. Alkhamdulillah, tampaknya Hakimyan hazrat tampak senang dengan keberadaan ku.

          Setelah solat dhuhur pukul 14.30, rombongan pulang kembali ke kota. Aku pun ingin pulang namun Ruslan melarang.

          – “Ostavaite zdest do Magriba,”[6] kata Ruslan.

          Aku menyanggupinya, apa lagi ketika ku lihat wajah Hakimyan hazrat. Beliau sangat mirip dengan Abah habib Zen Al-Hady[7].

          “O, moi brat iz Indonesia”[8] kata Hakimyan sambil memeluk ku. Aku sungguh bahagia, merasa mempunyai keluarga baru di Russia.

Aku mengantar rombongan bis yang akan kembali ke kota. Sebelum bis berangkat Natalia dan lilya menghampiri ku. Kami ngobrol sebentar. Mereka bertanya berapa tahun aku akan tinggal di Russia.

Mungkin tiga tahun” jawab ku.

Dua gadis tersebut mengutarakan niatnya ingin belajar membaca Al-qur’an. Sungguh, aku merasa terharu.

Aku bangga kepada kalian semua..,” ungkap ku kepada mereka.

Natalia kemudian bertanya, apa yang membuat ku ingin ke Russia. Aku belum sempat menjawab inti pertanyaannya, bis sudah akan berangkat. Akhirnya kami berpisah.

Lilya bertanya, “Ne poyedihs se nami?[9]

 “Vecherom ia vernyus.”[10] Jawab ku.

Jam Sore

Aku baru tahu alasan Ruslan meminta ku untuk tetap tinggal. Ternyata setelah jamaah dari kota pulang, ada gelombang lain lagi yang datang. Waktu ngaji mereka  dari ashar sampai maghrib. “Subhan AllahRuslan, semoga Allah menjaga mu,” kata ku dalam hati.

Kemudian ruslan memintaku untuk menemani mereka membaca Al-qur’an sampai Hakimyan hazrat tiba. Setelah itu kami sholat mahgrib. Kami sholat maghrib berjamaah. Hakimyan hazrat meminta ku untuk menjadi imam. Ya, meski dengan perasaan berat, aku menyanggupinya.

Setelah sholat, aku teringat kata-kata pak Jirjis. “Cah Krapyak kuwi ono sing dadi imam nang belanda, sopo ngerti engko dadi imam nang Russia, wong NU kuwi gambare jagad, dadi engko nang jagad ngendi wae ono cah Krapyak[11] kata pak Jirjis saat aku sowan kepada beliau sebelum berangkat ke Russia. Aku hanya tersenyum, lucu.

          Selepas sholat maghrib aku berpamitan kepada jama’ah untuk pulang ke asrama. Kembali Hakimyan Hazrat memeluk aku sambil berkata, “brat, prixodite ke nam!”[12]

Insya allah, izvinite ia poka ne mogu pomoch vam[13]” jawab saya.

da, cherez god budesh horosho govorit po russki, pomojesh nam![14] kata Hakimyan hazrat sambil melepasku pulang.

            Perasaan ku sangat haru saat itu.


[1] Sekedar perkenalan diri juga boleh.

[2] Tyubeteika = Peci

[3] Salah satu etnis yang hidup di dataran Russia.

[4] Hazrat = Ustadz, Kyai , istilah ini dipakai oleh dikalangan muslim Russia.

[5] Saya akan datang saat waktu sholat

[6] Tinggallah disini sampai magrib.

[7] Pengasuh pengajian di Al-hady, Lapangan HEK, Kramat Jati, Jakarta timur.

[8] Saudara saya dari Indonesia.

[9] Tidak pulang bareng kita?

[10] Saya pulang sore.

[11] Anak Krapyak ada yang sudah menjadi imam di Belanda, siapa tahu kamu nanti menjadi imam di Russia. NU itu lambangnya bola bumi, jadi artinya nanti dibelahan dunia mana saja pasti ada orang Krapyak.

[12] Datang lagi, ya!

[13] Maaf kan saya karena belum bisa banyak membantu, anda !

[14] Setahun lagi, setelah kau lancara berbahasa Russia, bantu Kami !

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *