Nyantri di Negeri Tirai Besi – Bagian 6

by July 27, 2020

Mesir – Indonesia – Russia

          Seminggu ini banyak sekali hal yang ingin aku ceritakan, hanya sekedar berbagi pengalaman merantau di negeri orang. Dan tulisan ini mungkin sebagai pelarian di saat rasa kangen kadang menyerang secara tiba-tiba.

          Meskipun sudah hampir dua tahun meninggalkan Mesir namun hati ini masih tetap merindukannya. Mesir dengan berbagi kekacauan administrasi yang ada di dalamnya tetap saja membuat hati ku terkesan dan ingin sekali bisa kembali lagi ke sana. Indonesia, dengan berbagai problematika hidup yang harus dihadapi tetap saja membuat ku kangen ketika aku sudah jauh darinya.

          Dari pengalaman hidup di Mesir dan Indonesia aku kadang mengambil kesimpulan, bahwa Allah menciptakan segala sesuatu (termasuk Negara) dengan ada kelebihan dan kekurangannya. Disana ada orang jahat, disana juga ada orang baik. Mungkin begitulah, di Mesir bukan hanya para nabi saja yang pernah tercatat dengan tinta emas, namun nama Fara’inah[1] juga terlukis manis di tembok-tembok peradaban Mesir.

Di episode kali ini mungkin aku harus mengambil Russia sebagai latar belakang hidup ku.

Sebagian orang mungkin menganggap kepergian ku ke Russia sebagai anugerah, sebagian lain mungkin menganggapnya musibah, yakni sebuah tindakan nekat. Ya, begitu lah. Dengan modal dengkul ditambah sedikit muka tembok dengan menjadi “pengemis” aku berjuang bersama teman-teman lain untuk membekukan diri di Russia.

Kota Ekaterinburg, ibu kota provinsi sverdlovskaya oblast, keadaan yang aku temui disini mungkin bisa mewakili kota-kota besar lainnya di Russia. Sampai hari ke delapan keberadaanku di Russia, aku masih mempunyai pemikiran, bahwa Russia itu menyeramkan. Hal ini dikarenakan, selama aku diajak bertamu dan bertemu dengan orang-orang, mereka akan bilang “kalau malam lebih baik jangan keluar” atau “jika keluar jangan sendiri,”.  Buah dari itu semua akhirnya aku hanya bisa berdiam diri di kamar, dan kemana-mana harus selalu merepotkan orang lain.

          Ada cerita lain di awal-awal keberadaan kita di Yekaterinburg. Sekedar untuk membeli air minum, kita harus bareng-bareng. Perlu diketahui ,untuk kebutuhan minum sehari-hari kita harus membeli air galonan. Satu gallon, isi lima liter, seharga 22 rubel – Rp 6600. Di Russia, kita dilarang memasak air dari keran. Jika mengambil air dari keran maka kita harus men-filternya terlebih dahulu sebelum mengkonsumsinya. Alasannya, air di kota sudah tercemar.

          Di awal masa perkuliahan kita akan disibukkan dengan masalah administrasi. Sebenarnya administrasinya mudah, namun karna kendala suhu dan cuaca akhirnya administrasi pun terasa berat. Bayangkan saja, pada bulan oktober, jam delapan pagi langit masih gelap, apa lagi ditambah hawa dingin, badan akan lebih enggan untuk bangkit dari tempat tidur.

Alkhamdulillah, di Yekaterinburg (mungkin juga di kota-kota di Russia lainnya), administrasi untuk mahasiswa asing mempunyai kantor tersendiri. Kita diperlakukan layaknya raja. Para pegawainya dengan sabar dan penuh pengertian melayani kami. Hal ini sangat berbeda dengan proses pelayanan administrasi sewaktu aku di Mesir.

***

Pada waktu test seleksi beasiswa, penguji (warga negara Russia) sudah memperingatkan, bahwa Russia sangat berbeda dengan Cairo. Dari biaya hidup sehari-harinya, di Russia jelas lebih mahal. Dari masyarakatnya, orang-orang Russia sangat individualis (kata penguji saat itu), berbeda dengan orang-orang Mesir, kebiasaan di Mesir setiap ketemu orang, naik kendaraan, mengucapkan salam sudah menjadi tradisi yang wajib diucapkan, namun di Russia beberapa kali mencoba menyapa beberapa kali juga hati terenyuh karna tidak dijawab. 

          Dilihat dari Backgorund budaya, antara Mesir dan Russia jelas sangat berbeda. Jika kita mengamati budaya Mesir dan Indonesia,  kita masih bisa menemukan benang merah yang bisa kita ulur. Bagi seorang santri, dia akan senang jika ke Cairo. Di Russia, alamak,iman dan imin kita teruji sekali.

***

          Sekarang sudah sangat dingin, sempat minus 3 celcius dan turun salju, aku harus beli sepatu musim dingin. Karna jika tidak beli sepatu husus untuk musim dingin kaki bisa beku. Suhu di Yekaterinburg titik terendahnya sangat ekstrim, bisa mencapai min 41 celsius. Ya… begitulah… kadang aku tertawa sendiri membayangkan kenekatan ini.

Kadang berusaha mencari cerita-cerita atau membaca buku motivasi untuk menjaga semangat biar tetap terjaga. Kata Hakimyan hazrat, “cobaan pasti ada,  no jit nada”[2]

Ekaterinburg, 16 Oktober 2010.

Hormat Haji

Selesai sholat jum’at beberapa jamaah tinggal sebentar di masjid untuk menunggu sholat asar. Setelah sholat asar aku langsung diajak oleh Ruslan. Seperti biasanya, setiap jumat sore aku selalu ikut Ruslan ke desa Oktyabirski untuk istirahat karena hari sabtu dan ahad kampus libur.

Seperti di Indonesia, jum’at adalah hari terakhir kerja, oleh karenanya banyak orang yang keluar kantor lebih awal dan menyebabkan jalanan menjadi macet.

Dari masjid kami menuju Himmaz, ke rumah Gulsina opa[3]. Disana kami solat maghrib bersama dan makan malam. Selanjutnya kami ngobrol sampai jam sembilan. Dari tema pembicaraan yang mereka lakukan aku sedikit paham, bahwa ternyata hari ini akan ada penerbangan jamaah haji dari Yekaterinburg.

Pukul  22.00 waktu Yekaterinburg, kami pergi ke vokzal[4]. Kami menjemput Tagir Bikchantaev, teman ruslan yang berasal dari kota Kamerovo. Dia adalah salah satu jamaah yang akan berangkat dari Yekaterinbrug.

Udara malam itu sungguh dingin. Ya, saat musim gugur cuaca maupun hawa tidak bisa diprediksikan. Panas dan dingin bisa berganti dengan cepatnya. Seperti hari itu aku mengalami tragedy yang kita kenal dengan sebutan saltum (salah kostum) dengan hanya memakai jaket tipis. Ya! sebelum solat jumat hawa terasa hangat dan setelah sholat jumat aku belum sempat pulang untuk ganti jaket.

Kira-kira setengah jam kita menunggu sambil melihat jadwal kedatangan dan keberangkatan kereta di ruang depan centralnaya vokzal[5] sampai ada pemberintahuan bahwa kereta dari kota Kamerovo telah sampai di stasiun Yekaterinburg.

Setelah bertemu dengan Tagir kami kembali lagi ke Himmaz, ke rumah Gulsina opa. Disana kami makan lagi jam 12.00 malam. Kami ngobrol sampai larut. Kami sengaja tidak tidur karna jam 02.00 kami pun harus ke bandara untuk mengantar jamaah haji.       

Jam 02.00 kami keluar rumah menuju bandara. Sesampai disana Tagir langsung bergabung dengan beberapa calon jamaah yang sudah lebih dulu datang.

Jam menunjukan pukul 02.30, mata sudah tidak bisa diajak kompromi, namun Ruslan belum mau pulang karna masih ada 4 jamaah dia yang belum datang termasuk Rosul abai[6] dan istrinya. Setengah jam kemudian rosul abay dan istrinya datang begitu juga 2 jamaah Ruslan lainnya, dua perempuan yang sudah lanjut usia.

Perasaan ketika melihat dua nenek tersebut, aku langsung merasa sedih. Ibadah haji adalah ibadah fisik sedangkan nenek-nenek tidak cukup memiliki kekuatan untuk melaksanakan rukun dan wajib haji. Ya, semoga Allah mempermudah.   

          Malam itu, rombongan yang akan berangkat dari Yekaterinburg berjumlah 40 orang. Bisa dikatakan, diantara jamaah belum saling kenal karena baru bertemu pertama kali di bandara saat malam pemberangkatan. Tidak seperti di Indonesia yang antar jamaah bisa saling mengenal dulu melalui program manasik yang diadakan oleh KBIH.

          Kemudian aku berpikir, bagaimana nasib dua nenek tadi nanti di Mekah ? Siapakah yang akan membantu mereka. Dalam hati aku berdoa semoga semuanya baik-baik saja.

Akhirnya aku, Ruslan dan Gulsina pamit meskipun mereka belum check-in. Pukul 4.00 kami pulang. Dalam perjalanan pulang aku hanya terdiam.  Jumat, 29 oktober 2010


[1] Raja-raja pada masa fir’aun

[2] Hidup harus terus berjalan.

[3] Opa = bibi atau tante, bahasa Tatar.

[4] stasiun

[5] Stasiun pusat

[6] Cerita tentang Rosul Abai ada di Keluarga Muslim

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *