Nyantri di Negeri Tirai Besi – Bagian 7

by August 2, 2020

100 hari di Yekaterinburg

          Sebenarnya hari ini (20/01) adalah hari ke 105 aku sampai di Russia. Tapi singkatnya aku tuliskan 100 hari. Banyakan orang bertanya, bagaimana aku bisa tahu tentang bilangan hari itu, apakah aku tidak betah sehingga selalu menghitung perjalanan siang dan malam.

          100 hari pertama biasanya kinerja seorang pejabat pemerintah akan banyak mendapat soratan dan penilaian. Karna aku bukan pejabat pemerintah, ya… kewajiban ku adalah  menilai diri sendiri. Tapi bagi ku, aku adalah pejabat tuhan. Dengan anugerah yang diberikan setiap detiknya meskipun aku hanya berdiam diri. Ya! Aku merasa sebagai pejabat ruhan, karna aku adalah seorang “santri.”

Nyantri di Luar Negri

Seorang santri di hari pertama masuk pesantren selalu diminta untuk menata niatnya kembali, bahwa menuntut ilmu itu hanya karna Allah. Tidak usah diembel-embeli untuk menjadi apa atau siapa nantinya. Bahwa menuntut ilmu adalah ibadah dimana atau dengan siapapun. Ya, santri adalah mereka yang penuh keihlasan dan kesiapan mental.

Selain seorang santri harus siap di segala kondisi, dia juga harus selalu percaya akan kekuatan Tuhan yang Dia anugerahkan lewat alam-Nya. Santri harus selalu merasa bahwa tuhan selalu bersamanya. Bahkan seorang santri tidak boleh sombong dengan hanya mengandalkan usaha lahiriah semata dalam menuntut ilmu.

Dalam dunia santri kita mengenal istilah “barokah”. Barokah tersebut bisa diperoleh dari amalan – amalan kita sehari-hari. Bagaimana kita menghargai guru (ta’dzim), menghargai orang lain, menghargai waktu, dan menghiasi diri dengan amal-amal mu’tabar, dengan harapan kita akan mendapat barokahnya. Dan tuhan pasti akan memberi jalan.

Aku rasakan sendiri ketika hendak belajar ke Mesir. Banyak yang bertanya, apakah aku empunyai ikatan dinas dengan sebuah lembaga atau institusi dll hingga nanti sepulangnya aku dari Kuliah saya langsung mendapat kerja. Begitu juga ketika akan ke Russia, banyak yang menanyakan dengan nada memberatkan bahwa saya berangkat ke Russia bukan atas nama instansi. Ya, Allah lah yang maha tahu tentang apa yang aku inginkan dan masa depan ku. Aku percaya pada-Nya, karna aku adalah “santri.”

Aku sekarang sedang nyantri di Yekaterinburg, Ural salah satu wilayah provinsi Russia. Disini aku “ngaji” tentang hidup yang sebenar-benarnya hidup. Hidup yang penuh misteri dan hal yang terduga. Dari situ lah aku mengembangkan ajaran-ajaran kehidupan bahwa hidup itu dipenuhi dengan kata-kata bahwa.

Diantara sekian bahwa tersebut, pertama: bahwa hidup itu hanya Tuhan yang tahu. Oleh karenanya aku harus berhati-hati dan tidak boleh berhenti memohon (berdoa) dan berharap. Akubisa terjebak di holodilnik Rossii[1]” adalah skenario Allah yang belum juga bisa aku pahami.

Yang kedua: bahwa hidup kita dihiasi dengan perbedaan. Oleh karnanya kita harus menghargai perbedaan. Perbedaan adalah hukum Alam yang tidak bisa ditawar. Perbedaan bahasa, warna kulit, sudut pandang dll. Dengan adanya perbedaan kita bisa menikmati “ lezatnya Es Campur kehidupan.”

Ketiga: Bahwa hidup harus saling menghormati. Hanya ada dua jenis manusia di Dunia ini, manusia baik dan manusia jahat. Aku bisa dibilang hidup sebagai kaum minoritas. Alkhamdulillah aku mendapat saudara-saudara yang baik. Meski kita berbeda namun kita bisa merasa seperti keluarga.

Ke Empat: Bahwa hidup itu penuh dengan cobaan. Hal ini menjadikan ku siap dengan segala yang ada, apapun yang akan terjadi dll. Kadang ketakutan memang menghantui. Saat itulah aku harus lebih mendekatkan diri dan tidak boleh sombong kepada Nya.

Ke lima: bahwa dalam hidup, jangan pernah berhenti bersyukur.  Maka nikmat apa lagi yang engkau dustakan, terjemahan ayat dari surat Al- rahman yang sering diulang-ulang. Ya, alhamdulillah… aku diberi anugrah persaudaraan oleh Allah. Jika aku melihat ke atas, maka anugerah memang tidak akan cukup. Namun kita diajarkan untuk selalu melihat ke bawah, agar kita bisa selalu bersyukur.

100 hari pertama di Ekaterinburg mempunyai banyak cerita yang insya Allah terekam semua. Bahkan hitungan harinya. Ya, bagi ku, bahkan detikpun mempunyai makna dan cerita. Oleh karnanya aku menghitung dan mencatat semuanya, dengan harapan bisa berbagi pengalaman dengan saudara-saudara semua. Semoga.

Salam hangat dari Ekaterinburg.


[1] Kulkasnya Russia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *