Nyantri di Negeri Tirai Besi – Bagian 1

by July 22, 2020

Road to Rusia

7 Oktober 2010, dini hari pukul 00.10 waktu Jakarta, dengan tekat yang terasa berat aku meninggalkan Indonesia. Dalam penerbangan, berulang kali kembali ku kuatkan niat, bahwa aku ke Russia hanya untuk mencari ridho-Nya. Masih terngiang pesan ibuku sewaktu melepas kepergianku di terminal D2 Soekarno-Hatta. “Bismillah, Nang! niati semuanya untuk ibadah”, ucap ibu seraya memeluk ku sambil berlinang air mata. Pesawat ku mendarat Doha sekitar pukul 04.30 waktu setempat. Selanjutnya aku harus menunggu selama empat jam lagi untuk meneruskan perjalanan ke Moscow.

Pukul 9.30 waktu setempat, antara percaya dan tidak percaya, aku beserta rombongan meninggalkan Doha. Bagi ku semuanya terasa mimpi. Aku berpikir, bahwa tempat dimana pesawat yang membawa ku terbang sekarang akan mendarat adalah sebuah medan perjuangan, medan yang harus ku taklukkan untuk tiga tahun kedepan, jika semuanya sesuai dengan rencana.

Jujur, keinginan untuk pergi ke Russia sudah ada sejak aku merantau di Mesir. Semasa hidup di negeri para nabi itu, aku dekat dengan beberapa teman dari Russia. Kami sering menghabiskan waktu bersama baik itu di kantin, masjid, taman asrama, lapangan dll. Persahabatan dengan muslim Russian lah yang menjadi alasan, mengapa aku ingin pergi ke negeri yang terkenal dengan suhu ekstrimnya di saat musim dingin.

Aku merasa senang bisa akrab dengan mereka. Kami sering bertukar pikiran dan pengalaman masing-masing. Diantara cerita mereka, yang aku suka adalah cerita mereka tentang islam dan kehidupan muslim di Russia.

Terinspirasi dari cerita-cerita mereka, aku mulai mempunyai bermimpi untuk bisa merasakan bagaimana hidup sebagai seorang muslim di Russia. Mimpi tersebut kemudian berusaha aku capai dengan mulai sedikit demi sedikit mempelajari bahasa Russia di buuts dengan para mahasiswa Russia atau pun dari mahasiswa yang berasal dari negara-negara Asia Tengah.

***

Perjalanan Doha – Moscow menghabiskan waktu sekitar Lima jam. Aku lupa pukul berapa tiba di bandara Demodedovo, Moscow. Saat itu kami di jemput oleh pihak KBRI dan pihak kementrian pendidikan Russia.

Setelah keluar dari imigrasi, kami langsung berkumpul untuk mendapatkan briefing dari perwakilan KBRI dan PERMIRA. Saat pengarahan, kami diberi tahu tentang mekanisme perjalanan menuju kota tujuan.

Oh iya, jadi para mahasiswa penerima beasiswa tersebut tidak semuanya belajar di Moscow. Kami berpisah sesuai kota yang sudah ditentukan oleh pihak kementrian pendidikan Russia.

Kebetulan aku dan salah satu teman, Muhamad Reza Sudarman, ditempatkan di Yekaterinburg, salah satu wilayah Russia yang berjarak sekitar 1800 km dari Moscow.  

Panitia penjemput menyarankan kepada kami agar segera membeli tiket pesawat untuk melanjutkan perjalanan ke Yekaterinburg. Alasannya, agar kami tidak kemalaman sampai di kota Yekaterinburg.  

Panitia kemudian mencarikan informasi tentang harga tiket pesawat ke kota Yekaterinburg. Harga tiket sekitar 8700 ruble ( + 2,5 juta), untuk satu kilo overweight dikenakan denda 100 ruble. Jadi kami, harus menukarkan uang sekitar 14000 ruble (sekitar 5 juta), sekalian untuk persiapan awal kedatangan.

Ya, hal itu menjadi shock terapi bagi ku. Belum apa-apa aku harus mengeluarkan uang 5 juta dari ATM. Kekurangan uang adalah momok utama bagi ku karena tekad yang telah aku ikrarkan untuk tidak menyusahkan orang tua lagi.

Lembaran uang ruble aku serahkan ke panitia untuk keperluan tiket. Ya, normal sekali ketika aku tiba-tiba merasa ketakutan. Tabunganku sisa sedikit. Padahal aku masih tiga tahun lagi hidup di Russia. Sekuat hati aku memantapkan tekat. Dengan bismillah , aku berpikir “hadapi dulu apa yang ada”.

Seorang teman, Putu namanya, mungkin bisa membaca perubahan gesture muka ku. Dia berkata, “yang sabar ya, Najib”.

“Terima kasih,” balas ku sambil tersenyum paksa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *