Nyantri di Negeri Tirai Besi – Bagian 2

by July 22, 2020

Yekaterinburg

Kami tiba di bandara Kol’tsovo Yekaterinburg sekitar pukul 22.00 waktu setempat. Penerbangan Moscow-Yekaterinburg memakan waktu sekitar dua jam. Suhu udara dingin, berkisar antara 10 derajat, membuat ku sempat merasakan kedinginan. Kami di jemput oleh mas Rakhman Ardi, mahasiswa program master psychology tahun terakhir di Ural State University.

Mungkin karena aku mempunyai latar belakang kehidupan santri, ketika keluar dari bandara menuju ke parkiran taksi, aku teringat pesan salah satu guru yang biasa aku panggil Gus Zaky. Pesan beliau: “jika kamu memasuki suatu daerah baru maka berdoalah – wa qul robbi adkhilni mudkhola sidqin wa akhrijni mukhroja sidqin waj’alli min ladunka sultonan nasiro.” Itu lah pesan yang aku terima ketika aku berpamitan minta restu kepada beliau.

***

Hari pertama di Yekaterinburg, Jumat 8 oktober 2010

Aku masih ingat, hari pertama ku di Russia adalah hari jum’at. Hari yang sangat special karena aku adalah seorang muslim. Hari dimana dalam “keyakinan” yang aku anut dikatakan sebagai hari yang paling utama diantara yang hari-hari lainnya (sayyidul ayyam). Hari dimana aku dan saudara seiman terbiasa menyambutnya dengan mandi, membaca beberapa surat alquran di pagi hari, memakai wewangi-wangian kemudian pergi ke masjid.

Hari-hari jumat sebelumnya, aku merasa senang ketika melihat gerombolan kakek-kakek berjalan kaki menuju masjid. Remaja takmir duduk bercengkrama bersama di serambi masjid setelah sholat sambil menghitung uang kotak amal.

Terkadang geli melihat anak-anak yang lebih suka mengalungkan sarungnya seperti serempang daripada memakai dengan semestinya. Namun, suasana hari jumat pertama di Russia yang aku alami berbeda seratus delapan puluh derajat, sangat sepi.

Hari itu, untuk pertama kalinya aku tidak dibangunkan oleh adzan subuh. Aku tidak melihat tanda-tanda orang islam disana. Di luar jendela belum aku lihat satu pun perempuan berjilbab. Dalam hati aku berteriak, “Ya Allah, dimana saudara seiman ku disini !?”. Perasaan yang sejak awal kedatangan sudah dihampiri shock, kini pun bertambah gundah.

Di hari pertama kedatangan, aku harus menyelesaikan beberapa urusan administrasi; seperti registrasi kampus dan asrama, pembayaran ke bank, test penempatan (placement test) untuk kursus bahasa, pemeriksaan kesehatan dll. Oleh karenanya aku dan mahasiswa baru lainnya harus keluar asrama sejak pagi, melawan kemalasan yang disebabkan angin dingin musim gugur Russia.

Dari mulai keluar asrama, sepanjang perjalanan, aku melihat ke semua arah semampu mata memandang, aku pasang telinga selebar mungkin. Semua itu aku lakukan dengan tujuan, paling tidak aku bisa melihat ujung menara masjid, atau bisa menangkap pantulan pengeras suara yang melantunkan ayat-ayat alquran.

Hari itu, hari jum’at pertama, tiba-tiba aku merasa takut.

“Ya, Allah, bagaimana aku hidup tanpa ada saudara muslim?”

Administrasi memakan waktu lama. Sholat pun lewat karena aku tidak tahu waktu sholat di Yekaterinburg. Waktu sholat pun tidak bisa dikira-kira seperti di negara Indonesia.  Di Yekaterinburg sangat beda, pada bulan oktober, pukul 8.00 pagi masih gelap, dalam hati, aku hanya bisa membaca sholawat, berdzikir dan beristighfar.

“Ya allah… ini ibadahku kepada MU”.

Sekitar jam empat sore kami pulang ke asrama. aku masih kepikiran bahwa hari ini aku belum sholat, baik dzuhur ataupun ashar. Aku  mau sholat tapi sholat apa, arahnya kemana? Karena kecapaian ditambah perasaan yang tidak nyaman, ketika berbaring di tempat tidur, aku pun ketiduran.

Aku tidur dari jam 4 sore dan bangun pukul 01.00 malam. Kemudian aku rapel semua sholat yang terlewatkan hari itu. Setelah sholat, aku duduk bersila diatas sajadah. Suasana sepi membuatku hanyut dalam perasaan saat itu. Aku menangis dalam dzikir ku.

Aku bertanya pada diriku sendiri “Apa yang aku cari, mengapa aku datang ke Russia? Pertanyaan ini seperti tamparan buat ku. Dari dulu banyak orang menanyakan kenapa aku ingin pergi ke Russia. Dalam kesendirian aku berusaha menemukan jawabannya, apakah ini karma karena tidak ku indahkan perkataan orang-orang.

Serasa ada suatu kekuatan. Namun aku harus bangkit. Aku laki-laki, tidak boleh cengeng, semua sudah ada garisnya, Allah menghendakiku untuk berada di Russia saat ini. Aku berusaha membesarkan hati dengan mengingat-ingat bagaimana keluarga mengantarku sampai ke bandara Soe-Ta, keluarga besar Krapyak (Pondok Pesantren Krapyak), pak Ghufran (Mantan kepala sekolah Indonesia-Cairo) yang selalu menyemangatiku untuk untuk menjadi duta muslim di Russia.

Bismillah …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *