Nyantri di Negeri Tirai Besi – Bagian 3

by July 23, 2020

Ruslan Nurmametov

Hari ke dua sabtu, 9 oktober 2010

Kegalauan ku pun memuncak. Akhirnya aku berpikir untuk mengirim pesan singkat (sms) kepada salah satu teman Russia yang pernah pernah kenal semasa di Cairo. Namanya Romil Gizzatullin. Saat itu dia sedang berada di Cairo, melanjutkan pendidikan masternya.

Saya kirimkan pesan pendek ini :

“Romil, alhayah so’b fi Russia, maa fiisy adzn wa laa masjid, khudz ni!!!” (Hidup sangat susah di Russia, tidak ada adzan atau pun masjid, jemput aku !!!)

Tentunya Romil langsung bisa memahami bagaimana perasaanku. Keadaan kota Yekaterinburg sangat jauh berbeda dengan keadaan kota Cairo. Di Cairo, adzan bisa terdengar setiap waktu dan masjid bisa ditemui hampir setiap beberapa meter. Dimana sesama saudara muslim bisa membuat janji untuk bertemu di masjid, berjamaah, belajar bersama dll.

Setelah pesan singkat terkirim, Romil langsung menelpon ku. Aku tidak bisa menahan rasa bahagia ketika di layar handphone-ku tertulis panggilan darinya. Ku angkat telephone sambil berteriak, “Romiil!” .

Aku ceritakan bagaiman keadaan ku di Russia. Sempat ungkapan penyesalan terucap. Romil terdiam, mendengarkan segala keluh kesah ku. Dengan besar hati dia menasehati dan menyuruh ku agar tetap sabar.

Yabnii, ittasil bi Ruslan, huwa yaskun fi Yekaterinburg” (Hei, coba kamu telpon Ruslan, dia tinggal di Yekaterinburg!) Kata Romil.

Romil mengingatkan ku bahwa ada alumni al-azhar yang tinggal di kota Yekaterinburg, namanya Ruslan Nurmametov. Setelah mendengarnya berkata demikian, aku mulai bisa bernafas kembali.

Aku pun langsung mengirimkan SMS ke Ruslan:

“Ruslan hadza roqmii. Askun fi Syari’ Chapaiva” (Ruslan, ini nomer saya. Saya tinggal di jalan Chapaeva 16A 437.) 16A, 437 Yekaterinburg. – Najib Indonesia”.

Ketika menulis SMS tersebut, aku sangat menaruh harapan besar pada Ruslan. Aku menunggu telephon darinya, atau paling tidak jawaban sms.

Sungguh, Aku sangat bahagia ketika akhirnya Ruslan menelepon ku. Dan aku pun akhirnya bisa berbicara dengan saudara muslim di Yekaterinburg. Namun, pembicaraan kami tidak sesuai dengan yang aku harapkan.

Najib, kenapa kamu datang ke Russia kamu tidak akan menemukan         faidah apapun di sini..” ucap Ruslan melalui telepon.

Perkataan Ruslan tersebut membuat ku bertambah sedih. “Mengapa dia tidak membesarkan hatiku?” aku bertanya sendiri dalam hati.

Ada hikmahnya.., pasti ada” jawab ku singkat.

Baiklah, aku harus berbicara dengan mu hari ini, jam 4 aku ke rumahmu” lanjut Ruslan.

Tidak usah repot-repot, kasih saja alamat kamu, kalau kamu sibuk dan jauh tidak usah kesini” aku berusaha menolak meskipun dalam hati, aku mengharapkan kedatangannya.

Entah mengapa aku pesimis padanya, sebab ucapannya diawal pembicaraan kami tadi kurang begitu mengenakkan.

***

Hari ini teman-teman mahasiswa baru berencana akan pergi belanja kebutuhan sehari-hari ke IKEA. Tempatnya agak jauh. Karena aku masih ragu apakah Ruslan benar-benar akan menemui ku hari ini, akhirnya aku putuskan untuk ikut berbelanja saja bersama teman-teman.

Perkataan Ruslan tidak begitu mudah lepas dari pikiranku. Sungguh ucapannya tadi membuat ku pesimis. Di sepanjang perjalanan menuju IKEA aku pun kembali berpikir kenapa harus datang ke Russia.

Tadi aku sangat berharap bisa bertemu dengan Ruslan, namun ucapannya yang bilang bahwa aku tidak akan menemukan faidah apapun datang ke Russia, sungguh membuatku sedih.

Aku kembali sms ruslan “Ya akhi, saya ke pasar, mungkin sampai asrama jam 5, apakah kamu akan datang hari ini?”

Lama aku menunggu jawaban sms, hati ku pun tambah kacau, aku mulai berburuk sangka, apakah di Russia juga ada lip-service? Jika memang ada, aku pun harus siap, karena Allah maha segalanya. Pikirku menenangkan diri.

Sujud Syukur

Sore itu, aku dan kawan-kawan masih berada IKEA. Meskipun terhitung refreshing alias jalan-jalan di pusat perbelanjaan, tapi aku tidak bisa menikmatinya. Aku masih mengharapkan bahwa akan ada saudara muslim yang menemui ku hari ini karena bagiku mempunyai teman yang “sehati” dan “sepemikiran” adalah penting.

***

Kami sedang menunggu taksi di area parkir IKEA saat telepon genggam ku bergetar, sebagai pertanda adanya panggilan masuk. Namun karena batereinya lemah, aku tidak bisa melihat nama pemanggil. Yang muncul di layar HP hanyalah tulisan “baterei lemah” disertai bunyi peringatan, “tung”.

Karena tidak ingin battery semakin lemah, akhirnya aku angkat langsung meskipun tak tahu ID pemanggil.

Subhan Allah..!”, alkhamdulillah Ruslan menelpon.

“Najib, aku jam empat berangkat dari rumah, jika kamu sudah sampai asrama, sms aku !” begitu ucapnya di telepon.

Aku pun menjawab bahwa tidak usah repot-repot untuk menemui ku (sebagai ungkapan basa-basi meski aku sangat berharap bisa bertemu orang islam Russia). Namun dia bilang sangat ingin bertemu dengan ku, paling tidak kami sudah 4 tahun tidak ketemu.

Jam lima aku sudah sampai di asrama. Aku pun mengabarinya bahwa aku sudah di rumah. Dia bilang kepadaku untuk menunggu sekitar lima belas menit lagi. Sambil menunggu, aku sholat dhuhur dan asar dalam satu waktu.

Lebih dari 15 menit, aku berdiri di samping jendela sambil berharap aku bisa melihat Ruslan. Namun aku tak melihat siapa pun yang aku kenal. Telepon ku bergetar lagi, Ruslan menelpon meminta ku untuk turun ke area parkir.

Sambil berlari kecil, aku keluar asrama, menuju tempat parkiran dimana Ruslan berdiri. Aku merasa terharu, kami pun salaman dan berpelukan bagaikan saudara yang sudah lama tidak bertemu.

Udara bulan oktober saat itu sangat dingin, kami pun lantas masuk mobil untuk sekedar menghangatkan badan. Ternyata udara dingin lebih kuat, terlebih buat aku yang baru datang dari negara panas. Meski duduk di dalam mobil, aku tetap merasa dingin, terutama kaki ku yang tidak memakai kaos kaki.

Bagaimana perasaanmu tiba di Russia,” tanya Ruslan.

Sebelum menjawab, aku menjelskan maksud dan tujuanku secara panjang supaya dia mengerti. Aku katakan bahwa ini sudah menjadi rencana Allah, dan pasti ada hikmahnya mengapa aku sampai disini.  Aku katakan bahwa yang membuat ku sedih adalah, sampai saat ini aku belum bertemu dengan saudara muslim, masjid pun tidak ada. Tanpa terasa nada sedih mulai mewarnai intonasi suaraku.

Kalau begitu saya ajak kamu jalan-jalan, supaya tidak sedih,” tawar Ruslan.

Ya, kini ada secercah perasaan senang dalam hati. Di awal kedatanganku ke Russia aku berkomunikasi dengan Ruslan dalam bahasa arab. Hal ini mengingatkanku dengan kenangan-kenangan kami selama di Mesir. Di mana muslim dari seluruh penjuru dunia disatukan oleh satu bahasa, yaitu bahasa arab.

Aku sempat menanyakan kepada nya, kemana dia akan membawa ku. Namun dia tidak menjawab, bagi ku juga jawabannya saat itu tidak terlalu penting. Aku hanya senang, ketika akhirnya bisa bertemu dengan saudara muslim.

10 menit kemudian dia mengarahkan mobilnya menuju suatu tempat yang tertutup pagar kayu. Suasana mendung musim gugur membuat bangunan itu nampak seram, tak berpenghuni.

Aku bertanya kepada Ruslan, “kok gerbangnya terkunci?”

Kalau terkunci, ya.. kita buka,” jawabnya sambil merogoh saku celana.

Ternyata benar dia memegang kuncinya. Pintu pun terbuka. Setelah pintu terbuka kami disambut jalan sempit berkerikil yang mengantarkan kami kepada sebuah bangunan kecil.

Masjid Nur Usman dikelilingi Salju

Bangunan tersebut berukuran kurang lebih 10 meter persegi. Di sekelilingnya masih terdapat semak-semak belukar. Menurut ku lahan ini baru saja dibuka. Dari fondasi atau catnya, aku perkirakan bangunan tersebut masih baru. Dan yang membuatku terkejut, mata ku seolah tak percaya menatap ke bagian atas bangunan tersebut.

Mataku tak bergerak mengamati atap bangunan berwarna hijau tersebut. Terdapat bagian yang menjulang lebih tinggi dibanding permukaan atapnya.  Bagian tersebut adalah kubbah / menara.

Menara masjid itu tidak begitu tinggi. Bagian atasnya dihiasi bintang dan bulan sabit, symbol bahwa bangunan tersebut adalah masjid.

Dengan perasaan berkecamuk antara suka, terharu dan syukur yang kuat, aku mengikuti Ruslan berjalan menuju bangunan tersebut. Kembali Ruslan mengeluarkan kunci dari sakunya untuk membuka pintu masuk.

Sungguh, nikmat Allah yang begitu besar bagiku. Ku lihat hamparan karpet dan sajadah serta beberapa Al-qur’an tersusun rapi di rak yang berdiri di ujung.  Aku tak bisa menahan diriku untuk sujud syukur dan meneteskan air mata tanda haru.

Aku terlarut dalam sujud syukur ku beberapa saat.

Mutasyakir awi,” aku ucapkan terima kasih ke Ruslan karena telah membawa ku ke tempat dimana aku bisa mengadu pada-Nya.

Kemudian dia menjelaskan bahwa sebenarnya masjid ini berada di ujung jalan asrama dimana aku tinggal. Masjid ini baru diresmikan dua bulan lalu, dan belum berfungsi aktif, masjid hanya dibuka untuk sholat jum’at saja.

Selanjutnya, kami sholat jama’ah magrib di masjid tersebut, hanya dua orang, aku dan Ruslan. Sungguh, jamaah maghrib pertama yang aku rasakan di Russia. Sungguh nikmat Allah yang begitu besar. Secercah cahaya telah aku temukan, sebuah rumah kembali bagi jiwa seorang muslim.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *