Nyantri di Negeri Tirai Besi – Bagian 4

by July 24, 2020

Keluarga Muslim

Rasa hening masih menyelimuti ruangan masjid dimana kami baru saja menyelesaikan sholat maghrib. Hanya bacaan fatikhah diakhir doa yang terdengar dari mulut kami. Perasaanku masih terperangah, antara percaya dan tidak percaya.

Akhirnya aku bisa menemukan masjid yang ternyata tidak jauh dari asramaku. Setelah kami rasa cukup, Ruslan mengajak ku untuk jalan-jalan.

Natamasya?? ” tawar Ruslan.

Kita akan kemana lagi?” tanyaku.

Apa kamu sibuk?” dia balik bertanya kepadaku.

Tidak, justru aku senang?”

Dalam perjalanan Ruslan bilang, kalau kita akan bertamu ke rumah salah satu keluarga muslim keturunan Kazakh. Oh, bahagianya diriku ketika mendengar bahwa aku akan dikenalkan dengan keluarga muslim di Yekaterinburg.

Kami berhenti di sebuah area parkir. Ruslan sendiri belum tahu apartement mana yang akan kita tuju. Tidak lama berselang, seorang laki-laki paruh baya, aku taksir umurnya sekitar 45 tahun, berjalan mendekati mobil kita.     -“Ta’al, nakhruj!” Ruslan memberi kode bahwa kita harus menyambut       laki-laki itu.

– “Assalaamu’alaikum,” Ruslan berusaha mendahului salam kepada laki- laki itu.

Aku pun kemudian mengucapkan salam sambil ku ulurkan tangan. Laki-laki tersebut memandang ku dengan tatapan aneh. Seperti orang yang menerka-nerka, mungkin dalam pikirannya dia bertanya, apakah kita pernah bertemu seblumnya?
Kami memasuki sebuah rumah rumah yang terletak di lantai lima. Ruslan kemudian mengenalkan ku kepada si empunya rumah. Nah, sekarang aku tahu, bahwa laki-laki ini adalah tuan rumah, namanya Rosul. Aku kemudian memanggilnya Rosul Abai (kakak tertua).

Rosul Abai tinggal bersama ibu, istri dan keluarga Shamil. Shamil adalah anak tertuanya. Dia sudah menikah memiliki dua anak namanya Sulaiman dan Maryam. Dua anak yang sangat lucu.

Mereka keluarga muslim suku Kazakh namun mereka sudah menjadi warga negara Russia. Suku Kazakh adalah anak turun etnis Turkey yang tinggal di eropa timur atau asia tengah. Secara fisik mereka mempunyai banyak kesamaan dengan orang Indonesia. Seperti tinggi badan, kulit yang agak kecoklatan dan mata yang agak sipit. Namun begitu mereka juga mempunyai husus juga yang bisa dikenali oleh beberapa orang asia tengah.

Kunjungan hari itu adalah kunjungan untuk makan malam. Alkhamdulillah aku merasa senang disambut dengan begitu ramah. Melihat istri dan ibu Rosul abai yang berjilbab mengingatkan ku kepada bude dan bulik ku di Indonesia.

Setelah agak malam kami pun berpamitan. Rosul abai mengantarkan kami sampai ke area parkir. Seperti tradisi umat muslim, kita dianjurkan untuk berpelukan jika bertemu atau berpisah. Kami pun berpelukan. Rosul abai berpesan kepadaku untuk datang setiap waktu. Aku merasa senang mendapatkan perlakuan seperti itu. “Rahmat (Terima Kasih), semoga Allah membalas kebaikan anda” jawab ku.

Sudah malam, namun aku tak menyadarinya, mungkin aku bahagia karena merasakan kehangatan keluarga muslim baru. Kami pun pulang.

***

Aku dan Ruslan sempat berhenti sebentar di halaman parkir asrama. Ruslan menanyakan tentang bagaimana urusan administrasi kampus dll. Dia bilang siap membantu jika ada masalah. Aku hanya bisa berterima kasih kepada Ruslan yang sudah mengantarkan aku ke masjid dan memperkenalkan ku kepada keluarga muslim.

Sebelum berpisah dia meminta ku untuk datang ke Oktyabr’ski (Nama Desa) besok harinya (Ahad). Aku sendiri tidak tahu dimana Oktyabr’ski, dan bagaimana aku bisa sampai kesana. Ruslan menjelaskan bahwa nanti akan ada mobil jemputan yang akan berhenti di octanovka tsirk (Halte Sirkus) jam 10.00. Akhirnya kami berpisah. Dan perasaan ku mulai senang, hari itu.

Komunitas Muslim

Hari ketiga, Minggu 10 oktober 2010.

Hari Ahad, jalan raya yang tampak dari jendela kamarku terlihat begitu sepi. Mungkin hari ini adalah hari libur, jadi aktivitas pagi hari juga mati. Setelah sarapan pagi, aku tanya kepada teman sekamar arah ke octanovka tsirk. Setelah mendapatkan petunjuk dari teman sekamar ku, aku pun keluar asrama sekitar pukul 9.30 waktu setempat.

Jalanan begitu sepi. Seingatku sejak keluar dari asrama, aku hanya beberapa kali berpapasan dengan orang. Mobil pun sedikit yang berlalu lalang. Sungguh hari minggu pagi Yekaterinburg seperti kota mati. Tiba-tiba aku merasa merinding teringat cerita mafia di film-film, ah parno!

Perasaan takut ku sangat wajar karena hari itu adalah baru hari ketigaku di Russia. Aku belum mengenal lingkungan di mana aku jalan, apakah jalan aman atau tidak. Mata ku menatap dengan tidak percaya diri.

Mungkin karena santri, selama berjalan menelusuri trotoar aku tidak lupa untuk berzikir. “Bismillah tawakkaltu ‘ala Allah wa la haula wa laa quata illa billah”. Sholawat juga tidak berhenti dari mulut ku. Sungguh ketakutan itu menyadarkan ku akan kebutuhan terhadap perlindungandari  yang Maha melindungi.

Lima belas menit kemudian aku sampai di halte yang di katakan Ruslan, halte yang berada di depan bangunan untuk pertunjukan sirkus di jalan vosemo marta (Jl. 8 Maret). Aku berdiri disana sambil menahan dingin. Tak satupun orang yang aku kenal berada di samping ku. Sesekali ku pasang muka sangar jika ada orang yang mendekat, aku takut dipalak.

Sigaret pojaluista!” (bagi rokok dong) tiba-tiba seorang perempuan meminta rokok kepada ku. Busyet! Baru sekali seumur hidup dimintai rokok dijalan, sama cewek pula.

Ia ne kuryu,” (saya tidak merokok) jawab ku agak ketus. Cewek tersebut kemudian ngomel-ngomel. Sebenarnya aku tidak tahu apakah cewek tadi ngomel atau hanya bicara biasa. Mungkin intonasinya yang tidak rata membuatku beranggapan bahwa cewek tersebut sedang ngomel.

Menjelang jam 10 aku melihat seorang gadis muda berjilbab berjalan kearah ku. Subhanallah, cantik bak boneka.  Meskipun bagian luar kepalanya tertutup jamper jaket, namun aku  tau kalau gadis itu berjilbab. Aku masih bisa melihat kain yang membalut leher kemudian ke atas kepalanya. Sesuatu yang mengindikasikan kalau kain itu adalah jilbab.

Aku berniat mendekatinya, berusaha menanyakan apakah dia akan ke Oktyabi’rski, desa yang juga menjadi tujuanku hari itu. Namun gadis tinggi itu tidak bisa diam, jalan kesana-kemari. Akhirnya ku urungkan saja niatku.

Aku mengeluarkan Quran saku dari tas. Aku membacanya sambil berdiri, dengan harapan jika ada orang islam yang lewat, maka dia akan menyapa ku.

Alkhamdulillah usaha ku berhasil. Seorang laki-laki berumur 70 tahunan mendekatiku sambil mengucapkan salam “Assalamu’alaikum”. Nama bapak-napak tersebut Rushan.  Setelah kami berkenalan, aku katakan padanya bahwa aku anak baru di kota ini. Sekarang aku ingin pergi ke desa Oktyab’riski.

Aku berkomunikasi dengan dia menggunakan bahasa inggris. Karena kosa kata bahasa Russia yang aku miliki belum cukup untuk ngobrol banyak. Aku katakan bahwa aku disuruh menunggu di halte ini, katanya nanti akan ada mobil yang menjemput. Dan syukur Alhamdulillah sang bapak juga memiliki tujuan yang sama dengan ku. Hati ku pun mulai lega, aku tidak akan tersesat karena sudah menemukan teman satu tujuan.

***

Satu demi satu orang berdatangan ke arah kami berkumpul. Mereka ternyata memiliki tujuan yang sama, ke desa Oktyab’riski.  Aku semakin senang setelah melihat ternyata ada juga komunitas muslim di Yekaterinburg, Diantara rombongan tersebut ada dua gadis muda yang kemudian ku ketahui namanya Lilya dan Natalia. Natalia adalah gadis tinggi berjilbab yang aku ceritakan diatas tadi.

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *