Peran Santri di Tengah Arus Konservatisme Beragama

by October 3, 2020

Sebagai hasil dari perjuangan dan konsensus bersama, negara Indonesia diibaratkan sebagai rumah besar yang menaungi beragama karakter dan keharmonisan hubungan antar penghuni rumah besar. Oleh sebab itu, Indonesia bukanlah milik sebagian orang, kelompok, atau etnis tertentu.

Sejak dan dalam perkembangannya, peran santri dengan latar belakang pesantren tidak akan dapat dipisahkan dari proses kemerdekaan dan pembentukan bangsa ini, Indonesia. Jika dulu, santri terlibat perang dengan memikul senjata di pundak melawan para penjajah, maka kini santri berperang tidak lagi demikian, melainkan lebih pada usaha mempertahankan keutuhan NKRI dari serangan ekstrmisme, radikalisme dan terorisme yang mengancam pluralitas di Indonesia.  Sikap ekslusif beberapa kelompok kegamaan, truth claim, dan budaya kafir mengkafirkan adalah hal yang tidak dipungkiri berpotensi besar dalam merongrong kesatuan bangsa ini.

Survei yang dilakukan oleh LSI Denny JA pada 2018 menunjukkan semakin khawatirnya public terhadap aksi terorisme mencapai angka 82 persen. Di tahun 2016, Wahid Foundation juga sebelumnya melakukan survei dengan memotert radikalisasi di kalangan masyarakat dengan temuan sejumlah data yang sangat mengkhawatirkan. Dari dari total 1520 responden sebanyak 59,9 persen memiliki kelompok yang dibenci. Kelompok yang dibenci meliputi mereka yang berlatarbelakang agaman non- muslim, kelompok Thionghoa, komunis, dan lainnya. Masing-masing tidak setuju jika jadi pemerintah, tetangga, dari kelompok yang dibenci tersebut.

Tentu meningkatnya pemahaman radikal dan eksklusif diatas tidak dapat dipisahkan dari fenomena sentiment agama dalam politik sejak 2014 lalu. Merebaknya politik identitas, merosotnya toleransi, dan meningkatnya ektremisme dan radiklaisme adalah tiga hal yang tidak dapat disepelekan oleh masyarakat Indonesia. Tentu saja, tiga hal itu menjadi ancaman keutuhan NKRI. Lalu, sebagai representasi Islam moderat, apa saja peran santri dalam menyikapi fenomena ekstremisme dan radikalisme saat ini?

Peran Santri di tengah Konservatisme Beragama

Berbagai fenomena ekstremisme dan radikalisme seperti penggerebekan dan pembakaran rumah ibadah minoritas di Aceh, pengeboman gereja di Surabaya pada 2018 lalu, persekusi LGBT, dan peristiwa radikal lainnya di Indonesia yang terjadi beberapa tahun terakhir menandakan bahwa hal yang terkait dengan ekstremisme dan radikalisme tidak boleh dianggap sepele oleh masyarakat. Ciri dari sikap ekstremisme ini yang sering ditemui adalah sikap truth claim dan pemahaman tekstualis terhadap teks keagamaan. Dari itu, tidak heran apabila dalam pemahaman kelompok konservatif terkesan kaku dan menolak kontekstualitas serta melanggengkan formalisasi agama dalam model keberagamaannya.  Akhirnya, agama hanya dipandang sebagai kesalehan ritual dan mengabaikan kesalehan sosial dan spiritual.

Pertarungan wacana ekstrimisme dan radikalisme di media sosial juga turut perlu di beri perhatian. Dalam hal ini, santri sebagai representasi Islam tradisional yang terkenal akan sikap moderatnya perlu melakukan respon atas narasi sikap keberagamaan konservatif yang mengarah pada sikap ekstremisme dan radikalisme. Hadirnya tokoh-tokoh pesantren alias santri di media sosial tidak dipungkiri merupakan angin segar di tengah marak dan panasnya ideologi ekstremisme yang merajalela. Diantara tokoh-tokoh santri itu adalah Gus Nadirsyah Husein, Gus Baha’, Gus Muwafiq, serta santri-santri muda lainnya dengan membawa narasi kebergamaan yang ramah dan damai terhadap perbedaan.

Tentu ada banyak hal yang dapat dilakukan oleh santri dalam merespon geliat kelompok konservatif ini. Bagaimanapun, di pesantren, seorang santri telah di latih untuk hidup dalam perbedaan dan keberagaman. Oleh sebab itu tidak ada yang bisa menunggalkan pendapat, dipaksa untuk selaluu bermusyawah dalam setiap pengambilan keputusan, serta pola hidup sederhana.

Di pesantren seorang santri memiliki sanad keilmuan yang mumpuni dan sumber pembelajaran yang otoritas yang kuat. Sumber kelimuan yang kuat, sanad ilmu yang mumpuni, dan keseharain sederhana adalah ekspresi santri dalam menanamkan moderasi. Hal itu bertolak belakang dengan kelompok keagamaan konservatif yang mayoritas pemahamannya di sandarkan pada narasi narasi kegamaan dari internet.

Penutup

Geliat kelompok keagamaan konservatif baik di masyarakat ataupun media sosial, tidak dapat dipungkiri memberi andil besar dalam pembentukan ideologi serta mengantarkan pada sikap ekstremisme dan radikalisme di Indonesia. Dengan semangat purifikasi dan fundamentalisme keagamaan, kelompok konservatif ini menolak model keberagamaan di Indonesia yang sarat akan tardisi dan budaya lokal. Selain itu, model keberagamaan konservatif juga menganggap kelompok diluarnya sebagai musuh sehingga tidak dipungkiri intoleransi dan narasi kebencian sarat melakat dalam kelompok keagamaan konservatif.

Sebagai representasi dari model keberagamaan yang moderat, santri jebolan pesantren diharapkan mampu merespon model keberagamaan konservatif yang tidak dipungkiri mengancam perdamaian dalam kehidupan bermasyarakat Indonesia yang plural. Santri diharapkan berani tampil dan mengaku ahli dalam bidangnya dengan tujuan agar bidang tersebut tidak diisi oleh orang-orang yang awam hingga akhirnya justru menyesatkan.

Penulis: Siti Muliana, STAI Sunan Pandanaran Yogyakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *