Peringatan 10 Muharram

by August 26, 2020

Yauma `Asyuraa’. Hari yang kesepuluh dari bulan Muharram dianggap termasuk hari besar Islam, karena pada hari itu banyak terjadi peristiwa besar dan penting menurut beberapa riwayat yang dialami para Nabi dan Rasul untuk bisa diambil i’tibar pelajaran bagi kehidupan umat islam yang lebih baik.

Semestinya i’tibar pelajaran itu yang menjadi tujuan pokok dan ibadah bisa diamalkan sesuai dengan dalil yang jelas, bukan sisi tradisi ritual yang kadang ada yang sengaja dibuat sakral dan serem plus wingit dengan maksud tertentu. Ada sebagian orang yang memperingati sepuluh Muharram dengan mengedepankan show of force, unjuk gigi banyaknya jamaah pengikut amalan-amalan tengah malam yang kadang tidak sadar itu termasuk ranah “Al Ghuluww” berlebihan dalam hal agama bentuk mujahadah sampai menjelang Subuh. Sehingga ketika pulang ke rumah masing – masing sudah dalam kondisi lelah dan ngantuk yang menyebabkan bangun terlambat sampai jam sembilan pagi padahal belum sholat Subuh.

Hingga ada guyonan Sholat Subuh kok jam 9 pagi, itu harus merubah niat dengan :”Usholli fardhoshshubkhi kawwaanan lillahi aala. Kawwanan artinya kesiangan.

Selain perintah berpuasa tanggal sembilan dan sepuluh berdasar hadis yang shahih serta menyantuni anak yatim yang jelas dasar dan manfaatnya, baiknya peringatan hari itu dipakai untuk majelis Ilmu dengan mengambil pelajaran dari beberapa kisah para Nabi dan Rasul yang menurut riwayat terjadi pada hari itu seperti:

Nabi Adam bertobat kepada Allah dan diterima tobatnya sehingga bersih dari dosa dan kesalahan.

Disebutkan dalam surat Thaaha 121:” Dan durhakalah (maksiat) Adam kepada Tuhannya dan sesatlah ia” “Ashoo” di sini bukan arti maksiat dalam pengertian umum, karena Adam adalah termasuk Nabi yang tidak mungkin maksiat kepada Allah.

Ini adalah bentuk sighot mubalaghoh atau gaya bahasa hiperbola, membesarkan berita kecil. Nabi Adam melanggar larangan Allah itu tidak ada unsur sengaja lantaran godaan Iblis dalam masalah kecil yakni tidak boleh mendekati Syajarotul khuldi, pohon kuldi.

Namun karena tingginya derajat Adam maka kesalahan kecil itu diberitakan besar, hingga ada ungkapan “Al khothoushoghiiru yusta’dhomu minal kabiiri” Kesalahan kecil akan dianggap besar kalau yang melakukan adalah orang besar. Contoh: Anak kecil kencing sambil berdiri di pinggir jalan, mungkin orang melihat akan memaklumi, tapi kalau yang kencing pinggir jalan sarnbil berdiri itu Pak Kyai? padahal sama-sama kencingnya, tapi karena beda pelakunya maka jadi lain beritanya.

Untuk itulah, pelajaran kita sebagai orang tua apalagi Kyai, Nyai dan siapapun untuk berhati-hati terhadap “kesalahan” walau kecil karena itu akan menjadi berita yang besar bagi yang membacanya. Dan bisa jadi orang akan menirunya.

Kisah Nabi Yunus seperti yang dijelaskan dalam Alquran surat Al Anbiyaa 87-88 dan Ash Shaaffaat 139 – 148, yang khulashoh ringkasannya adalah… Nabi Yunus lari meninggalkan umatnya, kemudian naik kapal yang mau karam, terus diadakan undian yang akhirnya Nabi Yunus harus terjun ke laut, lantas dimakan ikan besar. Di dalam perut ikan besar itu beliau tinggal selama 40 hari 40 malam dalam kondisi gundah gulana, namun setelah Nabi Yunus menyadari kesalahannya. Allah lantas memerintahkan ikan besar itu untuk memuntahkan Nabi Yunus di suatu tempat, sehingga akhirnya Nabi Yunus kembali kepada umatnya untuk melanjutkan tugas dakwahnya.

Sebuah pelajaran, bahwa dalam dakwah tidak boleh ada kata “selesai” apalagi putus asa. Dakwah adalah sebuah kewajiban yang harus dijalankan tanpa akhir. Batas akhir dakwah adalah ketika Malaikat Izroil sudah bertugas mengembalikan nyawa kita kepada Sang Khaliq. Sebuah dakwah ketika sudah dilakukan sesuai kemampuan, maka gugurlah kuwajiban, tanpa memandang apakah dakwah itu berhasil atau tidak..

Orang akan tersesat atau mendapat hidayah itu adalah hak dan wilayah Allah Yang Maha Memberi Petunjuk. “Maka Allah akan menyesatkan orang yang Dia kehendaki, dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki” QS Ibrahim: 4.

Rasulullah SAW sendiri sampai akhir hayat tidak mampu mengajak menjemput hidayah Allah kepada orang yang sangat Beliau cintai yakni sang Paman Abu Thalib hingga sampai dinash dalam surat Al-Qashash 56. “Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendakinya”

Kata kuncinya adalah dalam berdakwah harus selalu punya semangat FIGHT bertempur, berlaga seperti Banteng terluka tentu dengan rambu-rambunya. Tanpa berfikir hasil, berhasil atau tidak dakwah kita, serahkan semuanya kepada Allah SWT. Dan kisah-kisah yang lain yang banyak terdapat di beberapa Kitab Tarikh seperti QASHASHUL ANBIYA’ dsb.

Maaf, karena tulisan ini bukan kajian sejarah, melainkan hanya sebuah catatan kecil, maka cukup sekian. Wabillahitaufiq wal hidaayah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *