Romantisme Kyai

by August 22, 2020

Kyai, ajengan, Tuan Guru dan sebutan lain adalah istilah untuk menggambarkan sosok panutan yang kaya pengetahuan agama serta menerapkan ilmu yang dipunyainya. Dengan segala keistimewaannya, kedudukan derajatnya serta kealimannya, kyai sering dipandang sebagai sosok yang berwibawa, hingga ada sementara orang yang menganggapnya sebagai sosok yang “suci” beda dengan kebanyakan orang, termasuk dalam kehidupan rumah tangganya. Anggapan tersebut bisa jadi “benar” dalam kacamata sebagian orang yang tidak mengenal sosok kyai secara dekat, dan menjadi anggapan yang salah bagi mereka yang mempunyai kedekatan dengan kyai.

Di kalangan pesantren, dikenal istilah santri “ndalem” yang secara sukarela membantu semua kebutuhan kyai. Santri-santri dengan jenis ini, biasanya mengharap “barakah” lebih dari santri kebanyakan yang hanya menyerap ilmu sang kyai. Keuntungan santri “ndalem” disamping mendapat fasilitas cuma-cuma dari kyai dan keluarganya, adalah kesempatan untuk merekam “haliyah” kyai yang diikutinya yang hal itu tidak dapat dirasakan oleh santri kebanyakan, termasuk dalam hal ini adalah tentang kehidupan kyai dengan istri kyai.

Dari informasi santri ndalem inilah, akhirnya dapat diketahui jika sebenarnya kyai juga manusia dengan segala problem dan romantika kehidupannya. Informan-informan “kepercayaan” ini sering juga mentransfer apa yang mereka ketahui kepada santri-santri lainnya, sehingga apa yang dilakukan kyai menjadi  cerita menarik, meskipun tetap dalam batas-batas kesopanan yang ada (kayak lagu dangdut ya?) hehe…

I Love You

Kalimat di atas, umumnya diucapkan oleh kalangan muda untuk mengungkapkan perasaan cinta kepada pujaan hatinya. Tapi hal ini tidak berlaku bagi seorang kyai di salah satu pesantren besar di kota pelajar. Terceritakan (qiila) bahwa suatu ketika dalam suasana kyai mengkoordinir santri untuk ro’an (kerja bakti) yang diikuti oleh semua santrinya, khususnya santri ndalem. Kyai tersebut, tanpa diduga oleh sang istri yang saat itu menyiapkan konsumsi dan suguhan untuk para santri yang ikut kerja bakti, serta merta sambil berjalan santai, memanggil istri beliau “Syim, Syim” sontak sang istri menghampiri kyai dan bertanya, “wonten nopo pak” (ada apa pak?). kyai tersebut kemudian ngendika (menjawab) pertanyaan istri. “I Love You”. Sontak sang istri tersipu malu, dengan wajah memerah ia  mencubit lengan sang kyai dan bilang “nopo-noponan to bapak niki? ”apaan-apaan toh pak?”. Mendapati reaksi sang istri, sontak kyai tersebut tertawa sekencang-kencangnya, sehingga didengar semua santri. Hehehe.

Kamu kok diam saja?

Lain halnya dengan kyai yang sebelumnya diceritakan, bukti perhatian dan romantisme kyai juga diwujudkan dalam perhatian yang luar biasa. Terceritakan, bahhwa suatu ketika saat seorang kyai melaksanakan ibadah haji bersama sang istri, kyai berpesan kepada istrinya. “Nanti ketika sedang di depan Ka’bah, khusyuklah saat berdoa”.  Benar saja, saat sampai di depan Ka’bah, sejak saat sampai hingga sekian lama, sang istri diam tidak berbicara selain berdoa”.  Mendapati istrinya yang demikian, kyai kemudian bertanya “ da, kok kamu diam saja, kamu sakit ya?”. Isterinya kemudian menjawab “lho. Kan tadi bapak yang ngendiko (bilang) jika berdoa yang khusu’ dan jangan banyak berbicara?” kata isterinya kebingungan. Mendapati jawaban demikian, Kyai kemudian bilang; “ bukan begitu, saya kan tidak mau kalau kamu sakit”. Mendengar dawuh kyai, sang isteri tidak bisa menyembunyikan wajah tersipunya. So sweet.

Romantisme kyai yang bersanad

Dua contoh romantisme yang dipraktekkan dua kyai di atas ternyata bukan tanpa sebab. Artinya, bahwa romantisme kyai ternyata bersanad muttashil hingga kepada Rasulullah SAW. Dalam beberapa riwayat, disebutkan bahwa  sikap dan mu’asharah Rasulullah kepada para isterinya dapat dibilang sebagai contoh ideal suami isteri.

Di antara contoh romantisme Rasulullah terhadap isteri-isterinya adalah adanya sebuah riwayat yang menyebutkan bahwa beliau pernah minum di hadapan sayyidah Aisyah di gelas dan bekas bibir aisyah ketika minum. 

Dalam riwayat lain juga diceritakan, bahwa dalam sebuah perjalanan, Rasulullah saat itu berkendara dengan isteri beliau Shafiyyah binti Huyai RA. Tiba-tiba Rasulullah SAW dan isteri beliau terpeleset, melihat demikian shahabat Abu Thlahah kemudian berniat menolong Rasulullah SAW, serta merta Rasulullah SAW bersabda “bantulah isteriku terlebih dahulu”.

Romantisme yang diajarkan oleh Rasulullah SAW ini, sebagai wujud implementasi hadis beliau yang berbunyi:

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang paling baik terhadap keluarganya. Sebaik-baik kalian adalah orang-orang yang berakhlak mulia terhadap istri-istri mereka.” (HR Tirmidzi).

Jika demikian, maka dari romantisme yang dicontohkan kyai yang bersanad hingga kepada rasulullah SAW di atas, sebagai santri dan ummat kanjeng nabi, Sudah semestinya kita ittiba’ kepada Nabi dan Pewaris Nabi. Wallahu A’lam bish Shawab.

KH. Hasan Suaidi, M.Ag, Katib Syuriah PCNU Kota Pekalongan dan Dosen IAIN Pekalongan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *