Santri Mengabdi untuk Negeri

by October 9, 2020

Kaum santri adalah bagian integral yang tidak dapat dipisahkan dari Indonesia. Ketika membaca sejarah, kita akan menjumpai bahwa para kyai dan santri merupakan pasukan garda terdepan yang membela kemerdekaan negara kita. RA Kartini, sosok pejuang emansipasi wanita, Jenderal Soedirman yang selalu menjaga wudlunya, maupun KH. Hasyim Asy’ari, sang pencetus resolusi jihad, pengobar semangat para santri dan masyarakat dalam  peristiwa 10 November 1945 yang kini dikenang sebagai Hari Pahlawan. Dan masih banyak lagi kisah para kyai dan santri yang turut berjuang demi kemerdekaan NKRI. Tidak berhenti di situ, setelah merdeka pun kaum santri tetap berdedikasi untuk ibu pertiwi. Pesantren sebagai tempat pendidikan bagi santri, tidak hanya  mentransferkan ilmu pengetahuan semata, namun juga sebagai tempat character building yang kelak dibutuhkan untuk membangun negeri tercinta. Bahkan, di era pandemi ini, menurut Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK), Muhadjir Effendy, dalam acara Webinar Arah Pendidikan Selama Pandemi Covid-19: Fenomena Normal Baru di Luar Negeri, Jumat (12/6), menyatakan bahwa pesantren digadang sebagai contoh pembukaan sekolah di era new normal.

Namun,  tahukah anda dari mana kata “santri” itu berasal? Salah satu versi mengenai asal usul istilah santri”, seperti dikutip dari buku Kebudayaan Islam di Jawa Timur: Kajian Beberapa Unsur Budaya Masa Peralihan (2001) karya M. Habib Mustopo, mengatakan kata santri” berasal dari bahasa Sanskerta. Istilah santri”, menurut pendapat itu, diambil dari salah satu kata dalam bahasa Sanskerta, yaitu sastri yang artinya “melek huruf” atau “bisa membaca”. Versi ini terhubung dengan pendapat C.C. Berg yang menyebut istilah santri” berasal dari kata shastri yang dalam bahasa India berarti “orang yang mempelajari kitab-kitab suci agama Hindu”. Jadi, tidak islami, dong? Mungkin kalimat itu yang terdengar jika kita berhadapan dengan golongan yang suka berpikir kritis, tapi sedikit over, sih. Pendapat di atas memang menyebutkan bahwa kata “santri” tidak berasal dari bahasa Arab,  namun tidak semua yang bukan berasal dari bahasa Arab itu tidak Islami. Perlu kita ketahui bahwa Islam itu bukan budaya, namun berbudaya. Islam dapat diterima di Indonesia dengan mudah karena mampu menyesuaikan dengan kebudayaan masyarakat setempat tanpa menghilangkan substansi dari Islam itu sendiri.

Di zaman sekarang ini banyak sekali orang tua yang kurang berkenan memasukkan anaknya ke pesantren. Mereka ingin menjadikan anak-anaknya seorang pegawai negeri atau seorang yang mampu berkarir di era digital ini. Alasan tersebut seolah-olah memberikan stigma buruk terhadap dunia pesantren. Seolah-olah, alumni pesantren tidak mampu bersaing di dunia global.  Padahal, seorang santri ketika di pesantren selain menimba ilmu agama juga dibekali berbagai keahlian yang kelak dibutuhkan di masyarakat. Seorang santri harus mengabdikan diri pada kyai dan pesantrennya, baik dengan memasak, bercocok tanam, menjadi sopir dan masih banyak lagi. Hal ini akan melatih jiwa wirausaha para santri dan diharapkan kelak ketika telah keluar dari pesantren dapat menciptakan usaha sendiri serta tidak bergantung pada orang lain. Seperti yang kita ketahui bahwa pada masa sekarang, mencari pekerjaan tidaklah mudah. Dan solusi terbaik adalah menciptakan pekerjaan. Ketika seorang santri telah memiliki bekal ilmu dan keahlian maka mereka akan siap sewaktu diterjunkan ke masyarakat. Jadi, beneran nggak mau nyantri?

Penulis: Muhammad Nasruddin, berasal dari kota Wonogiri. Sekarang tengah menimba ilmu di Pondok Pesantren Sunan Pandanaran, Yogyakarta sambil menempuh pendidikan tinggi di sana, yakni di STAI Sunan Pandanaran.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *