Santri, Pesantren dan Entrepreneurship

by December 12, 2019

Entrepreneurship atau kewirausahaan merupakan hal yang bukan asing lagi bagi kita semua. Dan di era MEA ini profesi entrepreneur semakin menjadi tren di kalangan masyarakat dikarenakan memiliki banyak kelebihan dibanding profesi yang lain. Contohnya jika seseorang berprofesi sebagai Aparatur Negara maka ia hanya akan mendapatkan manfaat keuangan secara individual saja sedangkan dengan menjadi entrepreneur seseorang bisa menguasai ekonomi, turut andil besar dalam mengurangi jumlah pengangguran di Indonesia serta terbukti berjasa meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat.

Adapun untuk menjadi entrepreneur  setidaknya ada 4 modal dasar sikap mental yang harus dimiliki yaitu mandiri, berani mengambil resiko, etika dan etos kerja yang kuat. Dan kenyataanya empat sikap mental tersebut di atas sudah melekat pada jiwa seorang santri sebagai hasil proses pendidikan model pesantren yang ia terima sehingga bisa dikatakan bahwa setiap santri  sesungguhnya sangat berpotensi untuk menjadi entrepreneur handal. Tinggal pengembangannya saja.

Potensi Pesantren

Untuk mengembangkan potensi entrepreneurship santri diperlukan perhatian lebih dari pihak pesantren. Perhatian tersebut dinyatakan dengan perubahan kurikulum yang ada di pesantren. Jika selama ini  kurikulum yang bersifat keagamaan baik teori maupun praktek cenderung mendapatkan porsi yang begitu besar maka sudah waktunya pendidikan life skill  dalam hal ini entrepreneurship dimasukkan juga dalam kurikulum pesantren. Apabila  kurikulum pendidikan pesantren sudah memberikan ruang yang luas untuk itu maka para santri otomatis  akan mendapatkan kesempatan secara terbuka dalam  mengembangkan potensi dengan mendapatkan fasilitas mengikuti training-training maupun terjun langsung di dunia entrepreneur dengan tanpa ada hambatan berarti dari pesantren.

Sebagaimana yang tercatat oleh kementrian Agama setidaknya ada sekitar 28 ribu lebih pesantren di Indonesia. Santri yang masih aktif belajar di pesantren sekitar 4 juta jiwa tapi dari jumlah tersebut ternyata hanya 10 persen yang menjadi kader ulama dan guru agama. Lha trus yang 90 persen menjadi apa? Belum lagi dijumlahkan dengan para lulusan pesantren yang tentu sangat besar sekali. Dari data tersebut maka alangkah mantapnya jika 90 persen digarap secara serius untuk menjadi entrepreneur. Dan itu sangat selaras dengan 3 pilar NU yaitu kebangsaan (nahdlatul wathon), pemikiran (taswirul afkar) dan pemberdayaan ekonomi (nahdlatut tujjar).

Pendidikan Entrepreneurship

Pendidikan entrepreneurship adalah bagian dari pendidikan life skill yang memang tidak hanya selaras dengan 3 pilar NU akan tetapi juga merupakan wujud dari pelaksanaan ajaran agama Islam. Diantara dalilnya adalah surat al-Furqon ayat 20 yang menyatakan bahwa para Nabi dan rasul tidak lepas dari aktifitas berniaga. Adapun dalil hadits tidak kalah banyaknya diantaranya dalam sebuah hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori Rasulullah Muhammad saw menyatakan bahwa sesungguhnya mencari nafkah yang paling mulia adalah mencari nafkahnya seseorang oleh (dari) tangannya sendiri.

Di pesantren yang memiliki lembaga pendidikan formal terutama  sekolah kejuruan sebagian besar sudah memberikan ruang untuk pengembangan jiwa entrepreneurship dengan menerapkan  pendidikan berbasis vokasi. Pendidikan berbasis vokasi adalah model pendidikan yang menitikberatkan pada kecakapan atau ketrampilan hidup peserta didik atau santri. Santri diajarkan berbagai ketrampilan sebagai skill dasar di berbagai bidang seperti tata busana, tata boga, okomotif dan lain sebagainya. Dengan penguasaan kecakapan hidup yang mumpuni maka santri akan mampu eksis dan bersaing dunia global ini.

Program Santripreneur

Oleh karena itu pesantren-pesantren yang belum memasukkan pendidikan enterpreneurship sudah semestinya segera berbenah diri dan menata ulang program pesantrennya. Sudah waktunya pesantren di Indonesia bangkit lebih tinggi dan menjalin kerjasama  dengan berbagai kalangan untuk memperjuangkan dan memperkuat pemberdayaan ekonomi pesantren, santri serta masyarakat secara luas. Dan gayungpun bersambut, karena melihat potensi pesantren yang demikian luarbiasa maka pemerintah melalui kementrian perindustrian juga sudah memberikan perhatianya dengan ditargetkankannya 18 pesantren yang akan menjadi percontohan program santripreneur pada tahun 2018. Semoga program santripreneur yang dicanangkan pemerintah bisa menjadi satu dari sekian inspirasi bagi 27.982  pesantren yang tersisa.

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *