Kaum Santri, Ujung Tombak Harapan Negeri

by September 10, 2020

Seorang santri sudah tidak perlu diragukan lagi menyangkut imtaq. Apalagi, dengan segala kemajuan dunia pesantren ilmu pengetahuan dan teknologi informasi sudah menyeruak secara gamblang. Sudah banyak prestasi yang ditorehkan santri, melanglang buana mulai tingkat nasional hingga mancanegara. Tidak berlebihan rasanya, jika mengatakan santri sebagai ujung tombak harapan negeri di tengah kecamuk berbagai permasalah. Mengapa demikian?

Tempaan pendidikan pesantren yang penuh disiplin “niat mondok untuk mengaji dan membina akhlakul karimah”, tentu akan senantiasa tertanam dalam diri seorang santri dimanapun bertempat. Santri ibarat ujung tombak yang terus diasah dalam pesantren, begitu kuat komitmen dan kejujuran saat menancapkan dirinya pada kebutuhan negeri.

Dari segi kepribadian, santri telah dididik menjadi pribadi dengan elektabilitas diri dan komitmen yang tinggi. Seorang santri memiliki suatu ciri khas tersendiri yang membedakan dari kelompok lain. Pertama, kemandirian, sejak dilepas secara ikhlas oleh orang tua dengan memasrahkan sepenuhnya pada kiai atau segenap elemen pesantren seorang santri memiliki jiwa kemandirian yang baik. Betapa ia harus mengatur keuangan sendiri, makan, minum, cuci pakaian, segenap pekerjaan keseharian diampunya dengan ulet dan penuh ketelatenan.

Faktor kedua kepatuhan, bahkan tanpa disuruh seorang santri akan menundukkan kepala tatkala ada keluarga pengasuh melintas atau lewat didepannya. Tidak heran, kalau sekembalinya pada masyarakat luas, santri dapat memposisikan diri mematuhi sekaligus mengatur pola kehidupan yang baik untuk lingkungannya.

Ketiga, budaya gotong royong dunia pesantren juga tidak lupa menjadi alasan kuat. Budaya asli bangsa Indonesia yang mulai tergerus dengan hadirnya pola individualisme, hedonisme, dan konsumerisme. Santri dapat mencuat lagi spirit gotong royong ini.

Dunia pesantren sebagai tempat tempaan santri memiliki budaya yang mengharuskan adanya titik berhubung (saling membutuhkan) sehingga membentuk gotong royong kuat. Kesamaan tujuan yaitu menimba ilmu dengan kondisi sama sama jauh dari orang tua telah membentuk untuk saling bahu membahu dalam mengatasi berbagai permasalahan yang dihadapi.

Indonesia membutuhkan jiwa-jiwa yang mampu saling membantu, bergotong royong demi kemajuan bersama, terlebih saat ini masyarakat semakin berpikir bahwa dengan kekayaan sumber daya alam mereka yang banyak bisa menjamin kemajuan negara, padahal tidak. Karena hakikatnya bangsa yang maju ditentukan oleh intelektual yang dimilikinya.

Lebih jauh, santri memiliki peluang begitu besar untuk terjun langsung mengabdikan dirinya kepada negara. Obat mujarab yang dapat meredam segala sakit yang tengah diampu negeri akan mampu ditawarkan oleh sosok seorang santri. Keterlatihan jiwa dan spiritnya sejak berada di dunia pesantren tidak perlu diragukan lagi.

Banyak hal yang dapat ditawarkan kaum santri yang relevan dengan kebutuhan negara saat ini. Spirit hari santri sebagai bentuk memutar ulang ingatan bahwa zaman penjajah dahulu kyai dan para santri berada pada garda terdepan dalam merengkuh kemerdekaan Indonesia.

Maka kini, melalui kesadaran bersama kaum santri harus mulai bangkit membangun tatanan kenegaraan, budaya, ekonomi, dan Pendidikan demi memunculkan kembali warisan spirit yang telah dicontohkan oleh para pendahulu kaum santri. Santri secara sadar dan beralasan harus terus giat memperbaiki kualitas, kredibilitas dan elektabilitas.

*) Penulis: Muhammad Afnani Alifian, Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Islam Malang, alumni Pondok Pesantren Nurul Jadid

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *