Santriwati Merdeka Dari Marginalisasi Bangkit Dengan Kemandirian Ekonomi

by October 19, 2020

Kemandirian pesantren dalam pengelolaan ekonomi merupakan andil dan bantuan nyata bagi perekonomian negeri, terlebih jika pengelolaan ekonomi pesantren juga membuahkan dampak positif bagi ekonomi masyarakat di luar pesantren. Salah satunya dengan menghasilkan para alumni yang mampu membuka peluang usaha dan melek ekonomi. Sangat disayangkan perhatian mengenai pembangunan ekonomi negeri, sebagaimana persoalan penting lainnya, seringkali masih berstigma timpang geder dan hanya dicurahkan kepada laki-laki.

Pesantren sebagai wadah pendidikan diharapkan membekali para santri dengan kemampuan dan keilmuan yang cukup dan sama rata tanpa adanya timpang gender. Pada realitanya justru banyak ditemukan perempuan yang dilahirkan rahim pesantren berakhir sebagai ibu rumah tangga yang tidak melek keadaan ekonomi negeri. Hal ini merupakan akibat kurangnya pendidikan berbasis kewirausaaahaan dan stigma yang masih mengakar di masyaraat bahwa wanita lebih baik hanya mengurus urusan domestik rumah taangga saja.

Padahal alangkah lebih baik jika para alumni santriwati yang memilih menjadi ibu rumah tanga juga dapat membantu perekonomian negeri dengan membangun perekonomian mandiri seperti membuka usaha dari rumah. Hal tersebut dapat dicapai dengan pembekalan berbasis kewirausahan kepada santriwati saat berada di pesantren, pengajaran praktik pengelolaan perekonomian yang baik, penumbuhan jiwa yang melek dan sadar ekonomi serta dorongan semangat dan kepercayaan diri dan motivasi kemauan agar tidak tetinggal akibat ketimpangan stigma gender.

Pembekalan berbasis kewirausahan dapat dilakukanĀ  dengan menumbuhkan ide-ide dan keatifitas santriwati sebagai modal dasar pembukaan usaha yang jika dikelola dengan baik dapat menyediakan lapangan pekerjan bagi msyarakat. Sifat lembut, ketelatenan dan mencintai keindahan yang dimiliki perempuan menjadi nilai tambah agar para santriwati alumni bisa membuka usaha di berbagai bidang seperti usaha di bidang garmen, kuliner, dekorasi dan lain sebagainya. Pembekalan kemampuan bada bidang-bidang tersebut harus disertai dengan latihan pengembangan bakat sehingga para santriwati mampu melahirkan produk-produk yang layak jual di masyarakat.

Pembekalan dan pelatihan kemampuan saja tidak cukup. Para santiwati perlu diberikan pegetahuan mengenai praktik pengelolaan perekonomian sesuai target lapangan di luar pesantren, ini dapat dicapai salah satunya denganĀ  mendorong daya literasi santriwati dengan mengajarkan kemampuan membaca, baik membaca pengetahuan ekonomi dan pengelolan dari buku-buku maupun membaca kondisi ekonomi yang ada di tengah masyarakat secara langsung.

Kemampuan literasi untuk membaca kondisi ekonomi mengartikan harus adanya kesadaran dari masing-masinng individu santriwati dan keharusan melek akan keadan ekonomi di masyarakat. Dengan demikian santriwati dapat mengetahui dan meganalisis peluang ekonomi yang dibutuhkan di daerahnya dan perkembangan ekonomi seperti apa yang dapat diupayakan di daerah terebut.

Semua upaya, pembekalan dan pelatihan tersebut akan membnatu para alumni santiwati kelak menjadi perempuan yang mampu membangun ekonomi mandiri, bahkan dengan pengelolan yang baik mereka dapat menjadi penyedia lapangan pekerjaan di masyarakat sehingga mengurangi angka pengangguran di Indonesia. Namun semua itu hanya akan berhasil dengan adanya kemauan, semangat dan kepercayaan diri dari dalam individu masing-masing santriwati.

Di tengah masyarakat kepercayaan diri perempuan semakin diuji dengan masih beredarnya stigma di masayarakat yang memarginalkan perempuan dalam urusan usaha. Maka pembekalaan pengetahuan mengenai keadaan dan posisi perempuan di tengah masyarakat juga perlu diberikan, dengan begitu para santriwati telah mengetahui dan siap secara mental menghadapi perlakuan masyarakat, sehingga menjadi perempuan tangguh yang dapat mengubah cara pandang yang timpang gender dan memerdekakan para perempuan lainnya dari margnalisasi agar lebih bebas dalam mengambil peran dan andil mengembangkan ekonomi mandiri sebagai salah satu bentuk kemandirian ekonomi membantu negeri.

Penulis, Alifatul Lusiana Uswatun Chasanah, Alumni Ponpes Modern Al-Muttaqien Balikpapan saat ini kuliah di UIN Sunan Ampel Surabaya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *