Sayur Asem Istriku

by December 7, 2016

Komar terdiam. Kesal dan rindu campur aduk di dalam hatinya. Lulu, istrinya belum ada di rumah saat ia pulang. Seperti biasanya, saat istirahat siang ia menyempatkan diri untuk pulang ke rumah kontrakannya untuk makan siang. Akan tetapi, raut muka berubah ketika membuka penutup nasi. Sayur asem, sambal dan tempe goreng sudah menghiasi isi kepalanya hilang seketika. Semenit sebelumnya bayangan itu tergambar manis sekali, sayur asem yang hangat berpadu dengan nasi panas dilengkapi dengan tempe goreng dan sambal tomat. Lidah Komar semakin bergoyang ketika ia membayangkan menu favoritnya itu hadir di hadapannya. Mendadak, bayangan itu hilang ketika sesampainya di rumah. Istrinya belum sempat memasak apapun hari itu. Jangankan sayur asem, nasi pun belum ada.

Jam dindingnya sudah menunjukkan pukul setengah satu, tapi istrinya belum ada di rumah. Dari pagi sampai siang Lulu mengajar di sebuah sekolah dasar di dekat kontrakannya. Pukul satu siang, Lulu baru saja sampai di rumah satu setengah jam lebih lambat dari biasanya.

“Assalamu’alaikum…”

“Wa’alaikum salam” Jawab Komar.

“Sudah pulang abi,?” Tanya Lulu, abi adalah panggilan kesayangnnya. Dari bahasa arab yang artinya bapakku.

“Belum, istirahat siang. Nanti masih masuk lagi”. Jawab Komar lirih. Tidak sekeras biasanya.

“Maaf ya, aku belum sempat masak. Tadi ada rapat di sekolah, rapat perpisahan akhir tahun, jadi pulangnya agak telat. Abi mau makan sama apa? Nanti aku beli ke warung depan”.

“Apa saja, yang penting ada sayur dan sambal”. Jawab komar singkat

Semenit kemudian, Lulu bergegas pergi ke warung makan terdekat, untuk membeli dua bungkus nasi beserta lauk pauk. Nyanyian merdu dalam perutnyalah yang memutuskan Komar tidak memilih menu apapun hari ini. Menu apapun akan menjadi nikmat ketika makan dalam keadaan lapar. Benar bila Nabi SAW berpesan, makanlah setelah lapar, dan berhentilah sebelum kenyang. Komar sudah mengamalkan pesan itu sejak kecil. Keluarganya adalah keluarga yang pas-pasan. Ketika ibunya tidak memiliki uang yang cukup, maka ia harus menahan lapar meskipun jam makan siang sudah lewat dan ia harus rela membagi porsi makan dengan dua adiknya. Ayahnya meninggal sejak Komar masih kecil. Ibunya harus bekerja keras menghidupi Komar dan dua adiknya dengan cara apapun. Kadang sebagai buruh cuci, kadang sebagai kuli masak di sebuah warung makan. Ekonomi makin membaik ketika ibunya memberanikan diri membuka warung makan sendiri. Walau warungnya kecil, tapi tidak pernah sepi dari pengunjung. Menu andalan yang jadi favorit pelanggan adalah sayur asem. Hal inilah yang menjadi kerinduan masa kecil Komar yang enggan beranjak ketika ia dewasa. Meskipun sang ibunda telah meninggal dunia beberapa tahun silam.

Hari ini komar gagal makan siang dengan sayur asam lagi. Sudah beberapa hari ini ia ngidam sayur asem. Ia pernah mencicipi sayur asem di warung makan dekat tempat kerjanya, tapi rasanya berbeda dengan buatan ibunya. Menurutnya tak ada sayur asem seenak buatan ibunya yang memang asli Jakarta.

Setelah menikah ia pindah ke Purworejo, karena memang tugas kerjanya mengharuskan ia tinggal disana untuk beberapa lama. Baru dua bulan ia tinggal tapi rasanya sudah bertahun-tahun. Potret Lulu yang ia kenal sebelum menikah ternyata berbeda dengan yang ia kenal setelah menikah. Ada beberapa hal yang sedikit mengganggu kebiasannya. Terkait dengan latar belakang Lulu yang sejak kecil dibesarkan di daerah Jawa Tengah.

Komar tidak biasa makan diluar, ia biasa makan masakan buatan ibunya yang terkenal pintar memasak di kampungnya. Bahkan ibunya kerap kali diundang memasak di acara hajatan di kampung. Masakan ibunya memang terkenal dapat menggoyang lidah lewat masakan yang dibuatnya. Tak heran beberapa orang dibuatnya ketagihan apabila lama tidak mencicipi masakan buatan ibunya termasuk Komar, anaknya.

Komar mengenal Lulu ketika ia ditempatkan di Jogja untuk beberapa bulan. Pribadi yang santun, berpendidikan, membuat Komar menaruh perhatiannya kepadanya. Ditambah lagi Lulu selalu memakai jilbab panjang yang hampir menutupi tubuh bagian atasnya. Tidak butuh waktu lama bagi Komar, satu bulan cukup untuk meyakinkan Lulu bahwa Komar akan melamarnya bulan depan. Dua puluh sembilan tahun umurnya, umur yang cukup untuk membina sebuah rumah tangga.

Awalnya semua baik-baik saja, sampai ketika Komar menyadari bahwa Lulu tidak pandai memasak. Apalagi ia tinggal di Purworejo, daerah yang memiliki ciri khas yang berbeda dengan daerah dimana ia dibesarkan. Disini makanannya cenderung manis, sampai ketika memesan minum di warung saja, pasti diberi gula. Ia pernah memesan segelas teh panas di sebuah warung, akan tetapi setelah dicicipi, teh itu ternyata teh manis, padahal ia tidak pernah memesang untuk diberi gula. Setelah tahu, ia memakluminya. Di daerah Jawa Tengah, kalau memesan teh tawar, harus ngomong terlebih dahulu. Kalau tidak, maka teh tersebut akan diberi gula. Kebalikan dengan di daerah Jawa Barat, kalau tidak ngomong teh manis, ya tidak akan diberi gula. Hal ini berbeda dengan dengan kebiasaan makanan yang biasa ia makan sejak kecil di Jakarta. Makanan khas Jakarta memiliki kecenderungan rasa asem dan pedas, tidak seperti di Jawa, makanannya cenderung manis dan gurih.

Lulu, istrinya adalah seorang yang dibesarkan di lingkungan Jawa Tengah. Dengan adat istiadat serta kebiasaan orang jawa. Termasuk tutur katanya yang halus dan sopan. Dan satu lagi masakan favorit orang jawa tengah, Gudek. Makanan dari nangka yang dimasak dengan menggunakan santan kental yang memiliki rasa manis dan gurih. Sekali dua kali mungkin Komar dapat menikmatinya, akan tetapi kalau setiap hari makan gudek terus, Komar lama-lama bisa bosan. Sementara istrinya hanya mampu memasak masakan itu saja. Mie instan bisa menjadi alternative terbaik, ketika kebosanan melanda lidah.

Sudah tiga hari ini, istrinya tidak memasak. Kadang kesibukannya sebagai tenaga pengajar menyita waktunya sehingga tidak sempat memasak, terutama ketika menjelang kenaikan kelas. komar tidak pernah marah, ia tidak ingin menyakiti wanita yang telah rela berbagi hati dengannya. Walau kadang ia pernah sedikit menyindir lulu ketika menu makan malamnya hanya berkisar antara telur ceplok dan telur dadar.

“Lulu,…” komar memanggil istrinya ketika ia membuka penutup meja makan.

“Iya, ada apa mas?”

“Kesini deh, sebentar…”

“Ada yang marah sama aku lho,”

“Siapa mas?” Tanya lulu penuh penasaran.

“Itu memolototin aku terus dari tadi.” Ucap komar sambil menunjuk dua buah telur ceplok yang kini menjadi menu makan malamnya.

Ihhh,…lulu menjawab sambil memukul gemas punggung suaminya

“Abi ingin sayur asem ya?“

“Nanti aku buatkan ya?” Tanya lulu, suatu hari setelah mengetahui bahwa suaminya sangat menggemari masakan asal sunda itu.

Hari itu adalah hari pertamanya mencicipi sayur asem buatan istrinya, sekaligus sayur asem yang tidak berasa asem, tetapi berasa manis.

“Bagaimana abi rasanya? Enak?”. Tanya Lulu

Komar hanya menyendokan sayur asem ke mulutnya. Ia terdiam.

“Enak kok”. Jawab Komar singkat kemudian melanjutkan makannya.

Komar tidak tega berucap kebanyakan gula, apalagi bilang bahwa ini sayur asem yang tidak asem, tapi manis. Ia tetap makan masakan istrinya, walau hanya setengah hati, tidak nambah seperti kalau Lulu membuatkannya Gudeg Jogja. Ia lalu bergegas memakai kaus kaki dan sepatunya, langsung kembali ke tempat kerjanya. Lulu memandanginya dari kaca kontrakkannya, ketika suaminya pergi ke tempat kerjanya. Walaupun suaminya tidak bicara, ia tahu kalau suaminya tidak begitu menyukai masakan buatannya. Sesaat kemudian kedua matanya mulai rembes. Perlahan kemudian menggenang.

Sesampainya di kantor, raut muka Komar tidak seperti biasanya. Terlihat ada raut kekecewaan di wajahnya. Iman rekan kantornya menyapanya

“Hai, kau kenapa Mar,…?”

“Ga kenapa-kenapa”.

“Masa sih…?” Tanya Iman penuh selidik.

”Ada masalah dengan istri?.”

“Tidak,…”

“Sudahlah tak usah kau pendam masalahmu sendiri, ceritakan saja padaku. Mungkin aku bisa bantu”. Pungkas Iman dengan logas khasnya.

Temannya yang satu ini memang tidak pernah terlihat pusing walaupun dikejar-kejar tumpukan berkas di mejanya. Tidak pernah ambil pusing dengan deadline yang selalu datang di akhit bulan. Ia selalu menganggap itu bagian dari resiko kerja yang harus ia hadapi.

“Istriku tidak pandai memasak. tidak seperti ibuku.” Akhirnya Komar buka suara.

“Haha,… Komar-komar, ternyata hanya seperti itu masalahmu. Kau sewa saja koki terkenal supaya bisa memasak sayur asam ala ibumu. Supaya kau bisa makan sayur asam setiap hari.” Canda Iman.

“Tidak mungkinlah aku menyewa koki, berapa banyak yang harus aku bayar.”

“Nah, itu kau tahu. Istrimu itu bukan seorang koki, bukan juga seorang tukang cuci. Kalau kau hanya ingin makan enak atau pakaianmu dicucikan, tak usahlah kau menikah. Cukup saja menyewa tukang laundry atau koki. Istrimu lebih berharga dari itu. Istrimu adalah ibu dari anak-anakmu. Penerus keturunanmu.”

“Istrimu hanyalah seorang perempuan biasa, bukan Khadijah maupun Aisyah. Ia butuh waktu untuk menyesuaikan diri. Istri solehah itu muncul justru saat setelah menikah bukan sebelum menikah, istri solehah itu dibentuk oleh proses adaptasi diri dengan sang suami.”

“Bisa dibayangkan dua orang yang berasal dari dua hal yang berbeda disatukan dalam satu bingkai yang bernama keluarga. Dua yang memiliki kebiasaan berbeda, dibesarkan dalam lingkungan yang berbeda, bahkan dari latar belakang yang berbeda. Tidak menutup kemungkinan bila, kadang terjadi kesalahpahaman atau pertengkaran.  Tapi itulah dinamika berumah tangga, seorang istri butuh proses untuk memahami karakter suaminya, begitu pula seorang suami membutuhkan waktu untuk memahami istrinya. Bila keduanya memiliki kemauan yang kuat, maka keluarga sakinah, mawaddah wa rahmah akan segera terwujud.”

Walau sering ngelantur dan ngawur untuk kali ini, Iman benar. Rekan kerjanya kali ini memberi nasehat yang tepat. Semuanya butuh proses. Ia harus bersabar menunggu. Menunggu gula di sayur asemnya berkurang. Sayur asem yang terasa asam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *